Hampir satu minggu setelah saya ikut Workshop Inherent di Jakarta, saya putuskan untuk datang ke acara musyawarah nasional MUGI di Karang Tumaritis, Lembang (24-25 Oktober 2009). MUGI adalah singkatan dari Microsoft User Group Indonesia, sebuah brand community yang sekarang dari waktu ke waktu sedang getol melakukan roadshow tentang mulai dari product knowledge, tech update, tech skill penggunaan software, sampai ke pembentukan MUGI di tingkat regional. Motivasi saya datang ke acara ini sebenarnya hanya satu: apakah Microsoft memiliki solusi kepemilikan (atau “kepenggunaan” ?) software yang murah untuk mahasiswa ?
Sebenarnya saya sendiri sudah tahu sedikit banyak tentang adanya tawaran Microsoft untuk memajukan pendidikan dengan cara memberikan software gratis. Tapi apa yang saya ketahui tentang itu belum tegas benar. Setelah mengikuti acara ini, apalagi bertemu dan bicara langsung dengan orang Microsoft Indonesia yang ditugasi bagian academic, Pak Julius Fenata, saya baru mendapat pencerahan yang bisa memotivasi saya melakukan sesuatu. Ya, apalagi kalau bukan memfasilitasi mahasiswa agar software yang mereka gunakan tidak dikatakan sebagai bajakan.
Intinya adalah, Microsoft punya dua program untuk mahasiswa. Yang pertama adalah MSDN-AA (Microsoft Developer Network Academic Alliance), yang kedua adalah Dreamspark. Yang pertama, MSDN-AA, untuk bisa mendapatkan software dari Microsoft secara murah, sekolah harus mengadakan agreement dulu dengan Microsoft, melalui pembayaran sejumlah uang, tapi yang jumlahnya sangat jauh lebih murah daripada kalau harus membeli atau dengan cara lain. Dari agreement itu, lalu sekolah bisa mendistribusikan software-software yang sudah ditetapkan ke mahasiswanya. Di beberapa situs yang saya baca tidak ada penyebutan bahwa program ini adalah khusus untuk sekolah teknik atau yang berorientasi teknik (teknik apapun juga ?), tapi demikianlah penegasan Pak Julius. MSDN-AA tentu saja akan lebih mengena pada perguruan tinggi yang core study-nya adalah komputer.
Bagi saya kalau Microsoft memberikan solusi hanya untuk mahasiswa teknik, itu namanya tidak adil. Masih ada banyak mahasiswa yang studinya sama sekali tidak ada kaitannya dengan komputer, dan mereka sudah barang tentu menggunakan komputer dan software Microsoft (sekurangnya Windows dan Office). Untuk inilah, kata Pak Julius, program Dreamspark ditujukan. Tapi lagi, saya sampai sekarang belum menemukan informasi bahwa memang betul Dreamspark itu ditujukan untuk mahasiswa non-teknik. Alih-alih, saya malah menemukan bahwa software yang tercakup dalam Dreamspark itu adalah dari jenis yang sama sekali tidak akan bisa digunakan oleh mahasiswa non-teknik. Apakah misalnya kita bisa membayangkan seorang mahasiswa perhotelan atau mahasiswi keperawatan akan menggunakan Robotic Development Studio? Atau SQL Server 2008 for Developer? Ya bisa saja ada kemungkinan, tapi tentu secara umum tidak mungkin mereka akan punya kebutuhan untuk menggunakannya. Wikipedia sendiri mendefinisikan Dreamspark sebagai :
DreamSpark is a program set up by Microsoft to provide students with software design and development tools at no charge.
Dikatakan dengan tegas di situ bahwa software-nya adalah yang bersifat design and development tools, tapi saya masih ingat Pak Julius mengatakan bahwa untuk mahasiswa non-teknik bisa menggunakan Dreamspark. Bagaimana ini?
Ternyata solusinya sudah terbayang oleh saya, tapi ya karena belum saya konfrontasikan maka saya sendiri belum yakin benar. Salah satu software di Dreamspark adalah Windows Server 2003 (atau 2008). Bukankah kita bisa memasang software ini dan kita memperlakukannya sekedar sebagai workstation? Artinya, fitur server-nya tidak digunakan. Saya coba search, ternyata malah ada usaha untuk mempreteli sistem operasi ini sehingga hanya bekerja sebagai workstation saja. Kalau sudah begini, bukankah solusi untuk operating system sudah ada? Maksud saya, mahasiswa-mahasiswa non-teknik bisa kita sarankan untuk menggunakan Windows Server 2003, dengan memperlakukannya sebagai workstation saja. Soal mau ada modifikasi atau mempreteli komponen OS ini sehingga menjadi lebih streamlined atau fitur servernya benar-benar dihilangkan, itu urusan nanti. Yang jelas, untuk keperluan OS, mahasiswa non-teknik sudah ada solusinya.
