Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Data Hilang? Getdataback!

data recovery Ini adalah testimoni tentang sebuah perangkat lunak data recovery. Baru kali ini saya menemukan sendiri bahwa perangkat lunak yang free / gratis ternyata memang tidak memberikan semua fungsi / kinerja yang kita harapkan. Ini karena saya sudah mencoba beberapa perangkat lunak yang gratis itu, tapi sama sekali tidak menolong saya menemukan data yang hilang. Kebetulan saya menemukan sebuah CD yang judulnya Hiren’s Boot & Recovery CD Ver 9.3, yang sebenarnya adalah sebuah kompilasi dari beberapa perangkat lunak berbeda yang dibuatkan semacam menunya. Saya gunakan salah satunya di situ yang bernama Getdataback. Perangkat lunak ini berbayar, dan ternyata cukup ampuh.

hd Ceritanya, saya punya sebuah harddisk Seagate 80 Giga yang saya pasangkan ke dalam sebuah casing eksternal. Isinya adalah backup dari data yang saya buat di komputer utama. Dua hari lalu, tanpa sebab yang jelas, harddisk itu sama sekali tidak bisa diakses. Saya langsung cemas, karena sehari sebelumnya saya menyapu bersih data di harddisk komputer utama untuk keperluan instal ulang Windows 7. Saya langsung coba beberapa perangkat lunak gratis yang saya download dari Internet. Pilihan cepat saya adalah pada download.com. Dengan kata kunci “data recovery” lalu memilih filter “Windows 7” saya mendapatkan beberapa yang langsung saya coba, antara lain: R-Data Recovery Scanner, File Scavenger Data Recovery Utility, Power Data Recovery, Harddisk Drive Data Recovery … dan beberapa yang lain, sampai tidak ingat. Ada yang tidak bisa diinstal, ada yang dari GUI-nya saja saya sudah tidak yakin, … dan yang terakhir saya coba adalah EASEUS Data Recovery Wizard 4.8. Yang terakhir itu bisa menemukan partisi yang hilang pada harddisk dan bisa menemukan kembali datanya. Akan tetapi masalahnya, hanya 3 partisi yang ditemukan dari 4 yang ada di dalamnya. Justru satu partisi itu yang saya cari karena di dalamnya ada semua data dokumen penting saya.

Saya sempat berpikir untuk mencari distro Linux yang mungkin ada yang dikhususkan untuk data recovery, karena saya pikir akan menunjukkan hasil yang berbeda, tapi ternyata distro itu tidak ada. Mungkin ada, tapi saya belum menemukannya. Dalam keadaan seperti ini yang saya perlukan adalah ketenangan, karena kalau tidak, saya tidak akan menolong diri sendiri, malah lebih merusak. Saya diamkan dulu urusan ini beberapa saat, sampai sorenya, dalam perjalanan pulang ke rumah, saya ingat dulu pernah diberi satu kopi CD Hiren’s itu tadi. Keesokan harinya saya langsung coba itu (untung saja ketemu di antara tumpukan CD-CD lama). CD itu punya autorun, kalau dimasukkan ke drive dia langsung memunculkan menu. Menu itu pada dasarnya mengorganisasi beberapa perangkat lunak buatan pihak-pihak yang berbeda untuk kepentingan rekoveri data dan reparasi komputer. Karena itu tentu kita bisa menemukan setiap perangkat lunak itu secara terpisah di Internet.

menuhiren Langsung saya pilih menu Recovery, dan pilih Getdataback-FAT. Saya pilih berdasarkan intuisi saja, lalu saya pilih FAT karena memang harddisk itu saya format dengan FAT32. Di menu itu hanya ada pilihan Getdataback NTFS dan FAT saja. Versi yang saya gunakan adalah 2.31. Setelah harddisk di-scan, lalu klik tombol-tombol berikutnya (yang common sense saja), sampailah pada tahap scanning keseluruhan harddisk yang memakan waktu satu jam lebih. Yang keluar kemudian adalah pilihan untuk memulihkan kembali data berdasarkan blok sektor harddisk. Saya mulai dari sektor (dengan angka) kecil ke yang besar. Baru selesai dengan blok sektor pertama, ternyata berkas-berkas yang saya cari ada semua. Saya klik kanan dan pilih copy. Ternyata program ini meminta untuk mengkopi berkas temuannya tadi ke drive / harddisk lain. Saya lakukan itu, dan sampai sekarang hampir semua berkas / data yang hilang bisa dimunculkan kembali; meski saya belum periksa secara menyeluruh apakah isinya masih sama atau tidak. Saya bilang begini karena bisa saja sebuah berkas / file ditemukan tapi isinya barangkali rusak atau tidak relevan.

