Beberapa minggu lalu, sebuah tawaran datang ke sebuah milis. Tawarannya adalah menjadi trainer komputer bagi para anggota TNI yang akan berangkat ke Lebanon, dalam rangka peace keeping force atas nama PBB di sana. Saya tanggapi tawaran itu, dan saya langsung japri ke si pengirim yang kebetulan kerja di Microsoft Indonesia. Saya kira saya sudah orang ke sekian yang mendaftar jadi sukarelawan, ternyata saya baru satu-satunya. Tawaran ini juga dikirimkan ke milis MUGI (Microsoft User Group Indonesia). Meskipun banyak semangat di sana, tapi hanya satu dua yang menyambut.
Karena keadaannya seperti itu, saya langsung ditunjuk jadi team leader para trainer. Tugas saya yang pertama tentu saja adalah rekrutmen trainer. Hingga sampai ke tanggal batas terakhir rekrutmen, tidak ada kejelasan dan ketegasan dari anggota milis MUGI tentang siapa yang akan bergabung. Akhirnya saya diberi kebebasan untuk menentukan siapa saja yang akan ada di dalam tim. Saya telpon beberapa orang, juga kirim email ke mailing list Kopertis-IV tentang ini. Sungguh menggembirakan, dalam satu hari itu saya menerima banyak sekali permintaan. Dalam waktu relatif singkat tim terbentuk. Bahkan malam itu HP saya berdering hampir tiap 15 menitan sekali dan menerima beberapa SMS. Saya terpaksa menolak karena jumlah trainer sudah cukup.
Dalam persiapannya, saya sebagai team leader melakukan koordinasi via email dengan CC ke para trainer tadi. Proses ini berjalan sekitar semingguan, pada proses itu beberapa trainer mengundurkan diri, diganti baru, lalu ada lagi yang mengundurkan diri. Ini terjadi sampai beberapa hari menjelang hari H. Akhirnya jumlah anggota tim yang pasti berangkat adalah 8 orang. Ke delapan orang inilah saya melakukan koordinasi via email secara intensif tiap hari, bahkan tiap saat ada perkembangan baru. BTW: materi komputer yang akan disampaikan adalah seputar Microsoft Windows, Microsoft Office, Email, dan Messenger.
Informasi awal cukup membuat saya membayangkan beberapa hal. Katanya, pelatihannya di hanggar Halim Perdanakusumah, tidak pakai kursi, tapi para peserta duduk di lantai. Saya juga membayangkan betapa akan ramai situasinya karena jumlah pesertanya adalah 103 orang. Termasuk, keingintahuan saya, seperti apa laptop yang dimiliki tentara? Apakah military-grade? Ya memang katanya 103 orang tentara ini akan membawa bekal laptop ke Lebanon sana. Selain itu, peralatan yang disediakan, katanya adalah dua buah proyektor, pengeras suara, dan sebuah komputer. Tapi ketika sampai di lokasi, semua gambaran itu buyar, karena tidak seperti yang dibayangkan.
Semua rencana berubah begitu sampai di tempat pelatihan. Termasuk penataan kembali materi, penyingkatan waktu, cara interaksi, penghilangan beberapa poin pada materi, urutan penyajian, dan sebagainya. Tapi yang jelas, saya kira secara umum pelaksanaannya sukses. Masih banyak yang ingin saya dan rekan-rekan trainer sampaikan, tapi waktunya sangat tidak cukup. Untuk itu saya sudah meninggalkan alamat email saya. Kalau mereka ada masalah di sana, saya dan rekan-rekan sudah berkomitmen untuk membantu dari tanah air sini.
Hanya dua hari setelah pelatihan, mereka semua langsung berangkat. Saya temukan beberapa beritanya di sini, sini, dan sini.
Berikut ini adalah beberapa foto dari kegiatan itu :![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
Ditulis dalam Personal | Leave a Comment »
Dalam sejarah umat manusia, baru kali ini silent majority bisa mengaksentuasikan dirinya, dan ini adalah sebuah kontradiksi yang sangat menarik. Biasanya, silent majority hanyalah sebuah asumsi, atau sebuah klaim yang validitasnya sumir belaka. Tapi kali ini, kita bisa membayangkan sekurangnya ada satu juta klik, dan dibalik itu seorang optimis naif bisa membayangkan segerombolan massa; seorang oportunis mungkin berpikir tenang potensi massa yang ada untuk sebuah rekayasa; dan seorang pesimis boleh jadi berujar bahwa 1 juta itu hanyalah angka.
