Feeds:
Tulisan
Komentar

Ini adalah update dari review saya sebelum ini untuk Axioo Neon MNC 815C. Beberapa hari sesudah saya menulis review itu, saya mencoba mencari penyelesaian untuk dua masalah utama yang sudah saya identifikasi sebelumnya pada lingkungan Windows 7 di laptop ini. Masalah tersebut adalah soal display yang terpaksa jadi hanya 1024 x 768 sehingga tampilan gambar tidak tampak proporsional; dan soal output suara, yang jadi kresek-kresek kalau kita menggerakkan mouse ketika sedang playback mp3. Dua-duanya akhirnya menemukan solusinya. Untung saja, soalnya saya hampir menulis review Windows 7 (lagi) dengan penekanan pada masalah driver dan kompatibilitas.
Saya pikir dua masalah itu letaknya adalah pada driver. Ketika Windows 7 selesai saya instal, pada device manager tidak ada tanda seru kuning itu untuk entry display dan sound. Langsung saja sejak itu laptop ini saya pakai, padahal saya tahu bahwa di website-nya Axioo ada driver yang disediakan untuk Vista (yang suka diklaim akan jalan juga di Windows 7). Ketika itu, saya kira driver bawaan Windows 7 mungkin lebih bagus, jadi saya tidak tergerak untuk mencoba driver di website itu (apalagi itu dinyatakan untuk Vista). Lalu saya iseng coba-coba saja. Unduh driver-driver itu dan instal. Hasilnya ?
Ketika saya cek di bagian Screen Resolution, ternyata sekarang sudah ada pilihan 1280 x 800. Saya coba untuk ganti ke resolusi itu, dan sekarang tampilan bisa jadi penuh. Gambar tidak lagi cembung secara vertikal. Sayang sekali saya tidak membuat screen shot untuk device manager di bagian driver yang sebelumnya untuk perbandingan, tapi setelah saya instal driver untuk Vista itu, pada device manager kelihatannya seperti ini :

vga2-ok

Seingat saya, memang driver version ini lebih tinggi dari yang sebelumnya. Tampilan lebih baik, refresh rate tetap sama, tapi tahun driver-nya adalah 2008. Kalau kita coba untuk Roll Back Driver, anehnya saya tidak mendapatkan driver yang sebelumnya, tapi sekedar Standard VGA Display. Jelas, driver ini tidak akan mungkin lebih baik. Yang menarik adalah, penggantian driver ini tidak hanya berpengaruh pada tampilan, tapi skor Windows Experience Index jadi berubah sedikit. Yang sebelumnya sub-skor untuk SiS Mirage 3 Graphics bisa dilihat pada review saya sebelum ini, setelah driver di-update, sub-skor-nya adalah :

newdriver

Naik 0,2 poin! Mungkin memang kecil, tapi membuktikan bahwa sub-skor WEI ternyata tidak hanya ditentukan oleh hardware per se, tapi juga driver-nya. Barangkali kalau kenaikan sub-skor ini cukup tinggi, bisa berpengaruh pula pada Base Score.
Lalu soal sound driver, begitu saya instal driver dari website Axioo itu dan coba, ternyata suara keluar dengan mulus. Saya gerakkan mouse ke mana-mana, scroll up – down, lalu menjalankan dan mematikan program, suara di speaker sama sekali tidak terdengar cacat dengan kresek-kresek seperti sebelumnya. Kali ini saya membuat screen shot dari driver sebelum dan sesudahnya. Sebelumnya, driver-nya seperti ini :sound old Setelah di-update dengan driver dari website-nya Axioo itu, jadi seperti ini :
sound-ok

Ternyata High Definition Audio Device itu adalah Realtek! Angka tahun driver-nya 2008, tapi justru ini yang lebih bagus. Yang sebelumnya tertulis 2009 karena memang Windows 7 keluar tahun 2009. Ini bukti bahwa driver bawaan Windows 7 ternyata tidak sempurna.
Dengan adanya dua update ini, playback musik jadi lebih bagus (pada Audio Manager-nya bahkan ada beberapa pilihan efek ruang dan equalizer), dan tampilan bisa lebih lega serta proporsional, meski font jadi tampil sedikit lebih kecil. Semoga ini bisa menjadi referensi bagi pengguna laptop Axioo MNC Neon 815C dengan OS Windows 7.