gdb Getdataback, seperti telah saya singgung sebelumnya, adalah perangkat lunak berbayar, dan ternyata yang berbayar itu memang beda kinerjanya dengan yang gratis. Saya coba Google, ternyata sebenarnya ada versi Getdataback yang lebih tinggi dari yang saya gunakan, tapi ya itu: berbayar. Saya search lebih jauh, ternyata ada tempat-tempat yang menyimpan Getdataback versi lebih baru (untuk versi NTFS maupun FAT) dengan serial number-nya sekalian. Sorry, tidak akan saya tuliskan itu di sini. Search saja sendiri.

Selain testimoni dan  sharing  soal  perangkat  lunak  ini  saya  juga ingin menuliskan apa yang selama ini saya tahu tentang rekoveri data komputer: (maaf barangkali ini tidak berurutan)

  1. Semua harddisk PASTI akan rusak. Hanya tinggal menunggu waktu saja. Semua perangkat komputer dibuat dengan konsep adanya MTBF alias Mean Time Between Failure atau adanya waktu / usia pemakaiannya. Oleh karena itu backup menjadi wajib hukumnya.
  2. Bila harddisk sama sekali tidak bisa diakses, kita harus memastikan apakah kerusakannya hanya karena partisinya rusak / hilang, atau kerusakan fisik harddisk. Kerusakan fisik harddisk ditandai dengan a). tidak bisa dideteksinya harddisk oleh BIOS, b) harddisk dideteksi oleh BIOS secara salah (terutama dalam hal pembacaan kapasitas – misalnya harddisk 80G terbaca 120G).
  3. Bila ada kejadian data hilang di komputer, sebaiknya kita tidak menambahkan atau mengurangi file lain di lokasi yang sama. Lokasi yang dimaksud bisa pada sebuah harddisk, sebuah folder, atau sebuah flashdisk. Pada sebuah kamera digital misalnya, bila ada sebuah foto yang terhapus dan kita ingin memunculkannya lagi, maka lebih baik kita tidak memotret lagi sebelum kita lakukan proses rekoveri pada foto yang hilang itu.
  4. Kehilangan data pada komputer bisa berarti hilangnya sebuah berkas / file, bisa pula hilangnya partisi, yang mengakibatkan sebuah drive sama sekali tidak bisa diakses. Sama dengan hilangnya berkas, bila partisi rusak, sebaiknya kita tidak membuat partisi baru pada drive tersebut.
  5. Bila harddisk tidak bisa diakses, lebih baik harddisk tersebut di ‘oprek’ sebagai slave pada komputer lain. Harddisk tersebut HARUS dipastikan tidak diubah apapun, bahkan volume label-nya sekalipun. Saya pernah mengubah volume label sebuah harddisk dari nama aslinya ke nama saya sendiri: Tom – karena kebetulan ada banyak harddisk serupa yang harus saya tangani. Ternyata harddisk tersebut sama sekali tidak bisa dikembalikan partisinya. (Soal mengubah volume label ini perlu konfirmasi lagi secara teknis, karena bisa saja saya waktu itu hanya sekedar sial).
  6. Bila sebuah berkas terhapus dari harddisk, itu tidak berarti bahwa berkas tersebut benar-benar hilang. Sistem operasi hanya sekedar memberi tanda pada berkas tadi sebagai tidak ada dan menandai tempat berkas tersebut pada harddisk sebagai spasi kosong dan bisa ditempati oleh berkas lain. Oleh karena itu, bila kita mengkopikan berkas baru pada drive tersebut, ada kemungkinan spasi dari berkas yang hilang sebelumnya ditempati oleh berkas yang baru. Dalam kasus ini upaya untuk merekoveri berkas yang hilang tadi bisa jadi sangat sulit atau malah tidak mungkin sama sekali.
  7. Bila berkas yang hilang / terhapus sudah kita temukan dengan perangkat lunak rekoveri, berkas tersebut lebih baik tidak di-save di drive / harddisk yang sama, tapi HARUS di drive lain. Ini karena posisi yang ditempati oleh berkas yang sudah ditemukan bisa jadi akan menggunakan tempat berkas-berkas lain yang akan direkoveri.
  8. Tidak semua orang memiliki harddisk lebih dari satu atau siap dengan situasi krisis berupa hilangnya data. Backup menjadi amat sangat penting, bahkan backup pun mungkin perlu di backup lagi. Karena berkas yang ditemukan HARUS di-save ke drive lain, barangkali ada baiknya kita menggunakan flashdisk yang ukurannya cukup besar, atau kalau tidak, minta bantuan orang lain. Ini karena men-save berkas yang ditemukan pada drive yang sama malah akan membuat berkas yang hilang jadi jauh lebih banyak daripada yang ditemukan.
  9. Bila harddisk mengalami kerusakan fisik, kemungkinan rekoveri data sangat sulit bahkan bisa jadi tidak mungkin. Kemungkinan terakhir untuk ini adalah (cukup sulit) mengganti card harddisk (komponen elektronik yang menempel pada harddisk) dengan yang baru dari jenis yang sama.
  10. Semua perangkat komputer yang memiliki unsur mekanik (yang bergerak) akan cenderung lebih cepat rusak. Pada harddisk terdapat motor yang menggerakkan komponen head untuk membaca pelat di dalamnya. Ada harddisk jenis baru yang tidak menggunakan motor, yaitu SSD atau Solid State Disk. Harganya sekarang masih mahal, namun demikian dapat diperkirakan bahwa MTBF-nya lebih tinggi daripada harddisk biasa.