Sekarang, bagaimana dengan keperluan untuk office software? Bukankah sebenarnya yang diperlukan oleh mahasiswa paling mendasar adalah OS dan office software? Kalau mau pakai Microsoft Office nampaknya tidak mungkin. Dreamspark tidak menyediakan software ini. Sebagai gantinya, apalagi kalau bukan Open Office yang gratis itu? Dengan demikian skenario penggunaan software secara legal untuk mahasiswa non-teknik adalah Open Office yang berjalan di atas OS Windows Server 2003 (atau 2008).
Saya sendiri merasa harus mencobakan keduanya secara langsung, baru saya akan umumkan ke mahasiswa. Sekurangnya saya bisa melakukan itu dalam lingkungan virtual dan sekaligus menginstal beberapa program populer lain untuk melihat seberapa normal program-program tersebut bisa berfungsi. Sementara itu sekarang saya dalam proses untuk inisiasi Dreamspark. Caranya ternyata gampang sekali. Tinggal mengumpulkan nama mahasiswa, NPM mereka, alamat email, dan dikirimkan ke Pak Julius.
Bagi sementara kalangan, barangkali solusi software untuk mahasiswa non-teknik adalah dengan Linux. Itu betul sekali, dan saya 100% setuju. Tapi masalahnya adalah untuk pindah ke Linux itu sangat sulit. Bukan saja soal mindset, tapi banyak mahasiswa sudah terlanjur familiar dengan user interface-nya Windows yang mereka gunakan (dan sebagian besar, bukan rahasia lagi, adalah yang bajakan). Windows Server 2003 masih ber-user-interface Windows yang familiar itu, sehingga ini bisa memecahkan masalah pilihan OS. OK, jelas akan ada masalah dalam hal penggunaan Open Office karena itu berpenampilan ‘agak beda’ dengan Office-nya Microsoft. Akan tetapi sekurangnya sebagian masalah sudah terselesaikan (dalam hal OS-nya). Soal familiarisasi Open Office, itu adalah sebuah PR yang harus kita kerjakan nanti, tapi yang jelas secara keseluruhan sudah ada konsep untuk solusi penggunaan software legal, khsusunya untuk mahasiswa non-teknik.
Saya akan menulis lagi tentang ini, terutama pengalaman saya menginstal Windows Server 2003, Open Office, dan beberapa program populer lain yang banyak digunakan mahasiswa.
Ditulis dalam Education, Komputer / Internet | Bertanda software | Leave a Comment »
Saya tulis ini setelah beberapa saat ada di Bandung. Barangkali akan kurang bisa menangkap detil, tapi sebagian besar saya masih ingat. Di hari kedua inilah semua yang inti dikemukakan, meski sebenarnya terlalu banyak. Ada yang tidak terlalu langsung berkaitan tapi ditampilkan. Bukankah ini adalah kumpulannya orang-orang Pusat Komputer di perguruan tinggi yang sebagian besar berminat untuk hal-hal yang teknis ? Lagian, judul pertemuan ini adalah workshop, tapi bagi saya ini lebih sebuah seminar, atau sekurangnya semiloka.
Sesi pertama diskusi panel pagi itu diawali dengan presentasi dari Direktur Akademik Dikti, yang diwakili oleh sekretarisnya. Dari judulnya, saya sudah membayangkan relevansi Inherent : “Pemanfaatan Jardiknas dalam Mendukung Program EPSBED (Evaluasi Program Studi Berbasis Evaluasi Diri)”, tapi sejauh yang saya dengar, uraian lebih banyak tentang EPSBED-nya sendiri. Lalu presenter kedua masih di sesi yang sama adalah sekretaris Ditjen Dikti, yang membawakan “Pemanfaatan Lapker Online untuk Perguruan Tinggi”. Persisnya, di sinilah saya benar-benar berkerut dahi. Apa yang dimaksud dengan Lapker Online ?