research Terus terang, secara tidak langsung saya berhutang budi pada Pauline Tanuwijaya dari bhinneka.com untuk ini. Minggu lalu saya menerima email berisi angket dari situs itu yang menanyakan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan kualitas layanannya. Ini karena belum lama ini saya membeli barang di situs itu. Emailnya berisi sebuah link, yang kalau di klik maka akan membawa kita ke sebuah halaman yang isinya beberapa pertanyaan multiple choice, dan pilihan jawabannya ada di bawah pertanyannya. Kita tinggal memilih salah satu jawabannya dengan cara mengklik semacam bullet yang ada di depan hurufnya. Setelah selesai dengan semua jawaban, di bagian bawahnya ada tombol submit yang kalau di klik maka browser kita akan berganti halaman dan mengirimkan semua jawaban kita. Saya kira angket seperti ini dibuat dengan semacam pemrograman / script HTML tertentu. Ya memang pasti benar itu!, tapi maksud saya, mungkin ini dibuat secara custom-made atau gimana. Tapi di halaman yang muncul setelah tombol submit itu di klik ada tulisan “Powered by Google Docs”. Google What ???
Kebanyakan dari kita tidak menguasai script HTML. Kalau kita mau buat angket online semacam itu, barangkali kita harus minta seorang programer HTML untuk membuatkannya. Yang bikin kaget saya adalah ternyata sekarang ada fasilitas gratis dan mudah untuk membuatnya. Bahkan itu bisa dibuat embedded di dalam email, dan terlebih lagi, tabulasinya bisa berjalan otomatis. Ini benar-benar sebuah solusi luar biasa bagi siapapun juga yang berniat melakukan survey atau penelitian via Internet, di mana para respondennya memiliki akses Internet (atau sekurangnya sebuah email). Mungkin saya telat tahu soal ini. Tapi saya akan tuliskan di sini supaya lebih banyak lagi orang yang tahu.
Pertama, yang harus dilakukan adalah memiliki sebuah account di Google. Supaya mudah, saya katakan saja bahwa kita harus punya email di Google. Kalau kita login ke Google, maka otomatis kita juga akan login ke semua (atau beberapa?) layanan yang dibuat oleh Google. Dalam hal ini Google Docs adalah salah satu layanan Google di mana kita bisa membuat berbagai dokumen office tanpa kita harus menginstal program office di komputer kita. Ini karena program office-nya kita akses via browser (Inilah salah satu layanan yang disebut Cloud Computing itu). Setelah itu kita masuk ke situsnya Google Docs.
googledocslogo Untuk membuat angket itu, kita klik new dan pilih form. Lalu akan muncul tab browser baru dengan parent domain http://spreadsheets.google.com/ – dari sini kita rancang angket kita nanti akan seperti apa. Bagian Untitled Form bisa langsung kita isi dengan judul angket. Di bawahnya ada tulisan "you can include any text …..”, di mana kita bisa memberikan deskripsi lebih jauh tentang angket kita atau petunjuk pengisiannya. Lalu di bawahnya lagi, di kotak yang ada tulisannya Question Title, kita bisa menuliskan pertanyaan angket kita. Persis di bawahnya ada baris untuk Help Text. Maksudnya Help Text adalah untuk memberikan keterangan tentang pertanyaan di atasnya. Sebagai contoh pertanyaannya adalah “sebutkan makanan yang paling anda sukai”, pada bagian Help Text bisa dituliskan “pilih satu saja meskipun mungkin makanan yang anda sukai lebih dari satu”. Pada bagian Question Type, kita bisa memilih beberapa bentuk pertanyaan. Ini bisa dicoba sendiri. Tapi pilihan di sini bisa kita gunakan di awal angket, terutama yang bentuknya Text atau Paragraph Text. Text adalah untuk kata-kata yang singkat, misalnya untuk kepentingan data responden, kita bisa menanyakan nama atau alamat email. Sedangkan untuk Paragraph Text, mungkin bisa kita gunakan untuk saran, yang biasanya ditulis dengan kata-kata yang lebih panjang. Bila sudah selesai, kita harus memencet tombol Done, tapi di sebelahnya ada checkbox dengan tulisan make this a required question. Maksudnya, ini adalah pertanyaan yang harus dijawab oleh responden. Kalau tidak dijawab, maka angket nantinya tidak akan bisa di-submit. Opsi ini barangkali berguna bila ada pertanyaan yang berkaitan dengan pertanyaan sebelumnya. Misalnya pertanyaan “apakah anda memiliki smart phone ?”, bila jawabannya ‘tidak’ maka responden bisa langsung meloncat ke nomer sekian. Pertanyaan berikutnya mungkin akan hanya dijawab oleh mereka yang memiliki smart phone, sedangkan yang tidak punya tidak usah menjawabnya. Nah, pada pertanyaan yang tidak usah dijawab inilah, check box tadi tidak usah kita pilih / check.
Setelah semua pertanyaan selesai, kita bisa save form-nya. Berikutnya adalah kita bisa pilih Theme. Maksudnya adalah tampilan angket kita nanti akan seperti apa, ada ratusan pilihan theme untuk ini. Silahkan coba. Lalu ada menu Email This Form; maksudnya adalah form angket itu akan kita kirimkan pada orang lain via email. Kita bisa masukkan alamat-alamat email responden kita. Kalau kita sudah menggunakan Gmail, maka kita bisa menggunakan address book yang ada pada Gmail, dengan cara mengklik Choose from Contacts. Nah, yang penting di sini adalah sebuah check box yang tulisannya Include form in the email. Kalau kita check, maka angket yang kita buat tadi akan masuk ke dalam email yang kita kirimkan ke responden. Tapi ini dengan syarat, AWAS!, email respondennya bisa langsung menerima email yang bentuknya HTML. Kalau pada setting email client kita (atau mungkin yang web-based) kita buat supaya semua email yang datang akan terbaca sebagai plain text, maka angket bisa tidak akan tampil ‘sebagaimana mestinya’. Yang saya maksud dengan ‘sebagaimana mestinya’ adalah angket, di mana pilihan jawabannya bisa kita klik pada salah satunya, yang merupakan pilihan yang bentuknya berupa bullet. Kalau emailnya plain text, maka bullet itu tidak akan muncul. Maka dari itu untuk memastikan semua responden bisa menjawab angket dengan benar, saya kira pada bagian petunjuk pengisian angket mesti dijelaskan bahwa responden harus bisa melihat bentuk bullet itu. Kalau tidak, lebih baik responden diminta untuk menjawab angket ada di web melalui alamat (URL) yang sudah disediakan. Alamat itu ada pada bagian bawah ketika kita sedang menuliskan pertanyaan angket (You can view the published form here). Supaya tidak ribet, tulis saja email tersendiri, lalu minta responden untuk membuka alamat itu. Kita copy paste alamatnya ke dalam email itu, dan kirimkan ke para responden.
Bagian yang paling ‘cool’ dari semua ini adalah bahwa tabulasi-nya bisa dilakukan secara otomatis. Siapapun di dunia ini yang pernah melakukan penelitian menggunakan angket dari kertas (paper-based) akan mengakui betapa repotnya membuat tabulasi, apalagi kalau respondennya ratusan atau ribuan. Nah, untuk masuk ke tabulasinya, kita save dulu form yang sudah kita buat, lalu matikan tab-nya. Kita balik lagi ke Google Docs. Di sana akan kita dapati file yang sudah kita buat. Cukup kita klik dua kali pada file itu dan kita akan masuk ke sebuah spreadsheet. Coba anda menjawab sendiri pertanyaan angket yang sudah anda buat tadi, lalu submit. Apa yang di-submit langsung akan ditabulasikan di spreadsheet ini …… dan tentu saja spreadsheet ini bisa kita save atau export ke file Excel biasa, sehingga kita bisa melakukan perhitungan terhadap jawaban angket dengan komputer dalam keadaan offline. So cool!
Barangkali masih ada detil lain yang belum terjelaskan di sini. Itu harus anda oprek sendiri. Semoga tulisan ini berguna bagi teman-teman mahasiswa, dosen, atau pihak lain yang berniat melakukan penelitian via Internet.