Pertama, ini menarik karena silent majority sebenarnya adalah bagian dari fenomena anonimitas massa yang merupakan hasil selisih dari jumlah populasi dengan mereka yang menyatakan pendapatnya dengan jelas. Wikipedia mendefinisikan silent majority sebagai :
“The silent majority is an unspecified large majority of people in a country or group who do not express their opinions publicly.”
Lalu apa yang bisa kita katakan bila di zaman ini kita bisa menyaksikan bahwa sejumlah besar orang itu memang memilih sesuatu, tapi kita tidak tahu persis apa pendapat mereka tentang yang mereka pilih ? Di sini saya melihat, bila sebelumnya silent majority dan vocal minority seolah-olah sifatnya merupakan distingsi hitam putih dari sebuah fenomena, dengan hadirnya Facebook, kita telah menyaksikan bahwa ternyata itu bisa tidak sesederhana lagi. Sebuah medium telah hadir dan memiliki potensi untuk menjembatani keduanya. Memang, bila boundary-nya adalah negara, maka silent majority akan selalu menjadi massa menempati proporsi yang paling besar, tapi kini kita bisa tergoda untuk mengatakan bahwa massa itu somehow punya jalan untuk mengaksentuasikan dirinya. Meski hanya berupa klik, dan tidak jelas sebenarnya; apa yang ada dibalik keputusan klik itu. Seolah, berkat Facebook distingsi keduanya: diffused.
Maka menjadi lebih menarik bagi saya ketika ternyata ada sejumlah orang melakukan demo dan spanduk yang mereka bawa bergambar logo Facebook. Kompas mengutip sebuah pedapat yang menurut saya tepat sekali: "Semacam eksperimen, seberapa efektif jejaring sosial. Apakah dari dunia maya bisa bertransformasi ke dunia nyata?" Lalu apa hasilnya ? Ternyata dari angka satu juta itu, sebuah laporan menyebutkan bahwa yang turun ke jalan hanya ratusan. Tentu saja kita tidak mungkin membayangkan satu juta persis akan tumplek ke jalan, tapi maksud saya, ini jadi afirmasi tak terelakkan bahwa di balik klik itu ternyata tetap saja ada sifat silent majority.
Lantas apakah kita akan serta merta mengatakan bahwa dibebaskannya Bibit dan Chandra itu karena dukungan para Facebookers ? Kalau kita jawab tidak, maka apa signifikansi angka itu ? Sekedar memberikan tekanan psikologis ? Yang jelas kita tidak bisa memastikan bahwa perubahan atau dinamika sosial dalam konteks ini bisa diasalkan pada galang pendapat pada ranah virtual itu. Saya tidak mengatakan apa yang virtual tidak mungkin menjadi pemicu dari yang sosial, justru saya ingin menggarisbawahi bahwa ini semua adalah sebuah eksperimen. Saya berpikir, signifikansi interaksi melalui internet akan dibuktikan dengan semakin banyaknya testimoni bahwa “yang virtual” ternyata bisa bertransformasi ke “yang sosial”.
Lalu seperti hal-hal lainnya, yang populer lalu menjadi trend. Soalnya sudah mulai bermunculan galang pendapat yang lain tentang masalah yang lain pula. Mungkin karena melihat ini semua, ada orang yang membuat sebuah parodi. Boleh jadi dia 100% berniat guyon dan jujur, tapi bisa jadi pula dibalik itu dia sinis berat. Orang ini membuat galang pendapat agar ada “Gerakan Semilyar Facebookers Dukung Bu Siti Markonah Jualan Pecel Lagi.” Di halaman itu tertulis : “Sejak warungnya digusur oleh pemda, yang diperkuat puluhan satuan pamong praja, Bu Siti Markonah yang lemah dan tak mampu melawan akhirnya terpaksa berhenti berjualan pecel. Padahal pecelnya yang enak dan murah sangat berarti bagi bapak-bapak tukang becak, ojek sepeda, pendorong gerobak sampah, dan penghuni pinggir rel yang membutuhkan tenaga untuk mencari seribu rupiah demi seribu rupiah, yang ironisnya, akan mereka gunakan untuk makan lagi keesokan harinya ………….” Siapa itu Bu Situ Markonah ? Siapa yang akan meng-klik-kan mouse-nya ?