Sesi kedua adalah dari Direktur Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Ditjen Dikti. Rasanya semua presenter tidak menyebutkan dengan jelas namanya, atau saya sendiri yang kurang mendengar, jadi saya tidak bisa menuliskan nama beliau ini. Yang disampaikan adalah tentang “Pemanfaatan Jardiknas dalam Mendukung Program Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat di Perguruan Tinggi”. Uraiannya menarik, dan bisa membuat hadirin tertawa. Pada sesi ini saya bertanya sesuatu dengan merujuk pada apa yang sudah disampaikan Dirjen Dikti di hari pembukaan malam sebelumnya, yaitu tentang jurnal online. Beliau bilang, Dikti berlangganan beberapa provider jurnal di luar negeri supaya bisa diakses secara gratis oleh semua perguruan tinggi di Indonesia, dan untuk itu Dikti sudah mengeluarkan uang 24 milyar. Saya rada terhenyak, apa betul 24 milyar ? Tapi masa Dirjen Dikti bohong ? Maka pertanyaan saya adalah kenapa pemerolehan jurnal itu diandalkan hanya pada PT atau PIC di PT yang men-download-nya? Bukankah kalau begitu 24 milyar itu sudah digunakan secara tidak efisien ? Mestinya kan ada orang di Dikti yang men-download semua jurnal yang sudah ‘dibeli’ itu, lalu diletakkan di sebuah server yang tersambung ke Inherent, buat web interface-nya, lalu semua PT di Indonesia bisa mengaksesnya, dan yang penting semua itu sudah milik Indonesia. Kedua, saya bertanya tentang search engine yang mestinya bisa dikembangkan di dalam jaringan Inherent, tapi nampaknya Bapak presenter ini tidak ngerti maksud saya. Maksud saya begini, kalau kita mengakses situs ITB via Inherent, maka konten yang ada ITB harus dicari di-search engine internal ITB, demikian pula kalau kita ke situsnya UGM. Nah, ini akan merepotkan kalau kita mau mencari dokumen lintas situs PT. Bukankah akan lebih bagus kalau ada dedicated search engine di dalam VPN Inherent ? Misalnya saya mau mencari dokumen tentang Psikologi Kognitif. Melalui search engine itu saya tidak perlu satu-satu masuk ke situs PT dan mengetikkan frase itu pada search engine-nya, cukup pada sebuah tempat, dan mungkin saya akan bisa menemukannya di UI, UGM, Unhas, Unpad, atau yang lain. Ini perlu supaya fitur yang khas dari Inherent tidak hanya VidCon saja. Kita mau bilang apa tentang koneksi Inherent itu kalau untuk ke situs yang sama kita juga sudah bisa melakukannya langsung via Internet ? Seharusnya ada yang tidak bisa dilakukan via Internet, dan hanya bisa dilakukan via Inherent. Itulah poin saya. Apakah ini terlalu sulit untuk dimengerti ?
Yang berikutnya adalah dari PT. Lintasarta, dibawakan oleh Pak Budi Suyanto. Buat saya, sesi ini adalah sepenuhnya presentasi dalam rangka corporate knowledge atau malah mungkin promosi sekalian. Sebenarnya di sini bisa enak mengadukan bagaimana pelayanan teknisi-teknisi Lintasarta ke setiap PT dalam rangka instalasi, termasuk juga soal manajemen dan birokrasi antara Dikti dan Lintasarta. Saya tidak melakukan itu, meski sebenarnya ada alasan kuat. Bayangkan saja, katanya semua PT di Indonesia itu diberi jatah koneksi selama satu tahun (2008-2009), tapi apa yang mau dikatakan kalau pemberitahuannya saja baru sampai ke setiap PT bulan Juli 2009 ? Ke mana hilangnya waktu 6 bulan itu ? Ini jelas-jelas ada yang tidak beres dalam hal manajemen. Lebih parah lagi, ternyata bahkan sampai bulan Oktober ini, masih sangat banyak PT yang bukan saja koneksinya belum jalan, tapi perangkatnya belum sampai. Waduh! Sudah tinggal 2 bulanan lagi menjelang akhir tahun 2009. Kalaupun perangkatnya sampai lalu disambungkan, apa cukup waktu untuk menikmati Inherent? Belum lagi mungkin harus ada upaya Puskom setiap PT untuk mensosialisasikannya ke setiap dosen yang mungkin akan makan waktu. Di sini terpikir, sekurangnya, apakah fair kalau Dikti membayar Lintasarta sesuai dengan jumlah koneksi kalau kenyataannya demikian? Atau mungkin masalahnya tidak sesederhana ini? Mestinya pengumuman tentang koneksi ini sudah dilakukan sebelum tahun 2009, jadi tidak ada waktu yang terbuang. Saya masih beruntung, peralatan sudah sampai, setup hardware sudah, meski yang belum adalah setting di perangkat-nya, yang membuatnya sampai sekarang belum jalan benar. Bayangkan pada PT yang perangkatnya belum sampai. Begitu sampai, dipasang, dan tak lama kemudian dicabut lagi oleh Lintasarta (bayangkan pula PT yang untuk keperluan ini sudah terlanjur beli router fisik yang mahal, yang setelah koneksi dicabut jadi tidak terpakai lagi – masih untung kalau berikutnya digunakan untuk keperluan lokal).