mnc Mungkin yang baca ini ingin segera tahu, termurah itu berapa ? Langsung saja: 4 juta rupiah. Mungkin akan ada yang lebih kurang atau mahal sedikit, tapi tidak akan jauh dari angka itu. Lalu kenapa saya bilang ‘Laptop Normal’ ? Sebutan ‘normal’ itu dalam pengertian ukurannya, karena sekarang ini beredar yang ukurannya ‘tidak normal’, yaitu yang disebut Nettop itu. Sedikit cerita tentang ini bisa dibaca pada entri blog yang lain, yang judulnya “My Second Luck … ”.
OK. Fokus tulisan ini adalah pada review barangnya. Soal spesifikasi sudah saya bicarakan pada tulisan sebelum ini, atau bisa dilihat di sini. Lalu bagaimana kenyamanan, kinerja, kelengkapan, daya tahan baterai, dan kualitas lainnya ? Saya ringkaskan saja per poin berikut ini :

  1. Soal kenyamanan, sekilas  rasanya biasa saja, tapi  ada yang tidak  begitu mudah Saya jelaskan di sini, yaitu soal feel. Soal rasa, terutama kedua belah tangan saya yang mengetik dan telapaknya yang bersandar di sebelah kiri & kanan trackpad. Terus terang saja tidak senyaman seperti kalau saya mengetik pakai laptop Toshiba, Acer, atau Asus. Ini subyektif sekali, meski sebenarnya itu sama sekali tidak mengganggu saya. Tapi yang penting soal mengetik adalah, tombol di kiri pojok bawah itu pada laptop ini adalah Ctrl dan bukan Fn. Saya bilang penting karena siapapun yang sudah biasa kerja cepat dengan komputer, shorcut itu sudah bagian dari muscle memory (dan shorcut banyak yang menggunakan kombinasi tombol dengan Ctrl). Posisi Ctrl di situ adalah yang ternyaman untuk mengetik dan menjalankan shorcut dengan cepat.
    Hal lainnya adalah soal display. Tadinya saya pikir bisa pakai resolusi 1280 x 800 seperti yang dijabarkan di spesifikasi, tapi ternyata pada Windows 7 Enterprise yang saya pakai sekarang, maksimalnya adalah 1024 x 768. Akibatnya adalah tampilan agak sedikit memendek secara vertikal. Tapi ini tidak terjadi kalau pakai XP atau Vista. Soal ini yang salah adalah saya, soalnya laptop ini secara implisit mengasumsikan OS yang akan digunakan adalah XP atau Vista. Saya tahu persis soal ini karena pada BIOSnya ada pilihan OS yang akan digunakan. Barangkali sebenarnya Windows 7 juga bisa pada mode 1280 x 800, hanya sekarang ini mungkin driver yang ada belum memungkinkan untuk itu. Untuk sekarang ini, saya lebih mementingkan kegesitan daripada tampilan, maka yang saya gunakan pada laptop ini adalah Windows 7, meski pada partisi yang lain saya juga pasang XP dan Vista.
    Bagaimana pada XP ? Resolusi 1280 x 800 bisa dicapai, dan soal kegesitan jangan tanya lagi. It’s blazing fast! (apalagi sekarang RAM-nya sudah saya tambah jadi 2 Giga). Hanya sayangnya partisi XP belum bisa saya akses lagi karena masalah instalasi multi OS yang belum bisa saya atasi sampai sekarang.
    Temuan saya lainnya adalah, pada setting default, Vista tampak terang sekali display-nya. Kalau kita turunkan, anehnya suka balik lagi menjadi terang beberapa saat kemudian, dengan indikator brightness yang tiba-tiba muncul di layar. Sementara pada Windows 7 menurut saya ukuran terangnya lebih proporsional, dan tidak tiba-tiba berganti sendiri terangnya. Mungkin ini karena Windows 7 lebih enhanced dalam urusan penghematan daya.
    Saran saya, untuk laptop ini gunakan XP saja supaya cepat dan nyaman di tampilan. Itu kalau anda tidak harus menggunakan OS terbaru seperti saya.
  2. Soal kinerja, saya hanya berpikiran realistis. Bukan  karena laptop milik saya ini adalah pemberian orang, tapi karena pekerjaan saya dengan laptop ini sebagian besar adalah word processing dan akses Internet, maka meski prosesor-nya adalah Celeron (dual core), saya sudah merasa sangat cukup. Ok, barangkali performanya tidak segesit kalau OS yang digunakan adalah XP, tapi pada Windows 7 yang saya gunakan sekarang, tidak begitu terasa adanya lag. Semua normal saja. Sebelumnya memang sempat saya khawatir, sehingga saya putuskan untuk meng-upgrade memory-nya menjadi 2 Giga. Tapi barangkali 1 Giga saja sudah cukup kalau menggunakan XP dan dengan load prosesor yang tidak terlalu berat dengan pekerjaan yang kita lakukan. Slot memory-nya sendiri ada dua, dan maksimal memory-nya adalah 4 Giga. Yang aneh, meski saya pasang 2 keping memory dengan tipe yang sama, CPU-Z hanya menyatakannya sebagai single channel. Barangkali ini persoalan motherboard-nya yang tidak suport dual channel. (tentang ini bisa dilihat salah screen shot CPU-Z di bawah)
    Kalau memory bisa ditambah pada laptop, itu tidak aneh. Tapi yang baru buat saya adalah ternyata laptop ini bisa di-upgrade prosesor-nya. Saya baca ini somewhere, entah di situsnya Terra Computer atau situs resminya Axioo. Tapi buat apa melakukan itu? Orang yang melakukan ini menurut saya kalau tidak bodoh ya sekedar gatel karena punya banyak uang. Kalau ingin yang bertenaga lebih, mestinya sudah memutuskan dari awal untuk membeli yang prosesornya lebih tinggi, dan harga laptop itu pasti akan lebih dari 4 juta.
    Bicara soal kinerja, pada Vista dan Windows 7 ada yang namanya Windows Experience Index (WEI). Pada Vista, saya dapati WEI-nya adalah 3, dan ini sama persis dengan pada Windows 7. Akan tetapi detil-nya ternyata tidak sama. Tentu saja ini dengan latar pemahaman bahwa rentang WEI pada keduanya adalah berbeda. Pada Vista adalah dari 1.0 – 5.9, sementara pada Windows 7 adalah dari 1.0 – 7.9.  