Demikian yang selama ini saya ketahui. Semoga kehilangan data adalah kejadian yang tidak pernah menimpa siapa pun juga; karena hilangnya data bisa berarti hilangnya sebagian dari jejak eksistensi kita.

wwwarrows Saya masih ingat pada sebuah seminar tentang Ilmu Komunikasi di Bandung, ketika saya bertanya tentang pentingnya kajian Ilmu Komunikasi pada fenomena penggunaan komputer dan Internet. Responnya sungguh tidak memuaskan bahkan ada terkesan penghindaran. Saya maklum karena waktu itu (sekitar awal tahun 2000-an), saya sudah sangat aktif menggunakan email dan Internet, tapi pada saat yang sama sangat banyak orang menganggap sarana komunikasi ini kalau tidak terlalu teknis, masih tidak terjangkau, tidak ramah pengguna, atau malah dibayangkan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Komunikasi! Ingatan saya juga masih kuat ketika saya berbicara tentang ini ke seorang pendiri PTS di Bandung yang mengkhususkan diri dalam bidang Ilmu Komunikasi; respon yang diberikan malah seperti sebuah penolakan. Nah, sekarang sudah tahun 2010. Kalau saja seminar semacam itu diadakan lagi, apakah saya akan mendapatkan respon yang, sekurangnya, apresiatif?

cmcok Ekosistem komunikasi kita dalam 10 tahun ini sudah amat sangat berubah, terutama tentu yang berkaitan dengan infrastruktur dan media. Perubahan itu membawa akibat pada bagaimana cara kita berinteraksi satu sama lain. Apakah dulu bisa dibayangkan dalam sebuah ruangan orang mengirim SMS ke orang lain di ruangan yang sama hanya karena tidak mungkin untuk berbicara dengannya langsung? Dulu komunikasi via Internet yang murah adalah email dan ada tekanan bahwa semua yang web-based itu mahal, tapi hari ini kita melihat orang membuat janji kopi darat via Facebook. Tahun 2000an mungkin sama sekali tidak ada public figure yang mengaksentuasikan dirinya secara langsung via Internet; sekarang ada twitter yang bikin heboh itu. Pernah ada saatnya telpon selular begitu eksklusif sehingga dengan memiliki nomornya saja sudah mengesankan gengsi tertentu; sekarang, meski tidak baru, tapi handset bekas bahkan dijual di emper jalan; masih berfungsi dengan amat baik dan sangat murah (kita juga tinggal menunggu waktu sebelum handset Blackberry itu adalah barang rongsokan yang bisa kita temui di pasar loak). Aneh sekali, sudah ada begitu banyak fenomena komunikasi baru, masa Ilmu Komunikasi Indonesia tidak memberikan respon sama sekali? Apakah mau dikatakan bahwa conceptual framework yang lama masih bisa dipakai untuk menjelaskan fenomena komunikasi apapun?