Ditulis dalam Komputer / Internet | Bertanda internet | Leave a Comment »
Hampir satu minggu setelah saya ikut Workshop Inherent di Jakarta, saya putuskan untuk datang ke acara musyawarah nasional MUGI di Karang Tumaritis, Lembang (24-25 Oktober 2009). MUGI adalah singkatan dari Microsoft User Group Indonesia, sebuah brand community yang sekarang dari waktu ke waktu sedang getol melakukan roadshow tentang mulai dari product knowledge, tech update, tech skill penggunaan software, sampai ke pembentukan MUGI di tingkat regional. Motivasi saya datang ke acara ini sebenarnya hanya satu: apakah Microsoft memiliki solusi kepemilikan (atau “kepenggunaan” ?) software yang murah untuk mahasiswa ?
Sebenarnya saya sendiri sudah tahu sedikit banyak tentang adanya tawaran Microsoft untuk memajukan pendidikan dengan cara memberikan software gratis. Tapi apa yang saya ketahui tentang itu belum tegas benar. Setelah mengikuti acara ini, apalagi bertemu dan bicara langsung dengan orang Microsoft Indonesia yang ditugasi bagian academic, Pak Julius Fenata, saya baru mendapat pencerahan yang bisa memotivasi saya melakukan sesuatu. Ya, apalagi kalau bukan memfasilitasi mahasiswa agar software yang mereka gunakan tidak dikatakan sebagai bajakan.
Intinya adalah, Microsoft punya dua program untuk mahasiswa. Yang pertama adalah MSDN-AA (Microsoft Developer Network Academic Alliance), yang kedua adalah Dreamspark. Yang pertama, MSDN-AA, untuk bisa mendapatkan software dari Microsoft secara murah, sekolah harus mengadakan agreement dulu dengan Microsoft, melalui pembayaran sejumlah uang, tapi yang jumlahnya sangat jauh lebih murah daripada kalau harus membeli atau dengan cara lain. Dari agreement itu, lalu sekolah bisa mendistribusikan software-software yang sudah ditetapkan ke mahasiswanya. Di beberapa situs yang saya baca tidak ada penyebutan bahwa program ini adalah khusus untuk sekolah teknik atau yang berorientasi teknik (teknik apapun juga ?), tapi demikianlah penegasan Pak Julius. MSDN-AA tentu saja akan lebih mengena pada perguruan tinggi yang core study-nya adalah komputer.
Bagi saya kalau Microsoft memberikan solusi hanya untuk mahasiswa teknik, itu namanya tidak adil. Masih ada banyak mahasiswa yang studinya sama sekali tidak ada kaitannya dengan komputer, dan mereka sudah barang tentu menggunakan komputer dan software Microsoft (sekurangnya Windows dan Office). Untuk inilah, kata Pak Julius, program Dreamspark ditujukan. Tapi lagi, saya sampai sekarang belum menemukan informasi bahwa memang betul Dreamspark itu ditujukan untuk mahasiswa non-teknik. Alih-alih, saya malah menemukan bahwa software yang tercakup dalam Dreamspark itu adalah dari jenis yang sama sekali tidak akan bisa digunakan oleh mahasiswa non-teknik. Apakah misalnya kita bisa membayangkan seorang mahasiswa perhotelan atau mahasiswi keperawatan akan menggunakan Robotic Development Studio? Atau SQL Server 2008 for Developer? Ya bisa saja ada kemungkinan, tapi tentu secara umum tidak mungkin mereka akan punya kebutuhan untuk menggunakannya. Wikipedia sendiri mendefinisikan Dreamspark sebagai :
DreamSpark is a program set up by Microsoft to provide students with software design and development tools at no charge.
Dikatakan dengan tegas di situ bahwa software-nya adalah yang bersifat design and development tools, tapi saya masih ingat Pak Julius mengatakan bahwa untuk mahasiswa non-teknik bisa menggunakan Dreamspark. Bagaimana ini?
Ternyata solusinya sudah terbayang oleh saya, tapi ya karena belum saya konfrontasikan maka saya sendiri belum yakin benar. Salah satu software di Dreamspark adalah Windows Server 2003 (atau 2008). Bukankah kita bisa memasang software ini dan kita memperlakukannya sekedar sebagai workstation? Artinya, fitur server-nya tidak digunakan. Saya coba search, ternyata malah ada usaha untuk mempreteli sistem operasi ini sehingga hanya bekerja sebagai workstation saja. Kalau sudah begini, bukankah solusi untuk operating system sudah ada? Maksud saya, mahasiswa-mahasiswa non-teknik bisa kita sarankan untuk menggunakan Windows Server 2003, dengan memperlakukannya sebagai workstation saja. Soal mau ada modifikasi atau mempreteli komponen OS ini sehingga menjadi lebih streamlined atau fitur servernya benar-benar dihilangkan, itu urusan nanti. Yang jelas, untuk keperluan OS, mahasiswa non-teknik sudah ada solusinya.