       Nilai Skor WEI pada Windows Vista Enterprise Service Pack 1 : 
    WEI V                  Nilai Skor WEI pada Windows 7 Enterprise :
    WEI 7

  3. Berkaitan dengan  kelengkapan, pada  waktu  beli, yang  ada  pada paket penjualannya adalah: a). laptopnya; b). charger; c). CD software driver dan OS Linux; d). manual. Sementara dari tokonya ada bonus berupa: tas laptop berbentuk ransel, mouse optik, dan lembaran silikon pelindung keyboard. Charger-nya standard saja. CD software ada dua, satu untuk driver dan satu OS Linux. Instalasi driver terbilang mudah. Si interface-nya akan langsung mengenali OS apa yang kita gunakan sehingga pada waktu menjalankan pertama kali kita tidak usah memilih file mana yang harus di klik. Untuk Windows 7 yang saya gunakan ini, saya gunakan semua driver untuk Vista, dan ketika saya lakukan auto update sama sekali tidak ditemukan adanya update apapun. Demikian pula halnya dengan XP dan Vista.
    Yang disayangkan adalah paket penjualannya tidak menyertakan OS yang licensed. Padahal laptop / nettop lain sudah menawarkan ini. Untung saja kantor saya sudah melisensikan Windows, sehingga paketnya tanpa OS pun tidak masalah buat saya. Tapi apa yang bisa kita harapkan lagi dari sebuah laptop normal dengan harga termurah ini ? Soalnya kalau kita ingin ada bundle OS, sudah barang tentu harganya tidak akan bisa 4 juta.
  4. Bagaimana  dengan  daya  tahan  baterai ? Barangkali  karena pengaruh processor yang digunakan, laptop ini tidak begitu awet dayanya. Tapi menurut saya ini lumayan normal. Apakah kita berharap akan duduk berjam-jam bekerja dengan laptop tanpa colokan listrik sama sekali ? Tentu tidak. Berdasarkan pengalaman sejauh ini, baterai Neon MNC 815C bisa bertahan sekitar 2 jam lebih untuk mengetik normal, dan tanpa adanya background task yang lain. Pada Windows 7 (yang versi final-nya ini dikenal paling awet daya dibanding OS Microsoft yang lain), ada beberapa mode power: Balanced, Power Saver, dan High Performance. Yang saya katakan 2 jam lebih itu adalah pada mode Balanced. Pasti akan lebih lama lagi kalau digunakan dengan mode Power Saver. Adapun baterainya sendiri berjenis Li-Ion buatan Mitac dengan output 11,1 V dan kekuatan 4400mAh. Baterainya sendiri kata yang jual diberi garansi 2 tahun. Semoga saja itu benar.
    Ada yang menarik soal baterai. Pada iklan Axioo di majalah CHIP dikatakan bahwa apabila charging sudah selesai sampai 100 % maka charger tidak perlu dilepas, karena secara otomatis baterai akan tidak di-charge lagi. Aliran listrik dari charger akan langsung ke laptop, tidak akan mampir ke baterai. Ok, bagus saja kalau begitu, tapi saya tidak mau mengikuti saran itu. Dari sejak pertama saya gunakan, laptop ini selalu stand bye begitu saya pulang kantor sampai pagi. Kalau libur bahkan saya nyalakan terus seharian. Saya lakukan itu dengan laptop dalam keadaan nyambung ke listrik, tapi baterainya saya cabut. Dengan perlakuan seperti itu, sejauh ini keadaannya baik-baik saja.
  5. Kualitas suara. Bicara  soal ini, ternyata  memang benar  kalau spesifikasinya memang optimal untuk XP atau Vista. Saya harus menulis begini karena pengalaman saya mem-playback musik di Windows 7 benar-benar beda dengan di kedua OS yang lain itu. Tidak ada masalah yang berarti pada XP atau Vista. Output suara mulus saja, meski kita sedang ngetik atau mengoperasikan mouse untuk keperluan apapun di desktop. Tapi pada Windows 7, ternyata aktifitas kita berpengaruh pada output suara. Ketika mengetik memang tidak terdengar ada gangguan, tapi ketika menggeser-geser mouse / scroll up down, pada speaker keluar suara gemerutuk / kresek-kresek. Buat yang senang bekerja sambil mendengarkan musik, ini tentu akan tidak nyaman. Suara itu sebenarnya tidak dominan sekali, tapi terutama ketika kita menjalankan atau mematikan program lain gemerutuk itu akan muncul sesaat, lalu hilang. Yang jelas, ini sangat tidak ideal bagi mereka yang melakukan pekerjaan merekam sambil melakukan pekerjaan lain. Sekali lagi, ini adalah pada OS Windows 7. Pada XP dan Vista saya sama sekali tidak menemukan gangguan ini. Apakah barangkali saya harus menunggu Windows 7 Service Pack 1 ? Pada device manager, sound device-nya hanya disebut sebagai High Definition Audio Device saja.
  6. Platform 64 bit. Pada  halaman  WEI, baik  di  Vista  atau  pun  di Windows 7 kita  bisa meng-klik : View and print detailed performance and system information. Dari informasi di situ kita bisa tahu apakah sebuah komputer bisa menjalankan OS 64 bit atau tidak. Ternyata Neon MNC 815C ini bisa untuk 64 bit. Tapi saya tidak jadi terus menginstalnya. Masalahnya terletak pada driver. Semua driver bisa terpasang dengan baik, kecuali driver untuk Wifi. Ketika itu saya coba instal Windows 7 Enterprise 64 bit, tapi driver wifi yang ada ternyata tidak bisa membuat namanya muncul di device manager. Jelas, kalau sudah begini Wifi tidak akan jalan. Sudah saya cari di Internet kalau-kalau ada versi 64 bitnya. Ternyata tidak / belum ada. Chip-nya adalah Realtek RTL 8187B. Nampaknya untuk ini saya tidak perlu mencoba lagi untuk XP 64 bit atau Vista 64 bit.