jcmc Kalau saya mengatakan “Ilmu Komunikasi Indonesia” mungkin itu sedikit berlebihan, tapi maksud saya adalah, saya belum melihat adanya sebuah representasi institusional yang merefleksikan adanya respon memadai dunia perguruan tinggi Indonesia pada fenomena ini. Bentuknya apa lagi kalau bukan sebuah program studi atau mungkin pusat kajian. Somewhere mungkin ada, tapi sejauh yang didapat melalui Google, temuan tentang ini masih sedikit, bahkan terlalu sedikit. Kalau kita search dengan keywords “Computer Mediated Communication” dan memilih “laman dari Indonesia” maka yang akan kita dapatkan adalah beberapa tulisan blog, cuplikan dari skripsi, satu dua orang dosen yang memberikan materinya via web, atau abstrak dari perpustakaan yang punya ekstensi online-nya. Ya memang kita tidak bisa berharap dengan cepat kita akan punya seperti JCMC di Universitas Indiana itu, yang sudah sejak 1995 online dan menampung berbagai tulisan yang menarik tentang topik ini, tapi sekurangnya saya ingin menggarisbawahi bahwa sebuah peluang nyata untuk pengembangan Ilmu Komunikasi, yang kontemporer dengan perkembangan dewasa ini adalah Computer-Mediated Communication.

tekom Kalau bentuknya sebuah jurusan barangkali tidak sederhana. Ada birokrasi yang harus ditempuh, dan masalah besarnya adalah SDM. Sekurangnya di dalamnya ada pengajar-pengajar yang menguasai materi yang berkaitan dengan internet (yang teknis, semi teknis, maupun non-teknis), Ilmu Komunikasi, dan Psikologi Sosial. Ketiganya harus dengan syarat bahwa materinya tidak saja introduksi murni, tapi juga diarahkan langsung pada field of study-nya, pada objek-nya langsung. Sebuah pusat kajian barangkali lebih memungkinkan, karena levelnya mungkin intra-institusi, meski lagi-lagi pasti akan terbentur soal SDM, dan mungkin akan ada pertanyaan kepentingan: untuk apa semua ini dibuat? Bentuk lainnya saya kira adalah sebuah mata kuliah. Saya kira perguruan tinggi yang punya Fakultas Ilmu Komunikasi sudah tidak bisa lagi memasukkan topik ini pada mata kuliah “Teknologi Komunikasi”. Nama itu terlalu luas untuk bisa menampung sebuah bahasan yang memiliki rincian topik yang sungguh banyak. Apakah kira-kira isi dari mata kuliah ini ? Apapun itu jangan sampai the same old teacher’s trick itu digunakan keterlaluan: beri saja mahasiswa tugas untuk setiap pertemuan dan setiap pertemuan isinya adalah diskusi dari makalah yang dibuat oleh mereka sendiri. Dosen tinggal kasih komentar sana sini.

sq Kira-kira apakah untuk beberapa alternatif bentuk itu ada kemungkinan resistensi? Mengapa pula saya mesti mempertanyakan ini? Ya saya masih merasa yakin bahwa bila segala syarat yang penting dipenuhi, akan ada saja hal-hal yang tidak esensial yang menjadi penghalang (Inilah Indonesia!). Hal-hal yang saya maksud bisa berkisar dari soal visi sampai soal politis interpersonal. Soal visi, barangkali akan ada yang menganggap bahwa CMC sekedar tren sesaat, masih bisa dimasukkan ke Teknologi Komunikasi, prospek ke depannya belum jelas, atau bahkan kadar ilmiahnya kurang (!). Kalau soal interpersonal, ya seperti biasa itu semua akan berupa hasil imajinasi / persepsi mereka yang berada di status quo. Bisa jadi mereka membayangkan bahwa kalau sudah berhubungan dengan komputer / internet, maka yang lain, yang tradisional, akan jadi tidak berlaku, usang, tidak akan terpakai, bahkan tersingkirkan. Boleh jadi mereka merasa akan ada counter credibility, padahal yang sebenarnya sama sekali tidak demikian. Masalah ini sebenarnya terkait dengan komunikasi antargenerasi yang amat sangat sangat sangat sangat sulit! Para senior sudah sulit untuk adaptif pada perkembangan baru (apalagi untuk mengadopsi dan menguasai) sementara pada saat yang sama mereka kurang punya kepercayaan pada yang muda. Karena inilah saya menduga, kalaupun ada sebuah tempat di mana CMC dikembangkan dengan serius di Indonesia, besar kemungkinan orang-orangnya terdiri dari mereka yang berusia di bawah 45 tahun!