Sesi-sesi berikutnya nampaknya tidak lagi terlalu sesuai dengan jadwal acara. Tapi yang saya catat adalah presentasi dari Pak Bambang yang cukup kocak. Di tengah presentasi beliau ini juga sempat terjadi gempa. Cukup membuat panik, tapi acara masih tetap bisa berlangsung. Buat saya, apa yang disampaikan oleh Pak Bambang seperti membuat konfirmasi dari apa yang selama ini saya bayangkan tentang Inherent dari segi praktisnya: tentang the nature of the network, apa yang bisa dilakukan dalam jaringan itu, relasi antara local node dan sub-local node, juga sedikit banyak bagaimana seharusnya kita mensikapi pelayanan yang diberikan oleh teknisi Lintasarta. Sementara itu di tengah-tengah presentasi & coffee break ada desas-desus soal router alternatif yang tidak perlu mahal. Dari seorang teman di Jogya, Pak Wawan, sebelumnya saya dapat info bahwa sebenarnya bisa menggunakan distro Zebra untuk kepentingan ini, dan sudah ada support OSPF di situ. Tapi kemudian ada seorang network administrator dari UI, Pak Awaludin, yang bilang ke forum bahwa di salah satu FTP di server UI (yang menggunakan inisial ‘kambing’ itu") tersedia sebuah software router yang support OSPF dan bisa dipasang secara live dari flash disk. Coba bayangkan, kalau saja saya tahu tentang ini, orang di Medan itu tidak perlu memberi saya uang jutaan untuk membeli router Cisco (sebagian, ini karena banyak orang yang tahu tapi tidak mau menuliskan di Internet tentang apa yang diketahuinya). Dari uraian Pak Awaludin ini juga saya lalu mendapatkan sedikit gambaran tentang apa itu OSPF, sebuah protokol yang akan mendahulukan jalur terdekat untuk mencapai suatu alamat. Ternyata keberadaan OSPF itu adalah dalam setting di mana koneksi Internet biasa dihubungkan dalam satu jaringan dengan Inherent. Jadi, kalau mau akses ke situs di luar Inherent seseorang akan dihubungkan langsung ke Internet, tapi kalau yang diakses adalah situs di dalam Inherent, masih dalam jaringan yang sama, router akan langsung membelokkannya ke Inherent, bukan Internet.
Pada jadwal acara ada diskusi, katanya. Saya bayangkan peserta akan dibagi ke kelompok-kelompok kecil, tahunya itu tidak terjadi.
Hari terakhir pada intinya adalah demo, terutama demo VidCon. Ini hanya bisa diselenggarakan kalau bandwidth-nya minimal 512Kbps. Buat saya yang hanya mendapat 128, yang bisa dilakukan hanyalah browsing. Mengenai hal ini, di sesi sebelumnya saya sudah tanya tentang: 1) pertimbangan apa yang membuat sebuah PT mendapat koneksi ini; 2) kenapa ada PT yang mendapat bandwidth besar dan yang kecil ? Ternyata pertimbangannya adalah karena PT yang bersangkutan memenangkan proposal K3 atau pernah mengirimkan proposal K3, meski tidak menang. Lalu soal bandwidth, gampangnya adalah, karena sebelumnya sudah dialokasikan cukup besar ke beberapa PT, maka yang ada sekarang adalah sisanya. Ya sudah, kalau begitu. Ketika itu saya langsung teringat kasus yang menimpa PT saya. Saya benar-benar mengirimkan proposal K3. Ternyata belum berhasil, tapi ketika saya datang ke Dikti untuk mengecek feedback dari para reviewer tentang kenapa proposal itu belum berhasil, si petugas di sana bilang bahwa proposal saya itu tidak ada! Dengan kekecewaan yang amat sangat saya mesti menerima kenyataan itu, padahal ketika itu ada tanda terimanya. Anehnya beberapa bulan kemudia, persisnya Juli 2009, ada surat yang datang memberitahukan bahwa karena PT anda sudah mengirimkan proposal K3 maka PT anda berhak mendapatkan koneksi Inherent. Nah! Ini artinya, di satu bagian di Dikti proposal saya dinyatakan sebagai tidak ada, tidak diterima, tapi di bagian lain dinyatakan sebagai ada. Gimana ini ? Saya lalu mengeluhkan soal document handling ini ke milis Kopertis-IV, tapi tidak ada seorang pun yang memberikan tanggapan.
Soal tidak memberikan tanggapan, akhirnya pada sesi di hari ketiga, tanpa saya duga ada seseorang yang selama ini saya cari-cari muncul di acara ini. Inisialnya A. Namanya disebutkan berulang-ulang oleh instalatur dari Lintasarta. Katanya kalau ada masalah hubungi saja beliau. Rasanya saya pernah mendengar nama itu sebelumnya. Saya duga dia akan mudah ditemukan oleh Google, dan dugaan saya benar. Hanya sayangnya orang ini ternyata tidak responsif. Saya sudah kirim email ke dia, menulis di facebook-nya, bahkan menulis pula di guest book blog-nya, tapi sampai detik itu saya belum menerima respon apapun darinya. Makanya ketika dia tampil ke depan, langsung saja saya ungkapkan itu. Dugaan saya, nampaknya pengelola Local Node tidak dibayar sama sekali oleh Dikti. Itu saja. Kalau tulisan ini dibaca oleh yang kenal dengan beliau (atau beliau sendiri), saya mohon maaf karena sudah menodong di depan panggung seperti itu, tapi I have desperately been in need of support, karena saya menganggap koneksi Inherent ini big deal. Penting sekali. Ketika itu saya bahkan tidak tahu diberi koneksi Inherent itu artinya apa, lalu router itu mesti yang gimana, mengontak Lintasarta itu ke mana, dan sebagainya.