Sejauh  ini  kurang  lebih  itulah  penilaian  saya  pada  Axioo  Neon MNC 815C. Jelas bukan yang terbaik, tapi nyata-nyata adalah the best bang for the buck. Kalau anda membeli laptop sekaligus berharap ada nilai gengsinya, maka Neon MNC 815C bukan untuk anda. Tapi kalau dengan budget yang terbatas anda ingin punya laptop untuk bekerja dan produktif, Neon MNC 815 bisa menjadi pilihan. Tapi sejauh yang saya tahu, pilihan itu mungkin tidak /belum ada. Soalnya sampai sekarang saya belum menemukan ‘laptop normal’ lain yang harganya bisa bersaing dengan keluaran Axioo ini.
Berikut ini adalah screen shot hasil pembacaan CPU-Z :
cpuz-1cpuz-2 cpuz-3 cpuz-4cpuz-5cpuz-6

VT12 Sudah cukup lama saya membeli modem CDMA ini. Merek yang tertera pada bagian luarnya adalah Venus, tapi sebenarnya ia menggunakan chip Huawei. Entah distributor atau perakit, tapi penanggungjawab barang ini di Indonesia adalah PT. Subur Semesta. Tipe barang ini adalah VT-12. Pada paket penjualannya disertakan beberapa kartu CDMA. Seingat saya ada Fren, Fleksi, StarOne, dan satu lagi saya lupa. Harganya sekitar 500 ribuan. Alasan saya berhenti menggunakannya ketika itu adalah karena saya tidak puas dengan kecepatan koneksi dan tarifnya. Kalau tidak salah, saya membelinya awal tahun 2008 (ketika kondisi koneksi Internet via CDMA belum seperti sekarang).
Ketika saya coba dengan Fren, koneksi berhasil, tapi browsing sama sekali tidak bisa. Anehnya login ke Yahoo Messenger tidak masalah. Chatting juga berjalan normal. Dengan StarOne, sama sekali tidak jalan untuk apapun juga. Dengan Fleksi, koneksi berhasil dan kecepatannya luar biasa cepat. Browsing sana sini dengan multiple windows tidak masalah. Tapi yang jadi masalah adalah tarifnya. Hanya beberapa menit browsing, pulsa langsung berkurang sebanyak 40 ribu. Saya pikir kalau begini caranya modem ini tidak akan saya pakai kecuali kalau emergency saja.
flexi unlimited Tapi sudah beberapa minggu terakhir ini saya gunakan lagi modem ini. Ini karena ada tawaran koneksi unlimited dan Telkomflexi. Tarifnya amat sangat murah. Bisa langganan per hari atau per minggu. Per hari Rp 2.500,- sedangkan per minggu Rp 15.000,- Penjelasan lengkapnya dapat dilihat di situsnya Telkomflexi. Kecepatannya sungguh memuaskan, meski di awal-awal saya mengalami masalah dan modem yang kadang hang. Saya akan ceritakan pengalaman saya itu di sini.
Tapi terlebih dahulu saya garisbawahi bahwa apa yang saya nikmati sekarang ini mungkin umurnya tidak akan panjang. Soalnya, layanan unlimited ini akan berakhir tanggal 31 Oktober 2009. Saya sudah mendapatkan pemberitahuan via SMS mengenai keberadaan layanan ini, tapi saya telat mencobanya. Memang menyesal juga, tapi daripada tidak mengalami sama sekali, ya saya manfaatkan koneksi murah meriah ini setiap hari.
Untuk hal ini saya sudah telpon 147. Kata si operator, belum ada kabar lagi untuk koneksi unlimited setelah 31 Oktober. Kalau pun diakhiri kita masih bisa menggunakan layanan yang tidak unlimited (atau reguler), yang tarifnya adalah Rp 5,- per kilobyte. Sekilas murah, tapi kalau kita online terus, maka angka segitu adalah mahal! Sebenarnya saya tahu ini adalah dalam rangka promosi yang akan menggiring pengguna untuk nantinya terus menggunakan tarif yang 5 perak itu. Strateginya kan begini, sekarang pengguna dimanjakan saja dengan paket unlimited yang sangat murah. Barangkali karena murahnya, pengguna tidak sadar bahwa di dalam dirinya akan terbentuk pola penggunaan tertentu berkat segala macam aktifitas yang dijalankan melalui koneksi yang terus-menerus itu. Karena murah dan menggunakannya terus-menerus maka kebutuhan yang tadinya mungkin sekedar laten bisa jadi mulai dapat prioritas. Pada orang yang tingkat kebutuhannya menengah, maka karena dia terlena dengan kemurahan paket ini, bisa jadi merasa bahwa kebutuhannya sebenarnya tinggi. Ketika nanti paket unlimited itu berakhir, tarif sudah berubah, tapi SIM card masih sama, dan ‘tingkat kebutuhan’ sudah terbentuk pada para pengguna. Maka di sini diperhitungkan ex pengguna paket unlimited akan dengan sukarela menggunakan paket reguler. Mungkin pada kenyataannya ini tidak akan terjadi persis demikian. Tapi saya kira begitulah strategi promosinya, yang sebenarnya juga bisa kita gunakan untuk memahami segala macam promosi lain, yang di awalnya selalu dengan iming-iming ‘murah’.
stop working Sekarang saya ingin bicarakan modem dan koneksinya. Modem Venus VT-12 ini pada paket penjualannya juga diperlengkapi dengan earphone dan mike kabel kecil. Artinya, selain dipakai untuk modem, barang ini juga bisa digunakan untuk menelpon (Saya belum mencoba menelpon). Selain itu, yang penting adalah modem ini diperlengkapi dengan software yang pada paketnya disertakan dalam sebuah CD kecil. Selain software, tentu saja driver. Saya sudah gunakan pada XP, Vista, dan Windows 7, drivernya sama sekali tidak ada masalah. Yang bermasalah justru software-nya. Untuk penggunaan yang cukup lama, software itu sering jadi hang, lalu ada permintaan agar kita mematikannya. Setelah dimatikan, software itu bisa dijalankan lagi, dan tetap bisa menjalankan fungsinya