grey Saya sendiri berpandangan, kalaupun berbagai bentuk representasi ilmiah tentang fenomena CMC di Indonesia pada level perguruan tinggi adalah sebuah kelangkaan atau kemewahan, sekurangnya pada berbagai kalangan, terutama para pemerhati Ilmu Komunikasi, harus ada apresiasi yang memadai tentang ini. Wilayah abu-abu (grey area) antara Ilmu Komunikasi, Informatika, dan Psikologi itu kini telah menjadi fenomena yang marak, menciptakan ekosistem komunikasi baru, dan ada cukup banyak hal yang tidak bisa dimasukkan begitu saja ke dalam kerangka konseptual Ilmu Komunikasi yang lama. Memang, untuk segalanya yang lebih dari sekedar apresiasi, harus ditempuh jalan yang berliku agar niat baik itu menjadi kenyataan. Ini terutama di negeri, di mana yang dipentingkan adalah agar para alumni cepat mendapat pekerjaan setelah lulus.

koinuntukprita Ini adalah tulisan yang saya kirim ke Radio Nederland sebagai komentar dari salah satu berita yang dimuat di situsnya. Berita itu persisnya ada di sini. Ketika saya membacanya, kebetulan saya temukan adanya pengumuman tentang lomba menulis komentar berita.
Saya sendiri kebetulan termasuk yang concern pada masalah yang dihadapi oleh Prita Mulyasari. Saya bilang: “akhir dari kasus Prita ini nanti akan menjadi gambaran tentang bagaimana masa depan kebebasan berekspresi di Indonesia via Internet.” Sebagai salah seorang yang aktif menggunakan Internet sejak lama, rasanya saya tidak berlebihan mengatakan itu. ika Saya pun sudah mengantarkan uang receh yang kebetulan suka dikumpulkan anak saya, dari uang sisa-sisa kembalian yang sering ada di kantong pakaian kalau saya pulang kantor. Lokasinya waktu itu adalah di sebuah toko buku kecil di Jalan Aceh: Tobucil.