Kalau gambaran di permukaannya seperti itu, saya kok jadi merasa harus merevisi persepsi saya pada organizational facade dari semua ini. Saya tidak akan mengatakannya secara langsung, tapi saya mau bilang bahwa nampaknya masih diperlukan waktu yang cukup lama agar jaringan Inherent ini serta segala aspek manajerial penyelenggaraaannya bisa berjalan dengan baik, efektif dan efisien. Jangan ada lagi time lag dalam hal pemberitahuan atau inisiasi, jangan lagi semua pihak yang terkait tidak responsif pada feedback (ini termasuk mau masuk jadi anggota ke milis Inherent-dikti@itb.ac.id saja proses approve-nya lama). Oleh karena itu sungguh sangat disayangkan kalau koneksi ini benar-benar akan berakhir tahun 2009 ini dan tidak bisa diperpanjang lagi.
Semua sesi workshop ini saya rekam melalui MP3 player, dan filenya dalam bentuk WAV nampaknya akan ada di halaman download situs Kopertis-IV tidak lama lagi. Selain itu, saya akan tuliskan lagi segala hal yang saya temukan, terutama nanti kalau koneksinya sudah jalan.
Ditulis dalam Education | Bertanda inherent | Leave a Comment »
Dari sejak saya cerita tentang ada orang yang mengirim uang jutaan ke rekening saya untuk dibelikan router Cisco hingga sekarang, sebenarnya koneksi ke Inherent belum 100% lancar. Kenyataannya malah, baru kemarin sore orang dari Lintasarta itu datang lagi setelah saya kirimi dia email. Saya pikir dia akan datang sendiri karena tahu koneksi di tempat saya belum beres. Untuk pertama kalinya pada kemarin sore itulah saya lihat sebentar apa dan bagaimana yang disebut koneksi VPN ke Inherent (Indonesia Higher Education Network). Tapi ketika saya coba lagi malamnya dengan setting yang sama, koneksi itu sama sekali tidak jalan. Dan keesokan harinya, here I am, saya ada di sebuah workshop nasional yang membicarakan tentang itu. Saya datang ke acara ini sementara saya baru beberapa detik saja kemarin melihat koneksinya sudah jalan, untuk kemudian mati lagi.
Sejak berangkat dari Bandung hingga saya tuliskan ini, di kepala saya sudah terbayang beberapa pertanyaan, tapi ketika saya sampai di hotel (Century Park) dan ngobrol dengan beberapa orang, ternyata kasus yang menimpa orang lain di tempat lain tidak kalah seru dan anehnya. Termasuk cerita tentang bagaimana mereka sampai mendapatkan koneksi Inhrent itu. Tapi yang menyenangkan adalah, workshop ini sebenarnya ajang berkumpulnya orang-orang yang pekerjaannya persis sama dengan saya. Yang menggembirakan, akhirnya saya temukan informasi tentang milis di mana orang-orang ini membentuk komunitas. Ini sudah saya cari-cari.
OK. Workshop ini dibuka oleh Direktur Jendral Dikti, Fasli Jalal, yang ketika saya terlambat masuk ruangan sedang cerita tentang betapa di Papua sana, pendidikan benar-benar sulit terselenggara, tapi dengan ICT semua itu bisa berjalan mengatasi berbagai hambatan. Singkat kata, ICT adalah sebuah terobosan yang benar-benar nyata terasakan manfaatnya. Lalu juga ada cerita tentang betapa tanpa ICT atau implementasinya yang setengah-setengah telah menjadikan banyak proses administrasi dan birokrasi, dalam hubungannya dengan PTN & PTS, sebagai penghasil tumpukan dokumen yang menggunung di kantor Dikti. Dengan ICT, proses-proses itu diharapkan menjadi lebih efisien. Nah, Jardiknas, yang bentuknya untuk perguruan tinggi disebut Inherent, adalah sebuah infrastruktur yang kedepannya akan memfasilitasi koneksi & interkoneksi segala hal itu.
Bentuk infrastruktur itu adalah VPN atau Virtual Private Network. Sudah ada sementara waktu saya mendengar istilah ini dan membaca apa pengertiannya, tapi setelah melihat dan mempraktikkannya sebentar kemarin itu, saya jadi ingin membahasakannya sendiri. Semoga benar. VPN adalah sebuah jaringan terbatas yang menggunakan cara pengaksesan konten yang sama seperti Internet (menggunakan browser dan URL yang persis sama dengan di Internet). Disebut terbatas karena konten dan koneksi yang tadinya terbuka di Internet itu dihimpun lagi dalam sebuah jaringan khusus yang akan lebih memudahkan lagi bagi orang-orang untuk mengaksesnya, terutama dari segi kecepatan. Jadi VPN nampaknya adalalah jaringan di dalam jaringan. Internet yang sudah merupakan jaringan global itu di dalamnya dibuat jaringan lagi untuk memudahkan akses pihak-pihak yang tergabung di dalamnya.