Sekarang, bagaimana dengan keperluan untuk office software? Bukankah sebenarnya yang diperlukan oleh mahasiswa paling mendasar adalah OS dan office software? Kalau mau pakai Microsoft Office nampaknya tidak mungkin. Dreamspark tidak menyediakan software ini. Sebagai gantinya, apalagi kalau bukan Open Office yang gratis itu? Dengan demikian skenario penggunaan software secara legal untuk mahasiswa non-teknik adalah Open Office yang berjalan di atas OS Windows Server 2003 (atau 2008).
Saya sendiri merasa harus mencobakan keduanya secara langsung, baru saya akan umumkan ke mahasiswa. Sekurangnya saya bisa melakukan itu dalam lingkungan virtual dan sekaligus menginstal beberapa program populer lain untuk melihat seberapa normal program-program tersebut bisa berfungsi. Sementara itu sekarang saya dalam proses untuk inisiasi Dreamspark. Caranya ternyata gampang sekali. Tinggal mengumpulkan nama mahasiswa, NPM mereka, alamat email, dan dikirimkan ke Pak Julius.
Bagi sementara kalangan, barangkali solusi software untuk mahasiswa non-teknik adalah dengan Linux. Itu betul sekali, dan saya 100% setuju. Tapi masalahnya adalah untuk pindah ke Linux itu sangat sulit. Bukan saja soal mindset, tapi banyak mahasiswa sudah terlanjur familiar dengan user interface-nya Windows yang mereka gunakan (dan sebagian besar, bukan rahasia lagi, adalah yang bajakan). Windows Server 2003 masih ber-user-interface Windows yang familiar itu, sehingga ini bisa memecahkan masalah pilihan OS. OK, jelas akan ada masalah dalam hal penggunaan Open Office karena itu berpenampilan ‘agak beda’ dengan Office-nya Microsoft. Akan tetapi sekurangnya sebagian masalah sudah terselesaikan (dalam hal OS-nya). Soal familiarisasi Open Office, itu adalah sebuah PR yang harus kita kerjakan nanti, tapi yang jelas secara keseluruhan sudah ada konsep untuk solusi penggunaan software legal, khsusunya untuk mahasiswa non-teknik.
Saya akan menulis lagi tentang ini, terutama pengalaman saya menginstal Windows Server 2003, Open Office, dan beberapa program populer lain yang banyak digunakan mahasiswa.
Ditulis dalam Education, Komputer / Internet | Bertanda software | Leave a Comment »
Saya tulis ini setelah beberapa saat ada di Bandung. Barangkali akan kurang bisa menangkap detil, tapi sebagian besar saya masih ingat. Di hari kedua inilah semua yang inti dikemukakan, meski sebenarnya terlalu banyak. Ada yang tidak terlalu langsung berkaitan tapi ditampilkan. Bukankah ini adalah kumpulannya orang-orang Pusat Komputer di perguruan tinggi yang sebagian besar berminat untuk hal-hal yang teknis ? Lagian, judul pertemuan ini adalah workshop, tapi bagi saya ini lebih sebuah seminar, atau sekurangnya semiloka.
Sesi pertama diskusi panel pagi itu diawali dengan presentasi dari Direktur Akademik Dikti, yang diwakili oleh sekretarisnya. Dari judulnya, saya sudah membayangkan relevansi Inherent : “Pemanfaatan Jardiknas dalam Mendukung Program EPSBED (Evaluasi Program Studi Berbasis Evaluasi Diri)”, tapi sejauh yang saya dengar, uraian lebih banyak tentang EPSBED-nya sendiri. Lalu presenter kedua masih di sesi yang sama adalah sekretaris Ditjen Dikti, yang membawakan “Pemanfaatan Lapker Online untuk Perguruan Tinggi”. Persisnya, di sinilah saya benar-benar berkerut dahi. Apa yang dimaksud dengan Lapker Online ?