secara normal. Fungsi yang ditampilkan oleh software itu adalah sebagai interface connect / disconnect; menelpon, SMS, buku telpon, log telpon, dan yang soft venus terpenting adalah keterangan tentang durasi dan volume data yang digunakan. Modem ini juga diperlengkapi dengan antenna yang bisa diputar-putar posisinya, tapi dari yang Saya alami, pada posisi seperti apapun sinyal tetap saja penuh. Nampaknya bisa diputar-putarnya itu hanya soal estetik saja. Yang penting asal antenanya terpasang. Saya yakin keberadaan antena ini penting, tapi sayang konstruksinya tidak kokoh. Orang yang tidak hati-hati menggunakannya bisa mematahkan tangkai kecil yang hanya disambung sekrup itu. Tentang SIM card holder-nya, saya berpendapat konstruksinya jelek sekali. Ringkih. Nampaknya tidak dirancang untuk sering ganti-ganti kartu. Kalau kita memang sering ganti-ganti kartu, kita harus melakukannya dengan hati-hati, atau akan merusakkan dudukan SIM card.
Di hari-hari pertama saya menggunakan Flexi Unlimited ada kejadian yang harus saya catat di sini. Ternyata, setting koneksi tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita isikan pada software modem ini. Kalau kita tidak perhatikan ini, tidak saja Internet tidak akan nyambung, tapi pulsa yang ada akan habis secara drastis. Kejadiannya begini: ketika sudah berhasil konek, saya tidak mematikan laptop selama hampir dua hari. Ketika saya matikan, nyalakan lagi, dan coba konek Internet, di situlah masalah muncul. Modem tidak mau konek ke Internet. Sudah saya periksa setting di software itu berkali-kali, dan coba berkali-kali, tetap saja tidak mau nyambung. Saya juga berpikir bahwa mungkin jaringan sedang errror dan saya harus menunggu beberapa saat. Sudah saya tunggu cukup lama, tapi hasilnya sama saja. Iseng, saya memeriksa pulsa yang ada di kartu. Saya ingin memastikan apa betul koneksi unlimited ini tidak memakan pulsa; apa betul pulsa yang digunakan hanya 15 ribu perak itu. Ketika saya terima balasan dari perintah *99#, saya terkejut karena pulsa saya tinggal sekitar 1000 perak saja. Wah, gimana ini ?
Saya putuskan untuk telpon 147. Saya ceritakan masalah saya itu. Karena tidak sabar menunggu solusinya, saya bahkan sampai menelpon 3 kali lagi dan diterima oleh operator yang berbeda. Operator yang terakhir meminta saya untuk mengetikkan *95#. Perintah itu adalah untuk mengetahui apa saja yang terakhir dilakukan oleh pengguna. Ternyata yang muncul adalah seperti ini : (saya kopi langsung dari SMS balasannya)
[P NONE 15-09-09 00:04:22(0 det) Rp.3000][P NONE 15-09-09 00:06:58(0 det) Rp.2706][P NONE 15-09-09 00:42:16(0 det) Rp.1290]
salah Aneh sekali, kenapa durasi 0 detik tapi tarifnya sedemikian mahal. Lagi pula kok tarifnya berbeda-beda. Si operator bilang bahwa ini mungkin karena kesalahan setting pada Internet Connection di komputer. Setting modem memang sudah benar, tapi setting di komputer belum kompak dengan setting itu, akibatnya ketika saya coba konek lagi beberapa kali itu pulsa ikut terpakai. Gila, hanya coba-coba konek saja tarifnya sampai ribuan begitu ? Si operator menyarankan saya untuk menjalankan Internet Explorer, klik Tools, Internet Options, Connections, dan Settings. Ternyata username yang ada di situ tidak sama dengan username yang dikirimkan via SMS ketika pendaftaran Flexi Unlimited. Di sana yang tertulis adalah telkomnet@flexi, sementara yang seharusnya adalah ******@free (****** adalah username yang diberikan ketika kita mendaftar). Saya ganti itu, dan coba lagi konek. Ternyata berhasil.
Hingga sekarang (sudah sekitar 2 – 3 mingguan) saya tidak mengalami masalah apapun dengan modem ini. Di kantor saya sudah pake Telkomspeedy, tapi begitu sampai rumah, laptop saya nyalakan dan konek ke Internet dengan modem ini sampai keesokan paginya. Modem bisa jadi agak hangat, tapi tidak sampai panas sekali. Biasanya kalau komputer didiamkan lama, koneksi sering menjadi error. Yang saya lakukan adalah disconnect, lalu connect lagi. Hal lain adalah soal download. Bila file yang di-download ukurannya besar, ada kecenderungan untuk mogok di tengah jalan, dan di resume juga tidak menyelesaikan masalah. Saya hanya sekali saja bisa berhasil download hingga 100 mega lebih dengan Google Chrome, selebihnya selalu saja gagal. Tapi nampaknya tidak akan demikian kalau kita menggunakan download manager.
Sempat kepikiran, apa yang akan saya lakukan setelah 31 Oktober ? Apakah akan menggunakan layanan reguler ? Ya kalau tidak ada provider CDMA lain yang memberikan layanan seperti ini, saya hanya akan menggunakan modem ini sebagai cadangan saja, kalau ada keadaan darurat harus periksa email atau kirim email. Saya dengar sekarang ada pilihan lain, yaitu menggunakan kartu Smart, yang tarifnya per kilobyte adalah 0,1 rupiah dengan bandwidth besar, meski untuk itu kita harus beli modem EVDO yang harganya sejutaan itu. Ketika saya baca-baca tentang Smart, saya kaget bahwa frekuensi yang digunakan adalah 1900 Mhz. Jadi untuk Smart nanti saya sama sekali tidak bisa menggunakan modem Venus VT-12 ini. (Semoga nanti Telkomflexi memberikan perpanjangan layanan Flexi Unlimited!)