Oleh karena itu maka apa yang ada di dalam jaringan itu bisa pula diakses dari Internet secara langsung. Di sini segera muncul pertanyaan, apakah ada yang tidak bisa diakses via Internet ? Yang eksklusif hanya bisa melalui VPN ? Sejauh ini jawaban yang ada di kepala saya hanya VidCon alias Video Conference. Besarnya bandwidth di dalam VPN itu (yang rata-rata melebihi bandwidth yang normal dipakai ke Internet), digunakan untuk keperluan semacam seminar jarak jauh, kuliah, diskusi, atau apapun yang jarak jauh; menggunakan fasilitas kamera yang hasilnya langsung streaming di dalam VPN. Selain VidCon saya belum mendapatkan jawaban lain. Sempat pula terbersit, apakah sudah ada search engine yang khusus menangani konten-konten yang ada di dalam VPN ? Seorang teman ngobrol dari Jogya waktu makan malam tadi bilang bahwa itu tidak ada. Jadi, barangkali secara gampangnya, VPN ini ditujukan untuk interkoneksi ke komunitas perguruan tinggi yang resource-nya di organisir dalam bentuk situs; situs yang sama yang juga accessible via Internet, hanya bila diakses via VPN akan jauh lebih cepat.
Saya sengaja menuliskan ini dengan beberapa detil tertentu, sekaligus mendokumentasikan apa yang sekarang sedang hangat di pikiran saya. Sebab kalau tidak, bisa jadi karena banyak pekerjaan lain saya out of touch dan lupa. Selain itu, ini untuk mengobati kekesalan saya sendiri ketika searching ingin tahu apa itu Jardiknas, Inherent, VPN, dan segala macam istilah lain yang terkait, termasuk nanti yang teknis seperti menghubungkan router Cisco atau apa itu OSPF. Ketika itu saya hanya menemukan sedikit tapi tidak jelas, kalaupun ada itu selalu dengan bahasa yang tidak komunikatif atau barangkali 100% eksklusif teknis informatika. Mungkin memang saya kurang sabar ketika search, tapi kalau benar memang selama ini tidak ada, saya berpikir; masa di antara sekian banyak orang yang datang di workshop ini tidak ada yang menuliskan apa yang dia tahu ?
Dan saya tidak mau termasuk orang yang seperti itu!
Ditulis dalam Komputer / Internet | Bertanda inherent | Leave a Comment »
Ini adalah update dari review saya sebelum ini untuk Axioo Neon MNC 815C. Beberapa hari sesudah saya menulis review itu, saya mencoba mencari penyelesaian untuk dua masalah utama yang sudah saya identifikasi sebelumnya pada lingkungan Windows 7 di laptop ini. Masalah tersebut adalah soal display yang terpaksa jadi hanya 1024 x 768 sehingga tampilan gambar tidak tampak proporsional; dan soal output suara, yang jadi kresek-kresek kalau kita menggerakkan mouse ketika sedang playback mp3. Dua-duanya akhirnya menemukan solusinya. Untung saja, soalnya saya hampir menulis review Windows 7 (lagi) dengan penekanan pada masalah driver dan kompatibilitas.
Saya pikir dua masalah itu letaknya adalah pada driver. Ketika Windows 7 selesai saya instal, pada device manager tidak ada tanda seru kuning itu untuk entry display dan sound. Langsung saja sejak itu laptop ini saya pakai, padahal saya tahu bahwa di website-nya Axioo ada driver yang disediakan untuk Vista (yang suka diklaim akan jalan juga di Windows 7). Ketika itu, saya kira driver bawaan Windows 7 mungkin lebih bagus, jadi saya tidak tergerak untuk mencoba driver di website itu (apalagi itu dinyatakan untuk Vista). Lalu saya iseng coba-coba saja. Unduh driver-driver itu dan instal. Hasilnya ?
Ketika saya cek di bagian Screen Resolution, ternyata sekarang sudah ada pilihan 1280 x 800. Saya coba untuk ganti ke resolusi itu, dan sekarang tampilan bisa jadi penuh. Gambar tidak lagi cembung secara vertikal. Sayang sekali saya tidak membuat screen shot untuk device manager di bagian driver yang sebelumnya untuk perbandingan, tapi setelah saya instal driver untuk Vista itu, pada device manager kelihatannya seperti ini :
Seingat saya, memang driver version ini lebih tinggi dari yang sebelumnya. Tampilan lebih baik, refresh rate tetap sama, tapi tahun driver-nya adalah 2008. Kalau kita coba untuk Roll Back Driver, anehnya saya tidak mendapatkan driver yang sebelumnya, tapi sekedar Standard VGA Display. Jelas, driver ini tidak akan mungkin lebih baik. Yang menarik adalah, penggantian driver ini tidak hanya berpengaruh pada tampilan, tapi skor Windows Experience Index jadi berubah sedikit. Yang sebelumnya sub-skor untuk SiS Mirage 3 Graphics bisa dilihat pada review saya sebelum ini, setelah driver di-update, sub-skor-nya adalah :
Naik 0,2 poin! Mungkin memang kecil, tapi membuktikan bahwa sub-skor WEI ternyata tidak hanya ditentukan oleh hardware per se, tapi juga driver-nya. Barangkali kalau kenaikan sub-skor ini cukup tinggi, bisa berpengaruh pula pada Base Score.