Sesi kedua adalah dari Direktur Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Ditjen Dikti. Rasanya semua presenter tidak menyebutkan dengan jelas namanya, atau saya sendiri yang kurang mendengar, jadi saya tidak bisa menuliskan nama beliau ini. Yang disampaikan adalah tentang “Pemanfaatan Jardiknas dalam Mendukung Program Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat di Perguruan Tinggi”. Uraiannya menarik, dan bisa membuat hadirin tertawa. Pada sesi ini saya bertanya sesuatu dengan merujuk pada apa yang sudah disampaikan Dirjen Dikti di hari pembukaan malam sebelumnya, yaitu tentang jurnal online. Beliau bilang, Dikti berlangganan beberapa provider jurnal di luar negeri supaya bisa diakses secara gratis oleh semua perguruan tinggi di Indonesia, dan untuk itu Dikti sudah mengeluarkan uang 24 milyar. Saya rada terhenyak, apa betul 24 milyar ? Tapi masa Dirjen Dikti bohong ? Maka pertanyaan saya adalah kenapa pemerolehan jurnal itu diandalkan hanya pada PT atau PIC di PT yang men-download-nya? Bukankah kalau begitu 24 milyar itu sudah digunakan secara tidak efisien ? Mestinya kan ada orang di Dikti yang men-download semua jurnal yang sudah ‘dibeli’ itu, lalu diletakkan di sebuah server yang tersambung ke Inherent, buat web interface-nya, lalu semua PT di Indonesia bisa mengaksesnya, dan yang penting semua itu sudah milik Indonesia. Kedua, saya bertanya tentang search engine yang mestinya bisa dikembangkan di dalam jaringan Inherent, tapi nampaknya Bapak presenter ini tidak ngerti maksud saya. Maksud saya begini, kalau kita mengakses situs ITB via Inherent, maka konten yang ada ITB harus dicari di-search engine internal ITB, demikian pula kalau kita ke situsnya UGM. Nah, ini akan merepotkan kalau kita mau mencari dokumen lintas situs PT. Bukankah akan lebih bagus kalau ada dedicated search engine di dalam VPN Inherent ? Misalnya saya mau mencari dokumen tentang Psikologi Kognitif. Melalui search engine itu saya tidak perlu satu-satu masuk ke situs PT dan mengetikkan frase itu pada search engine-nya, cukup pada sebuah tempat, dan mungkin saya akan bisa menemukannya di UI, UGM, Unhas, Unpad, atau yang lain. Ini perlu supaya fitur yang khas dari Inherent tidak hanya VidCon saja. Kita mau bilang apa tentang koneksi Inherent itu kalau untuk ke situs yang sama kita juga sudah bisa melakukannya langsung via Internet ? Seharusnya ada yang tidak bisa dilakukan via Internet, dan hanya bisa dilakukan via Inherent. Itulah poin saya. Apakah ini terlalu sulit untuk dimengerti ?
Yang berikutnya adalah dari PT. Lintasarta, dibawakan oleh Pak Budi Suyanto. Buat saya, sesi ini adalah sepenuhnya presentasi dalam rangka corporate knowledge atau malah mungkin promosi sekalian. Sebenarnya di sini bisa enak mengadukan bagaimana pelayanan teknisi-teknisi Lintasarta ke setiap PT dalam rangka instalasi, termasuk juga soal manajemen dan birokrasi antara Dikti dan Lintasarta. Saya tidak melakukan itu, meski sebenarnya ada alasan kuat. Bayangkan saja, katanya semua PT di Indonesia itu diberi jatah koneksi selama satu tahun (2008-2009), tapi apa yang mau dikatakan kalau pemberitahuannya saja baru sampai ke setiap PT bulan Juli 2009 ? Ke mana hilangnya waktu 6 bulan itu ? Ini jelas-jelas ada yang tidak beres dalam hal manajemen. Lebih parah lagi, ternyata bahkan sampai bulan Oktober ini, masih sangat banyak PT yang bukan saja koneksinya belum jalan, tapi perangkatnya belum sampai. Waduh! Sudah tinggal 2 bulanan lagi menjelang akhir tahun 2009. Kalaupun perangkatnya sampai lalu disambungkan, apa cukup waktu untuk menikmati Inherent? Belum lagi mungkin harus ada upaya Puskom setiap PT untuk mensosialisasikannya ke setiap dosen yang mungkin akan makan waktu. Di sini terpikir, sekurangnya, apakah fair kalau Dikti membayar Lintasarta sesuai dengan jumlah koneksi kalau kenyataannya demikian? Atau mungkin masalahnya tidak sesederhana ini? Mestinya pengumuman tentang koneksi ini sudah dilakukan sebelum tahun 2009, jadi tidak ada waktu yang terbuang. Saya masih beruntung, peralatan sudah sampai, setup hardware sudah, meski yang belum adalah setting di perangkat-nya, yang membuatnya sampai sekarang belum jalan benar. Bayangkan pada PT yang perangkatnya belum sampai. Begitu sampai, dipasang, dan tak lama kemudian dicabut lagi oleh Lintasarta (bayangkan pula PT yang untuk keperluan ini sudah terlanjur beli router fisik yang mahal, yang setelah koneksi dicabut jadi tidak terpakai lagi – masih untung kalau berikutnya digunakan untuk keperluan lokal).