Berikut ini adalah tulisan saya itu :
Dari sejak pertama kali Saya mendengar kasus ini, segera muncul perasaan aneh dalam diri Saya. Hanya karena menulis email bisa masuk penjara? Mengirim / menerima email sudah menjadi bagian keseharian Saya sejak tahun 1996. Sejak itu Saya merasakan bahwa aspirasi kebebasan, semangat egalitarianisme, dan suasana demokratis bisa benar-benar tersalurkan dan terrealisasi. Adanya kasus ini membuat Saya jadi merenung. Apakah sebenarnya tinggal waktu saja sebelum Saya (dan banyak orang lain) mengalami kasus yang sama seperti yang dialami Prita?
Di Indonesia sudah cukup banyak orang yang mengadopsi email sebagai sarana komunikasi sehari-hari. Pada kasus Prita, Saya sebenarnya mempertanyakan, apakah orang-orang Omni International itu adalah pengguna email? Seberapa jauh apresiasi mereka tentang apa itu email? atau seberapa aktif mereka menggunakan email? Di Indonesia, email untuk kalangan tertentu sudah bukan ‘barang aneh’, tapi Saya masih yakin benar bahwa untuk sebagian besar orang Indonesia, email adalah sebuah inovasi baru. Saya punya duga-duga, apakah email yang dikirimkan Prita itu awalnya dibayangkan sebagai telah tersebar ke seluruh dunia? Padahal, Prita awalnya hanya mengirimkan ke 20 orang teman-temannya dan beberapa mailing list. Saya pikir, justru langkah Rumah Sakit Omni mengajukan ini sebagai kasus hukum malah membuat apa yang tadinya hanya beredar pada lingkup terbatas jadi diketahui oleh begitu banyak orang, bahkan oleh publik di seluruh dunia.
Di sisi lain Saya berpendapat, dituntutnya Prita kembali setelah kasusnya ditutup sebenarnya sangat kontraproduktif untuk citra Rumah Sakit Omni sendiri. Sebagai sebuah rumah sakit yang mestinya memiliki misi kemanusiaan, penuntutan kembali itu memiliki indikasi kebersikukuhan institusi. Apakah tidak disadari bahwa institusi se kelas Rumah Sakit Omni (apalagi namanya menggunakan kata ‘Internasional’) melawan seorang Prita Mulyasari yang hanya rakyat biasa itu berimbang? Pertanyaan ini barangkali kurang relevan pada konteks tuntutan pertama, tapi ketika kasusnya selesai dan diajukan tuntutan baru, ada kesan bahwa rumah sakit somehow tidak mau kalah. Tidak mau kalah pada seorang rakyat kecil. Kalaupun memang ada alasan kuat secara yuridis untuk menuntut lagi, apakah misi kemanusiaan sebuah institusi rumah sakit mesti dikesampingkan meskipun kasus ini menyangkut rakyat kecil? Saya melihat kebersikukuhan ini semakin menjadi-jadi dengan diajukannya tuntutan sebesar 200-an juta itu kepada Prita. Apakah tuntutan uang sebanyak itu masuk akal? Apakah Prita dinilai mampu untuk membayar uang sebesar itu?
Saya juga bertanya-tanya dalam hati, apakah penuntutan kembali Prita itu adalah sebuah langkah institusional yang disepakati semua pihak di kalangan internal rumah sakit? Apakah semua perawat, dokter, atau tenaga medis lainnya di sana benar-benar sepakat untuk terus menuntut Prita? Saya kira tidak. Oleh karena itu Saya menengarai bahwa bisa jadi pada kasus ini ada skenario lain. Apakah sebenarnya kasus Prita adalah sebuah pertanda akan dilancarkannya semacam shock therapy bagi kalangan pengguna Internet Indonesia yang benar-benar sulit dijangkau oleh kekuasaan? Dalam kaitan ini, sejarah telah mencatat bahwa turunnya mantan Presiden Soeharto tahun 1998 juga diwarnai oleh koordinasi publik melalui mailing list untuk melakukan penggalangan dan aksi turun ke jalan. Semoga ini tidak benar, tapi Saya tidak kuasa untuk tidak berpikir demikian.
Akhirnya Saya berpendapat, akhir dari kasus Prita ini nanti akan menjadi gambaran tentang bagaimana masa depan kebebasan berekspresi di Indonesia via Internet.

Review: Mobile Speaker SU-15

Saya harus membuat 10 CPU lama kelas Pentium III jadi fungsional lagi, padahal komponen-komponen dalamnya sudah dipreteli untuk berbagai kepentingan. Karena saya belanja hanya pada satu toko untuk semua kebutuhan itu, dan kuantitasnya cukup banyak, saya merasa saya bisa meminta bonus. Setelah ngalor ngidul dan ngendon cukup lama di toko, akhirnya toko berbaik hati memberi saya bonus sebuah speaker kecil, tapi ini bukan speaker biasa.

su-15front Para audiophiles pasti akan segera melewatkan ini karena memang kualitas suaranya tidak bagus-bagus amat, tapi speaker ini punya colokan SD/MMC Card dan Flashdisk. Memory card / Flashdisk itu bisa kita isi file MP3 dan kita bisa langsung memainkannya. Barang yang saya dapatkan ini tidak punya merek sama sekali. Hanya tertulis “Mobile Speaker”. Tipenya adalah SU-15. Buatan Cina; dan seperti barang-barang elektronik buatan Cina lainnya garansinya hanya sebentar. Meskipun ini pemberian, tapi saya diberi garansi satu minggu. Entah satu minggu itu karena saya dapatnya gratis atau memang sebenarnya memang hanya selama itu garansinya.

Pada paket / kemasannya berisi :

  1. Mobile Speaker
  2. Kabel yang ujung-ujungnya ber-jack Earphone stereo 3,5’
  3. Remote Control Infra Merah
  4. Converter koneksi ke HP (entah HP apa)
  5. Kabel USB untuk charging

Tidak ada manual sama sekali. Petunjuknya hanya ada pada bungkusnya. Ini sangat disayangkan karena ada banyak yang tidak jelas pada produk ini, seperti beberapa tombol pada remote control yang tidak jelas fungsinya.

su-15back Pada bagian depan, ada slot SD/MMC Card dan Flashdisk, lampu indikator pembacaan memory, tombol play, forward, dan back, serta LED receiver remote control infra merah. Pada bagian belakangnya ada line in jack 3,5 yang berfungsi untuk menerima output audio dari perangkat lain, volume slider, input untuk charging (5 V dari komputer via USB), dan tombol on/off. Diameter speaker-nya adalah sekitar 4cm. Bentuk barang ini kotak / persegi panjang. Speaker terletak pada ujung kiri kanannya. Sementara itu catu dayanya mengandalkan baterai Lithium Ion yang dipasang permanen di dalamnya.