I decided to write this in English just to give it a try. This is about my experience when I had to accompany one of my boss to buy a nettop. I title this ‘second luck’ because during the past fasting month I got two surprises, one of which I have written prior to this entry, and the second one is the one that you are reading now. This story can also be taken as a laying out of my personal view on the presently popular device: nettop.

It started when I was asked by one of my bosses for the best laptop in the market that fits for him. He said that he heard laptop price has become affordable. “There are ones around three million rupiah”, he said. I explained that ‘the three million ones’ were those that were different with what I called ‘normal laptop’. It is called UMPC (Ultra Mobile Personal Computer), or people call it ‘nettop’. I didn’t give him long speech about it but giving him a CHIP magazine that has review on some nettops in it. I said, just believe in the review because the magazine has a good reputation (at the same time I kinda set my self free from the responsibility :) The review put three brands / types as the most recommended ones: Acer Aspire One D-150, MSI Win U-100 plus, and Advan A1N70T. I think the latter would not be available globally as it’s a local product (said to be so, but I don’t really believe it’s 100% made in Indonesia).

As there are still 3 choices, he asked me to recommend one that is most worth buying. I am personally more into MSI Wind. Acer and MSI use the same type of processor (Atom N-280) and with almost the same specs. However, it is not the case with the keyboard. MSI has larger keyboard size, and that is sure going to enhance typing. (I forgot the exact number of the size). While in case with Advan, it has the same keyboard size with the Wind but Advan uses a lower speed processor (N-270), although the difference with N-280 doesn’t seem to be that much. I also showed him some reviews from Internet on MSI Wind U100 Plus. Having all that, he came to be sure that the Wind was the one that he would buy.

MSI_wind_u100 My search result has leaded me to PT. Alfa Artha Andaya, a distributing company for MSI products. The good news was, it has a branch office in Bandung. It was in BE Mall, and I made the call right away to ask the price. It turns out that the price is higher than 3 Millions Rupiah. With the standard spec, and free bonus of an optical mouse and carrying case, the Wind is tagged for exactly 4 million. When I told him the price, he seemed to have a second thought about it, but I convinced him that the Wind is the best among the rest (at least from the lines of nettops reviewed in CHIP). In addition, CHIP is a magazine has long been known for its reputation for product review. It was only by chance that I still had an old edition of CHIP that has review on early version of nettops. That was at the time when nettop was about to be popular. Even that old review put MSI Wind U100 (without plus) as the all round best product, and at that time the price was 5,8 million. I left him with the decision and at the same time I recommend him some other reviews about nettop from Internet.