Lalu soal sound driver, begitu saya instal driver dari website Axioo itu dan coba, ternyata suara keluar dengan mulus. Saya gerakkan mouse ke mana-mana, scroll up – down, lalu menjalankan dan mematikan program, suara di speaker sama sekali tidak terdengar cacat dengan kresek-kresek seperti sebelumnya. Kali ini saya membuat screen shot dari driver sebelum dan sesudahnya. Sebelumnya, driver-nya seperti ini :
Setelah di-update dengan driver dari website-nya Axioo itu, jadi seperti ini : ![]()
Ternyata High Definition Audio Device itu adalah Realtek! Angka tahun driver-nya 2008, tapi justru ini yang lebih bagus. Yang sebelumnya tertulis 2009 karena memang Windows 7 keluar tahun 2009. Ini bukti bahwa driver bawaan Windows 7 ternyata tidak sempurna.
Dengan adanya dua update ini, playback musik jadi lebih bagus (pada Audio Manager-nya bahkan ada beberapa pilihan efek ruang dan equalizer), dan tampilan bisa lebih lega serta proporsional, meski font jadi tampil sedikit lebih kecil. Semoga ini bisa menjadi referensi bagi pengguna laptop Axioo MNC Neon 815C dengan OS Windows 7.
Ditulis dalam Komputer / Internet | Bertanda laptop | Leave a Comment »
Terus terang, secara tidak langsung saya berhutang budi pada Pauline Tanuwijaya dari bhinneka.com untuk ini. Minggu lalu saya menerima email berisi angket dari situs itu yang menanyakan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan kualitas layanannya. Ini karena belum lama ini saya membeli barang di situs itu. Emailnya berisi sebuah link, yang kalau di klik maka akan membawa kita ke sebuah halaman yang isinya beberapa pertanyaan multiple choice, dan pilihan jawabannya ada di bawah pertanyannya. Kita tinggal memilih salah satu jawabannya dengan cara mengklik semacam bullet yang ada di depan hurufnya. Setelah selesai dengan semua jawaban, di bagian bawahnya ada tombol submit yang kalau di klik maka browser kita akan berganti halaman dan mengirimkan semua jawaban kita. Saya kira angket seperti ini dibuat dengan semacam pemrograman / script HTML tertentu. Ya memang pasti benar itu!, tapi maksud saya, mungkin ini dibuat secara custom-made atau gimana. Tapi di halaman yang muncul setelah tombol submit itu di klik ada tulisan “Powered by Google Docs”. Google What ???
Kebanyakan dari kita tidak menguasai script HTML. Kalau kita mau buat angket online semacam itu, barangkali kita harus minta seorang programer HTML untuk membuatkannya. Yang bikin kaget saya adalah ternyata sekarang ada fasilitas gratis dan mudah untuk membuatnya. Bahkan itu bisa dibuat embedded di dalam email, dan terlebih lagi, tabulasinya bisa berjalan otomatis. Ini benar-benar sebuah solusi luar biasa bagi siapapun juga yang berniat melakukan survey atau penelitian via Internet, di mana para respondennya memiliki akses Internet (atau sekurangnya sebuah email). Mungkin saya telat tahu soal ini. Tapi saya akan tuliskan di sini supaya lebih banyak lagi orang yang tahu.
Pertama, yang harus dilakukan adalah memiliki sebuah account di Google. Supaya mudah, saya katakan saja bahwa kita harus punya email di Google. Kalau kita login ke Google, maka otomatis kita juga akan login ke semua (atau beberapa?) layanan yang dibuat oleh Google. Dalam hal ini Google Docs adalah salah satu layanan Google di mana kita bisa membuat berbagai dokumen office tanpa kita harus menginstal program office di komputer kita. Ini karena program office-nya kita akses via browser (Inilah salah satu layanan yang disebut Cloud Computing itu). Setelah itu kita masuk ke situsnya Google Docs.
Untuk membuat angket itu, kita klik new dan pilih form. Lalu akan muncul tab browser baru dengan parent domain http://spreadsheets.google.com/ – dari sini kita rancang angket kita nanti akan seperti apa. Bagian Untitled Form bisa langsung kita isi dengan judul angket. Di bawahnya ada tulisan "you can include any text …..”, di mana kita bisa memberikan deskripsi lebih jauh tentang angket kita atau petunjuk pengisiannya. Lalu di bawahnya lagi, di kotak yang ada tulisannya Question Title, kita bisa menuliskan pertanyaan angket kita. Persis di bawahnya ada baris untuk Help Text. Maksudnya Help Text adalah untuk memberikan keterangan tentang pertanyaan di atasnya. Sebagai contoh pertanyaannya adalah “sebutkan makanan yang paling anda sukai”, pada bagian Help Text bisa dituliskan “pilih satu saja meskipun mungkin makanan yang anda sukai lebih dari satu”. Pada bagian Question Type, kita bisa memilih beberapa bentuk pertanyaan. Ini bisa dicoba sendiri. Tapi pilihan di sini bisa kita gunakan di awal angket, terutama yang bentuknya Text atau Paragraph Text. Text adalah untuk kata-kata yang singkat, misalnya untuk kepentingan data responden, kita bisa menanyakan nama atau alamat email. Sedangkan untuk Paragraph Text, mungkin bisa kita gunakan untuk saran, yang biasanya ditulis dengan kata-kata yang lebih panjang. Bila sudah selesai, kita harus memencet tombol Done, tapi di sebelahnya ada checkbox dengan tulisan make this a required question. Maksudnya, ini adalah pertanyaan yang harus dijawab oleh responden. Kalau tidak dijawab, maka angket nantinya tidak akan bisa di-submit. Opsi ini barangkali berguna bila ada pertanyaan yang berkaitan dengan pertanyaan sebelumnya. Misalnya pertanyaan “apakah anda memiliki smart phone ?”, bila jawabannya ‘tidak’ maka responden bisa langsung meloncat ke nomer sekian. Pertanyaan berikutnya mungkin akan hanya dijawab oleh mereka yang memiliki smart phone, sedangkan yang tidak punya tidak usah menjawabnya. Nah, pada pertanyaan yang tidak usah dijawab inilah, check box tadi tidak usah kita pilih / check.
Setelah semua pertanyaan selesai, kita bisa save form-nya. Berikutnya adalah kita bisa pilih Theme. Maksudnya adalah tampilan angket kita nanti akan seperti apa, ada ratusan pilihan theme untuk ini. Silahkan coba. Lalu ada menu Email This Form; maksudnya adalah form angket itu akan kita kirimkan pada orang lain via email. Kita bisa masukkan alamat-alamat email responden kita. Kalau kita sudah menggunakan Gmail, maka kita bisa menggunakan address book yang ada pada Gmail, dengan cara mengklik Choose from Contacts. Nah, yang penting di sini adalah sebuah check box yang tulisannya Include form in the email. Kalau kita check, maka angket yang kita buat tadi akan masuk ke dalam email yang kita kirimkan ke responden. Tapi ini dengan syarat, AWAS!, email respondennya bisa langsung menerima email yang bentuknya HTML. Kalau pada setting email client kita (atau mungkin yang web-based) kita buat supaya semua email yang datang akan terbaca sebagai plain text, maka angket bisa tidak akan tampil ‘sebagaimana mestinya’. Yang saya maksud dengan ‘sebagaimana mestinya’ adalah angket, di mana pilihan jawabannya bisa kita klik pada salah satunya, yang merupakan pilihan yang bentuknya berupa bullet. Kalau emailnya plain text, maka bullet itu tidak akan muncul. Maka dari itu untuk memastikan semua responden bisa menjawab angket dengan benar, saya kira pada bagian petunjuk pengisian angket mesti dijelaskan bahwa responden harus bisa melihat bentuk bullet itu. Kalau tidak, lebih baik responden diminta untuk menjawab angket ada di web melalui alamat (URL) yang sudah disediakan. Alamat itu ada pada bagian bawah ketika kita sedang menuliskan pertanyaan angket (You can view the published form here). Supaya tidak ribet, tulis saja email tersendiri, lalu minta responden untuk membuka alamat itu. Kita copy paste alamatnya ke dalam email itu, dan kirimkan ke para responden.
Bagian yang paling ‘cool’ dari semua ini adalah bahwa tabulasi-nya bisa dilakukan secara otomatis. Siapapun di dunia ini yang pernah melakukan penelitian menggunakan angket dari kertas (paper-based) akan mengakui betapa repotnya membuat tabulasi, apalagi kalau respondennya ratusan atau ribuan. Nah, untuk masuk ke tabulasinya, kita save dulu form yang sudah kita buat, lalu matikan tab-nya. Kita balik lagi ke Google Docs. Di sana akan kita dapati file yang sudah kita buat. Cukup kita klik dua kali pada file itu dan kita akan masuk ke sebuah spreadsheet. Coba anda menjawab sendiri pertanyaan angket yang sudah anda buat tadi, lalu submit. Apa yang di-submit langsung akan ditabulasikan di spreadsheet ini …… dan tentu saja spreadsheet ini bisa kita save atau export ke file Excel biasa, sehingga kita bisa melakukan perhitungan terhadap jawaban angket dengan komputer dalam keadaan offline. So cool!
Barangkali masih ada detil lain yang belum terjelaskan di sini. Itu harus anda oprek sendiri. Semoga tulisan ini berguna bagi teman-teman mahasiswa, dosen, atau pihak lain yang berniat melakukan penelitian via Internet.
Ditulis dalam Komputer / Internet | Bertanda angket, penelitian | 2 Komentar »