Seperti saya bilang, suaranya tidak terlalu bagus. Apa yang bisa diharapkan dari speaker yang diameternya 4cm ? Lagian, di dalam kotak itu ruang resonansinya terlalu kecil dan kurang efektif untuk menimbulkan efek enhancement pada bass. Boksnya dibalut semacam lapisan yang akan mengesankan bahwa casing-nya terbuat dari kayu. Pada casing inilah saya agak kecewa. Tulisan SU-15 terkesan dibuat tidak profesional, seperti hanya digoreskan pake spidol perak pada penggaris yang sudah ada cetakan huruf itu. Saya lihat pada tipe lain ini lebih parah. Ada yang di sekitar speaker dibuat lingkaran warna perak, tapi peletakannya tidak simetris, sehingga mengesankan ini adalah produk murahan (yang sebenarnya memang murah!). Yang terakhir saya maksudkan itu casing-nya lebih besar, diameter speaker lebih besar, ada perbedaan sedikit pada kualitas suara (lebih  bagus), tapi karena kosmetik luarnya jelek, saya kalau pun diberi barang itu pasti menolak. Harga normal barang yang saya dapatkan ini adalah 160 ribu.

Yang saya temukan :

  1. Kapasitas maksimal memory adalah 2G. Lebih dari itu, barang ini seperti tidak mendeteksi adanya masukan memory sama sekali.
  2. Kalau baterai internalnya melemah, maka hanya bagian awal dari sebuah file MP3 yang dimainkan, lalu langsung skip ke file berikutnya. Tapi anehnya ada juga file MP3 yang dapat dimainkan secara penuh.

Sebenarnya saya sudah pernah melihat produk semacam ini tapi dengan ukuran speaker komputer normal, yang ukurannya sekecil ini baru kali ini saya lihat. Saya juga search dengan Google dan menemukan cukup banyak hit, tapi belum ada satupun yang memberikan review. Jadi saya tuliskan saja ini.

Apakah barang ini layak untuk dibeli ? Saya kira kalau hanya untuk sekedar dengar-dengar saja ya ok lah. Bisa digunakan untuk mobil yang belum ada tape-nya, atau bisa pula dihubungkan dengan output audio hari HP untuk kepentingan handsfree conversation kalau-kalau dirasa volume dari HP masih kurang keras. Selain itu, karena ukurannya kecil, bagus juga dijadikan speaker untuk mendengarkan musik diperjalanan secara bersama-sama (minding that … ); sekarang ini ada kecenderungan setiap orang mesti punya satu MP3 player yang digunakan secara individual. Last but not least, karena harganya tidak terlalu mahal, barang ini lumayan sempurna untuk hadiah dalam konteks door prize atau semacamnya.

internet-speed-testIni seharusnya sudah saya tulis beberapa minggu lalu. Alasan utama saya membeli modem GSM adalah karena koneksi dengan modem CDMA + Fleksi Unlimited sudah tidak dapat diandalkan lagi kualitasnya. Sebelum 31 Oktober, segalanya baik-baik saja, tapi begitu lewat tanggal batas promosi itu, bukan saja sangat lambat, tapi bahkan untuk konek pun susah sekali. Kebetulan saya sedang mengajukan sebuah proposal penelitian yang salah satu kebutuhannya adalah modem GSM. Karena sudah keburu butuh, maka meski dana penelitiannya belum turun, barang ini sudah saya ijon dengan uang sendiri dulu, …

Langkah pertama adalah jelas menentukan modem mana yang akan dibeli. Hanya begini saja sudah tidak gampang karena ada begitu banyak pilihan. Tapi saya menentukan kriteria dengan kecepatan maksimal yang bisa diperoleh dari modem itu. Saya dapat info bahwa kecepatan itu adalah 7,2 Mbps, maka saya mulai cari semua modem yang bisa secepat itu. Ya saya tahu itu adalah kecepatan teoretis, tapi sekurangnya kalau saya mendapatkannya saya bisa punya peluang untuk mencapai kecepatan itu kalau lagi beruntung. Itu pertama. Kedua, barangkali kalau ada fitur lain yang merupakan nilai plus dari modem itu, maka itu akan membantu mempersempit pilihan. Ketiga, tentu saja harga, dan last but not least, saya ingin modem itu tidak di lock untuk provider tertentu.