Sesi-sesi berikutnya nampaknya tidak lagi terlalu sesuai dengan jadwal acara. Tapi yang saya catat adalah presentasi dari Pak Bambang yang cukup kocak. Di tengah presentasi beliau ini juga sempat terjadi gempa. Cukup membuat panik, tapi acara masih tetap bisa berlangsung. Buat saya, apa yang disampaikan oleh Pak Bambang seperti membuat konfirmasi dari apa yang selama ini saya bayangkan tentang Inherent dari segi praktisnya: tentang the nature of the network, apa yang bisa dilakukan dalam jaringan itu, relasi antara local node dan sub-local node, juga sedikit banyak bagaimana seharusnya kita mensikapi pelayanan yang diberikan oleh teknisi Lintasarta. Sementara itu di tengah-tengah presentasi & coffee break ada desas-desus soal router alternatif yang tidak perlu mahal. Dari seorang teman di Jogya, Pak Wawan, sebelumnya saya dapat info bahwa sebenarnya bisa menggunakan distro Zebra untuk kepentingan ini, dan sudah ada support OSPF di situ. Tapi kemudian ada seorang network administrator dari UI, Pak Awaludin, yang bilang ke forum bahwa di salah satu FTP di server UI (yang menggunakan inisial ‘kambing’ itu") tersedia sebuah software router yang support OSPF dan bisa dipasang secara live dari flash disk. Coba bayangkan, kalau saja saya tahu tentang ini, orang di Medan itu tidak perlu memberi saya uang jutaan untuk membeli router Cisco (sebagian, ini karena banyak orang yang tahu tapi tidak mau menuliskan di Internet tentang apa yang diketahuinya). Dari uraian Pak Awaludin ini juga saya lalu mendapatkan sedikit gambaran tentang apa itu OSPF, sebuah protokol yang akan mendahulukan jalur terdekat untuk mencapai suatu alamat. Ternyata keberadaan OSPF itu adalah dalam setting di mana koneksi Internet biasa dihubungkan dalam satu jaringan dengan Inherent. Jadi, kalau mau akses ke situs di luar Inherent seseorang akan dihubungkan langsung ke Internet, tapi kalau yang diakses adalah situs di dalam Inherent, masih dalam jaringan yang sama, router akan langsung membelokkannya ke Inherent, bukan Internet.
Pada jadwal acara ada diskusi, katanya. Saya bayangkan peserta akan dibagi ke kelompok-kelompok kecil, tahunya itu tidak terjadi.
Hari terakhir pada intinya adalah demo, terutama demo VidCon. Ini hanya bisa diselenggarakan kalau bandwidth-nya minimal 512Kbps. Buat saya yang hanya mendapat 128, yang bisa dilakukan hanyalah browsing. Mengenai hal ini, di sesi sebelumnya saya sudah tanya tentang: 1) pertimbangan apa yang membuat sebuah PT mendapat koneksi ini; 2) kenapa ada PT yang mendapat bandwidth besar dan yang kecil ? Ternyata pertimbangannya adalah karena PT yang bersangkutan memenangkan proposal K3 atau pernah mengirimkan proposal K3, meski tidak menang. Lalu soal bandwidth, gampangnya adalah, karena sebelumnya sudah dialokasikan cukup besar ke beberapa PT, maka yang ada sekarang adalah sisanya. Ya sudah, kalau begitu. Ketika itu saya langsung teringat kasus yang menimpa PT saya. Saya benar-benar mengirimkan proposal K3. Ternyata belum berhasil, tapi ketika saya datang ke Dikti untuk mengecek feedback dari para reviewer tentang kenapa proposal itu belum berhasil, si petugas di sana bilang bahwa proposal saya itu tidak ada! Dengan kekecewaan yang amat sangat saya mesti menerima kenyataan itu, padahal ketika itu ada tanda terimanya. Anehnya beberapa bulan kemudia, persisnya Juli 2009, ada surat yang datang memberitahukan bahwa karena PT anda sudah mengirimkan proposal K3 maka PT anda berhak mendapatkan koneksi Inherent. Nah! Ini artinya, di satu bagian di Dikti proposal saya dinyatakan sebagai tidak ada, tidak diterima, tapi di bagian lain dinyatakan sebagai ada. Gimana ini ? Saya lalu mengeluhkan soal document handling ini ke milis Kopertis-IV, tapi tidak ada seorang pun yang memberikan tanggapan.