Few days later, he called me, saying that he had his mind set for that MSI Wind U-100 plus, also asking me when I could accompany him to BE Mall. It just so happened that I had nothing else to do that afternoon, so I said yes, and off to BE Mall right away. Thanks to Internet, to make a purchase I don’t have to go from one store to another. Once we get to BE Mall we just ask people for a few directions and within minutes we could locate the store. The Alfa Artha Andaya is located at one of the corners at the first floor. Then we ask for the Wind, but once my boss saw it, I got this unexpected response from him. He complained for the small size of the screen. I replied that it was meant to be so and that also goes for the all three-million-range-of-price nettops. It has such size because it is designed to be easy-to-carry / portable. I cought him thinking with a little dissapointment in his face, then he tried to type something on the keyboard, as if he wanted to try how the keyboard felt. He didn’t want to stay longer and then rushed me to go outside while telling me that he wanted to look for some others as comparison.

We hit some other stores and found a few brands that were not reviewed by CHIP. They were Lenovo, Elevo, and Toshiba, but since they belong to the same class, the size of the screen were not much different. Elevo and Toshiba was more exprensive than MSI Wind, but Lenovo is exactly at 4 million. Once again he complained for the screen size. How could one be able to see anything properly thru such a small screen ? To be honest, that was actually the first time I ever examined nettop. I knew already that the screen in average was around 10,1’ at best, but I never knew that it was actually THAT small (I didn’t have any idea of how small 10,1’ is before !!). I was quite stunned my self and kind of changing my secret wish so far that I also want to have one. This is not meant to be offensive but honestly, just what kind of productivity you could bring out from such a computer ? It’s more like a toy to me, although the design distracts you for some rather serious device. I took the chance to try out Lenovo and Elevo at two different stores. I felt like I had to type carefully or I hit the wrong letters. I know that for any kind of quirks and bizarrenes in the world, all we have to do is to afford some time to get used to them, but if I don’t feel comfortable with nettop, it sure would matter worst for my boss who are older and have started having problem with his eyesight.

I thought that was not his lucky day because I foresaw he would go home empty handed. But the running of the day has turned out to a different path when we accidentally saw a normal size laptop but at the same price with MSI Wind. At first I didn’t believe what I saw but when I found the type of processor in it, I could understand the tag price, but with a sheer doubt in mind. The processor was Celeron, but it’s a dual core Celeron! The brand name is Axioo, the type is MNC 815C. I examined the specs and concluded that it’s far more superior than any nettop in the market. In comparison with MSI Wind U-100 plus, the specs of the two are as follows :

                        MSI Wind :                             AXIOO MNC 815C :

Processor         Intel Atom N-280                   Intel Celeron 2 Core T-3000

Memory            1 Gigabyte                             1 Gigabyte

Max Memory     2 Gigabye                              4 Gigabyte

Harddisk          160 Gigabye                           250 Gigabye

Chipset            Intel 945GSE                          SiS M672 + SiS 968

VGA                  Intel® GMA 950                     Sis Mirage 3+

Screen             10,1’ WSVGA TFT                    14,1’ WXGA TFT

Opt Drive         -                                              DVD Writer

For other additional peripherals, such as camera, wifi, usb, audio, and so forth, they come as standard as what others offer, but eight points above should already make clear of which one is superior. The most interesting point here is that both are offered with the same price: 4 million. Ok, anything with SiS in it, based on my experience, belongs to low end line of computers, but I think it should not always be the case, minding that my experience were mostly on desktop computers. If I were faced with this choice, it is definitely not a dilemma. I would not have a second thought on choosing.

mnc815c In regard with processor, it is crystal clear that Axioo’s is more powerful. Yes, it is true that Celeron has smaller L1 cache, but the clock is at 1,80 Ghz, while the Atom is at 1,66 Ghz. Not to mention, it’s a dual core, meaning that the processing can be run in parallel (the workload is allocated to two cores) resulting faster execution. The amount of standard physical memory is the same (1 Gig), but the expansion potential is different. Wind can only be at max 2 Gig, while Axioo can be as much as 4 Gig. This can be crucial when it’s decided that the computer is to use the latest OS, like Windows 7 or to run 64 bit OS. As with harddisk, it is also clear that Axioo’s wins. The same goes with the screen, as this is a ‘normal size’ laptop. Last but not least, it’s the existence of optical drive in Axioo, while one could only wish that to exist at the Wind. Both are offered at the same price. Having seen and compared the two, my boss changed his mind, making all of the reviews that he had read before came to be good for nothing.

Then he decided to buy Axioo, but what surprised me was that he asked for 2. I thought he stuck on 4 million for the reason of budget constraint. Supposedly he had at least 8 million, then I should have been able to show him a much better / powerful laptop. I pointed that out to him and he understood, but he didn’t change his mind on buying 2. And this was what took me by surprise: he said that I could have one of the laptop. I was like, ‘WHAT ?’ He knew that the laptop that I had been using was the one that owned by the office. I myself could only wish that I could have one. He tells me that he buys me the laptop so that when he has trouble with his one, he could just call me because we have the same laptop. He, he … whatever you say, I said by heart. Who could resist such an offer ? And when I write this, I have used the laptop for almost 2 weeks now. So far so good.

I plan to write a more in depth review on Axioo Neon MNC 815C later.

BTW: so far my search has not found any more brand with the same price for ‘normal size’ laptop. The 815C is really a much better choice than the tiny, minuscule so-called nettop.

(Hey, I could write all this in English!)

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »