Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Personal’ Category

Saya jadi ingat ketika jaman saya masih naif dulu :), yaitu ketika saya pernah mempertimbangkan bahwa saya ingin menjadi penerjemah profesional, dan untuk itu maka saya mencari tantangan. Sudah ada dua buku keluaran PT. Pos tentang katalog perangko tahunan yang edisi Inggrisnya saya kerjakan, juga ada beberapa proyek kecil lainnya.
Lalu ada seorang teman yang menawari saya pekerjaan menerjemahkan, disertai embel-embel bahwa kalau terjemahan saya bagus maka saya dipertimbangkan untuk kerja di sebuah perusahaan percetakan. Tapi untuk itu saya harus menyerahkan bukti kualitas terjemahan dulu. Saya diberi alamat, lalu saya cari di mana tempat itu. Ternyata perusahaan itu adalah salah satu bagian dari Ganesha Exact. Lokasinya saya ingat sekali, di Kiaracondong.
Setelah menemukan orangnya, saya lalu diminta untuk datang ke rumahnya malam itu juga. Saya nurut saja. Dan ketika malamnya saya datang ke rumahnya, saya diberi lima lembar teks bahasa Inggris yang harus dikerjakan. Karena dari Inggris ke Indonesia maka tidak perlu makan banyak waktu bagi saya untuk mengerjakannya. Besoknya juga pekerjaan itu sudah selesai. Saya kirimkan via fax seperti yang dia minta.
Hari demi hari kok tidak ada kontak juga dengan orang itu. Saya telpon tapi selalu dibilang bahwa orangnya sedang keluar. Sampai akhirnya saya bosan menelpon. Lama kemudian saya berpikir bahwa jangan-jangan itu sebenarnya hanya tipuan. Orang itu memang ingin terjemahan gratis, dan dia pake trik ingin mencoba dulu hasil terjemahan saya bagus apa tidak. Dia beri saya lima lembar untuk itu, tapi sebenarnya kebutuhan dia itu ya hanya lima lembar itu. Tidak ada kebutuhan terjemahan yang lain!
Saya jadi ingat ini karena kemarin saya dengan tegas menolak sebuah request terjemahan dari seseorang yang entah dari mana tahu nomer HP saya. Dia bilang hal yang sama juga, yaitu ingin tahu dulu terjemahan saya. Dia akan memberi saya 10 lembar dan tiap lembarnya akan dihargai 50ribu. Dia nggak jawab ketika saya tanya tahu nomer saya dari mana, dan dia maunya mengerjakan semuanya via fax. Langsung saja saya tolak. No. No No.
Bukannya saya nggak butuh duit. Selain sibuk, saya juga nggak mau kena tipu lagi seperti dulu.

Read Full Post »