Soal tidak memberikan tanggapan, akhirnya pada sesi di hari ketiga, tanpa saya duga ada seseorang yang selama ini saya cari-cari muncul di acara ini. Inisialnya A. Namanya disebutkan berulang-ulang oleh instalatur dari Lintasarta. Katanya kalau ada masalah hubungi saja beliau. Rasanya saya pernah mendengar nama itu sebelumnya. Saya duga dia akan mudah ditemukan oleh Google, dan dugaan saya benar. Hanya sayangnya orang ini ternyata tidak responsif. Saya sudah kirim email ke dia, menulis di facebook-nya, bahkan menulis pula di guest book blog-nya, tapi sampai detik itu saya belum menerima respon apapun darinya. Makanya ketika dia tampil ke depan, langsung saja saya ungkapkan itu. Dugaan saya, nampaknya pengelola Local Node tidak dibayar sama sekali oleh Dikti. Itu saja. Kalau tulisan ini dibaca oleh yang kenal dengan beliau (atau beliau sendiri), saya mohon maaf karena sudah menodong di depan panggung seperti itu, tapi I have desperately been in need of support, karena saya menganggap koneksi Inherent ini big deal. Penting sekali. Ketika itu saya bahkan tidak tahu diberi koneksi Inherent itu artinya apa, lalu router itu mesti yang gimana, mengontak Lintasarta itu ke mana, dan sebagainya.
Kalau gambaran di permukaannya seperti itu, saya kok jadi merasa harus merevisi persepsi saya pada organizational facade dari semua ini. Saya tidak akan mengatakannya secara langsung, tapi saya mau bilang bahwa nampaknya masih diperlukan waktu yang cukup lama agar jaringan Inherent ini serta segala aspek manajerial penyelenggaraaannya bisa berjalan dengan baik, efektif dan efisien. Jangan ada lagi time lag dalam hal pemberitahuan atau inisiasi, jangan lagi semua pihak yang terkait tidak responsif pada feedback (ini termasuk mau masuk jadi anggota ke milis Inherent-dikti@itb.ac.id saja proses approve-nya lama). Oleh karena itu sungguh sangat disayangkan kalau koneksi ini benar-benar akan berakhir tahun 2009 ini dan tidak bisa diperpanjang lagi.
Semua sesi workshop ini saya rekam melalui MP3 player, dan filenya dalam bentuk WAV nampaknya akan ada di halaman download situs Kopertis-IV tidak lama lagi. Selain itu, saya akan tuliskan lagi segala hal yang saya temukan, terutama nanti kalau koneksinya sudah jalan.
Ditulis dalam Education | Bertanda inherent | Leave a Comment »
Dari sejak saya cerita tentang ada orang yang mengirim uang jutaan ke rekening saya untuk dibelikan router Cisco hingga sekarang, sebenarnya koneksi ke Inherent belum 100% lancar. Kenyataannya malah, baru kemarin sore orang dari Lintasarta itu datang lagi setelah saya kirimi dia email. Saya pikir dia akan datang sendiri karena tahu koneksi di tempat saya belum beres. Untuk pertama kalinya pada kemarin sore itulah saya lihat sebentar apa dan bagaimana yang disebut koneksi VPN ke Inherent (Indonesia Higher Education Network). Tapi ketika saya coba lagi malamnya dengan setting yang sama, koneksi itu sama sekali tidak jalan. Dan keesokan harinya, here I am, saya ada di sebuah workshop nasional yang membicarakan tentang itu. Saya datang ke acara ini sementara saya baru beberapa detik saja kemarin melihat koneksinya sudah jalan, untuk kemudian mati lagi.
Sejak berangkat dari Bandung hingga saya tuliskan ini, di kepala saya sudah terbayang beberapa pertanyaan, tapi ketika saya sampai di hotel (Century Park) dan ngobrol dengan beberapa orang, ternyata kasus yang menimpa orang lain di tempat lain tidak kalah seru dan anehnya. Termasuk cerita tentang bagaimana mereka sampai mendapatkan koneksi Inhrent itu. Tapi yang menyenangkan adalah, workshop ini sebenarnya ajang berkumpulnya orang-orang yang pekerjaannya persis sama dengan saya. Yang menggembirakan, akhirnya saya temukan informasi tentang milis di mana orang-orang ini membentuk komunitas. Ini sudah saya cari-cari.