sierramodemAkhirnya pilihan saya jatuhkan pada modem Sierra Wireless Compass 885. Bentuknya sangat mirip flashdisk, ukurannya pun tidak beda jauh. Yang membuat saya menjatuhkan pilihan ke modem ini adalah karena pada modem ini bisa dimasukkan microSD card, sehingga bisa berfungsi sebagai flashdisk beneran juga. Selain itu, wujudnya yang sturdy meyakinkan saya. Ada kesan kokoh. Ya kemudian pencarian tinggal ke masalah harga. Dari satu toko ke toko yang lainnya hanya beda beberapa puluh ribu rupiah saja, tapi akhirnya saya jatuhkan pilihan ke yang menjual Rp 550 ribu.

indosat1Berikutnya adalah memilih layanan Internetnya. Teman-teman saya di MUGI banyak yang menggunakan IM2, dan mereka rata-rata menyatakan puas. Tapi ketika itu saya belum tahu bahwa IM2 ternyata sudah berevolusi ke produk / paket yang mungkin kualitasnya masih sama, tapi tidak dalam hal harganya. Banyak orang tentu ingin internet yangunlimited, sehingga kita tidak perlu khawatir dengan pulsa yang ada. Demikian pula halnya saya. Tapi ketika saya menanyakan tentang ini ke teman-teman, ternyata dari segi harga paket unlimited dari IM2 telah mengalami perubahan. Dulu awalnya namanya hanya BROOM saja; starter pack-nya harganya 150 ribu, dan tiap bulan bayar flat sebesar 100 ribu. Lalu paket ini hilang (tidak dijual lagi atau entah apa) dan diganti dengan yang namanya BROOM XTRA; starter-pack-nya harganya 200 ribu, dan tiap bulan bayar flatsebesar 125 ribu. Inipun akhirnya menghilang juga, dan sekarang yang ada di pasaran adalah yang namanya BROOMBASTIS; starter-pack-nya 275 ribu, dan tiap bulannya flat200 ribu!

kartuperdanaIM2Menurut saya itu aneh sekali. Kenapa paket yang lebih baru jadi lebih mahal, sementara tidak ada tidak ada competitive advantage baru / alias sama sekali tidak ada kelebihannya dari yang lama ? Entah orang-orang di luar sana apakah sudah pada protes atau belum, tapi tafsiran mudah saya adalah: si provider (IM2) nampaknya sudah kewalahan dengan bandwidth managementdengan banyaknya konsumen untuk paket BROOM, lalu mereka berupaya dengan memahalkan paketnya sedikit (BROOM XTRA) supaya menahan laju penambahan konsumen, ternyata peminat masih membludak. Akhirnya mereka memutuskan untuk membuat harganya jadi 2 kali lipat paket pertama. Kalau kita sudah tahu bahwa ternyata ada paket unlimited yang setengah harga lebih murah dari BROOMBASTIS, apakah kita tidak kesal mengadopsi paket itu ? Sistem pemaketan ini sungguh tidak menggunakan logika yang biasanya ada pada hubungan produsen-konsumen – ‘barang yang lebih baru dengan harga lebih mahal mestinya punya kelebihan baru dari yang lama’ – atau apakah kita mesti mengerti ini karena barangnya adalah berupa koneksi Internet, bukan barang fisik yang diproduksi secara massal, sehingga kita mesti maklum dengan sistem pemaketan seperti ini ?

Lesson learned: memang sudah punya modem jadi ingin cepat konek dan agak tidak sabar ketika kita memilih paket yang akan digunakan. Tapi nampaknya ada baiknya untuk mempelajari dulu struktur tarif dari layanan yang akan kita gunakan. Dari pengalaman saya, ternyata karena ada cukup banyak paket, sehingga cukup membingungkan juga. Jelas, di sini kalau tidak hati-hati, ada potensi besar kita salah memilih.

Saya akan sambung lagi dengan modemnya sendiri, dan paket IM2 yang sekarang sedang saya coba.

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.