Sudah beberapa waktu ini Saya dan Istri Saya berusaha untuk menjual sebidang tanah dan mengontrakkan sebuah rumah melalui iklan di surat kabar Pikiran Rakyat atau PR. Ya, memang seperti sudah selayaknya, banyak orang yang menelpon menanyakan ini itu. Beberapa di antaranya ada yang ingin melihat lokasi dan rumahnya langsung, menawar, menelpon lagi, lalu menghilang. Ternyata memang menjual tanah dan mengontrakkan rumah itu tidak mudah. Tapi yang bikin kesal adalah selalu saja ada orang yang berpikir Saya dan Istri Saya itu orang bodoh dan mudah diperdayai. Soalnya, ada beberapa upaya yang memperdayai kami, baik lewat telpon maupun lewat sms.
Selidik punya selidik, melalui tanya-tanya ke beberapa orang teman, ternyata memang hampir selalu orang yang mengiklankan barang lewat koran PR, ada saja orang yang iseng, menjahili, bahkan berbuat jahat. Untung sampai hari ini Saya dan Istri Saya belum mengalami itu. Semoga tidak akan pernah. Saya kira mungkin memang agak masuk akal sampai itu terjadi. Ya bayangkan saja, nomor telpon kita dipampangkan di koran yang entah dibaca berapa ribu orang.
Kemarin Saya memasang iklan lagi di PR untuk hari ini tentang tanah dan rumah itu. Dan inilah yang menginspirasi saya menuliskan blog ini: ada SMS yang jelas-jelas merupakan usaha tipu daya. Isinya begini :
“Ma’af, Kami dari Media Cetak Pikiran Rakyat, sehubungan tanah yang diiklankan ada peminatnya, slhkan hubungi peminatnya a/n: Bpk:H.ZAINUDDIN 085221831818.TKS.”
Jauh sebelum ini Saya sudah pernah menerima SMS ini. Isinya persis sama. Saya pikir, orang jahat ini tidak punya semacam database korban-korbannya, sehingga ia mengirimkan SMS yang persis sama ke nomor HP saya yang dulu juga menerima SMS yang sama.
Saya pede mengatakan bahwa ia adalah orang jahat karena bukan saja SMS yang redaksinya seperti itu sudah dimuat di koran PR dan dikatakan agar kita jadi waspada, tapi karena saya sendiri sudah pernah menelpon nomor itu. Orang yang menerimanya adalah laki-laki. Kedengarannya dia bukan orang Jawa. Sekilas aksennya adalah Sumatra, mungkin Padang. Dari caranya bicara, dia seperti yakin betul bahwa tanah yang saya iklankan itu adalah tanah yang cocok untuk kepentingannya, dan dia mengesankan pasti akan membelinya. Bukankah ini bodoh sekali ? Masa ada orang belum lihat barangnya sudah yakin akan membeli ? Apalagi tanah yang akan saya jual itu tidak mungkin dilihat langsung karena lokasinya ditutupi dengan seng. Lalu dia menyebutkan harga, saya pura-pura tidak sepakat, lalu dia menaikkan harganya, dan seterusnya. Saya tidak melanjutkan obrolan itu. Bahkan ketika dia bicara saya putus hubungan telponnya. Dia tidak nelpon balik atau apa.
Selain itu, dari sejak awal juga sudah tidak logis. Masa koran PR mau berrepot-repot memberitahu pemasang iklannya bahwa ada orang yang tertarik dengan barang yang diiklankan di korannya ? Lagian kalau ada orang tertarik, mestinya orang itu sudah menghubungi saya langsung, bukan menghubungi korannya.
Hati-hati bila pasang iklan di koran. Kalau barang yang diiklankan adalah barang berharga, akan mungkin ada saja orang yang mau iseng. Salah seorang karyawan di kantor saya membenarkan ini sembari menceritakan pengalamannya ketika ia mengiklankan motornya di PR. Bukan PR-nya yang salah, tapi kitanya yang mesti hati-hati.

Read Full Post »

PLN Main Pukul Rata ?

Kebetulan rumah Istri saya sekarang dalam keadaan kosong, dan kami sekeluarga tinggal di rumah Saya. Rumah yang kosong itu hanya diterangi oleh sebuah lampu listrik yang dipasang di depan rumah dan hanya akan menyala secara otomatis bila sore atau malam hari. Secara akal sehat, penggunaan listrik seperti ini sangat minim dan tentu biayanya per bulan tidak akan terlalu besar. Akan tetapi, yang terjadi adalah sudah tiga bulan ini bayaran listrik untuk rumah itu di atas 100 ribu.
Karena sibuk, saya baru mengurus soal itu baru-baru ini saja. Ternyata, karena rumah itu kosong dan pagarnya dikunci, maka petugas yang biasanya datang untuk mencatat angka meteran tidak bisa masuk. Saya tidak tahu, kalau begini caranya bagaimana PLN menentukan tagihan per bulan untuk pelanggannya ? Saya menduga, PLN banyak menghadapi rumah yang terkunci seperti rumah saya itu. Sudah tiga bulan kemarin saya bayarnya di atas seratus ribu. Saya punya sekurangnya tiga dugaan :
1. Si petugas pencatat asal saja memasukkan angka,
2. Si petugas mencatat bahwa rumahnya terkunci, lalu bagian billing masukkan angka
rata-rata dari bayaran per bulan account saya,
3. (Bisa saja!) Si petugas pencatat kong kali kong dengan bagian billing lalu dengan satu
dan lain cara uang lebihnya masuk ke kantong mereka.
Well, apapun itu, yang jelas saya dirugikan, meskipun sebenarnya saya juga salah karena meteran listrik rumah itu saya buat tidak accessible buat si pencatat. Yang jadi pertanyaan adalah, dari mana PLN bisa mengeluarkan angka tagihan per bulan itu ?
Saya akhirnya telpon ke kantor PLN terdekat. Saya disarankan untuk melaporkan angka bacaan meteran listrik ke 022-6011255 (ke Ibu Euis) setiap tanggal 27 akhir bulan sampai tanggal 2 awal bulan). Saya sudah mencoba itu awal bulan lalu. Dan tagihan listrik untuk rumah itu kemarin hanya Rp 18.540 saja !

Read Full Post »

Older Posts »