OK. Workshop ini dibuka oleh Direktur Jendral Dikti, Fasli Jalal, yang ketika saya terlambat masuk ruangan sedang cerita tentang betapa di Papua sana, pendidikan benar-benar sulit terselenggara, tapi dengan ICT semua itu bisa berjalan mengatasi berbagai hambatan. Singkat kata, ICT adalah sebuah terobosan yang benar-benar nyata terasakan manfaatnya. Lalu juga ada cerita tentang betapa tanpa ICT atau implementasinya yang setengah-setengah telah menjadikan banyak proses administrasi dan birokrasi, dalam hubungannya dengan PTN & PTS, sebagai penghasil tumpukan dokumen yang menggunung di kantor Dikti. Dengan ICT, proses-proses itu diharapkan menjadi lebih efisien. Nah, Jardiknas, yang bentuknya untuk perguruan tinggi disebut Inherent, adalah sebuah infrastruktur yang kedepannya akan memfasilitasi koneksi & interkoneksi segala hal itu.
Bentuk infrastruktur itu adalah VPN atau Virtual Private Network. Sudah ada sementara waktu saya mendengar istilah ini dan membaca apa pengertiannya, tapi setelah melihat dan mempraktikkannya sebentar kemarin itu, saya jadi ingin membahasakannya sendiri. Semoga benar. VPN adalah sebuah jaringan terbatas yang menggunakan cara pengaksesan konten yang sama seperti Internet (menggunakan browser dan URL yang persis sama dengan di Internet). Disebut terbatas karena konten dan koneksi yang tadinya terbuka di Internet itu dihimpun lagi dalam sebuah jaringan khusus yang akan lebih memudahkan lagi bagi orang-orang untuk mengaksesnya, terutama dari segi kecepatan. Jadi VPN nampaknya adalalah jaringan di dalam jaringan. Internet yang sudah merupakan jaringan global itu di dalamnya dibuat jaringan lagi untuk memudahkan akses pihak-pihak yang tergabung di dalamnya.
Oleh karena itu maka apa yang ada di dalam jaringan itu bisa pula diakses dari Internet secara langsung. Di sini segera muncul pertanyaan, apakah ada yang tidak bisa diakses via Internet ? Yang eksklusif hanya bisa melalui VPN ? Sejauh ini jawaban yang ada di kepala saya hanya VidCon alias Video Conference. Besarnya bandwidth di dalam VPN itu (yang rata-rata melebihi bandwidth yang normal dipakai ke Internet), digunakan untuk keperluan semacam seminar jarak jauh, kuliah, diskusi, atau apapun yang jarak jauh; menggunakan fasilitas kamera yang hasilnya langsung streaming di dalam VPN. Selain VidCon saya belum mendapatkan jawaban lain. Sempat pula terbersit, apakah sudah ada search engine yang khusus menangani konten-konten yang ada di dalam VPN ? Seorang teman ngobrol dari Jogya waktu makan malam tadi bilang bahwa itu tidak ada. Jadi, barangkali secara gampangnya, VPN ini ditujukan untuk interkoneksi ke komunitas perguruan tinggi yang resource-nya di organisir dalam bentuk situs; situs yang sama yang juga accessible via Internet, hanya bila diakses via VPN akan jauh lebih cepat.
Saya sengaja menuliskan ini dengan beberapa detil tertentu, sekaligus mendokumentasikan apa yang sekarang sedang hangat di pikiran saya. Sebab kalau tidak, bisa jadi karena banyak pekerjaan lain saya out of touch dan lupa. Selain itu, ini untuk mengobati kekesalan saya sendiri ketika searching ingin tahu apa itu Jardiknas, Inherent, VPN, dan segala macam istilah lain yang terkait, termasuk nanti yang teknis seperti menghubungkan router Cisco atau apa itu OSPF. Ketika itu saya hanya menemukan sedikit tapi tidak jelas, kalaupun ada itu selalu dengan bahasa yang tidak komunikatif atau barangkali 100% eksklusif teknis informatika. Mungkin memang saya kurang sabar ketika search, tapi kalau benar memang selama ini tidak ada, saya berpikir; masa di antara sekian banyak orang yang datang di workshop ini tidak ada yang menuliskan apa yang dia tahu ?
Dan saya tidak mau termasuk orang yang seperti itu!
Ditulis dalam Komputer / Internet | Bertanda inherent | Leave a Comment »