Feeds:
Pos
Komentar

Akhir dari HKN

HKN adalah Hari Kejepit Nasional. Termasuk hari Jum’at ini, yang diistilahkan sebagai Cuti Bersama. Berita di Koran menyebutkan bahwa hari Jum’at ini tidak jadi libur karena Pemerintah memperhatikan suara dari kalangan pengusaha yang mengatakan bahwa terlalu banyak libur akan menurunkan tingkat produktifitas nasional. Tapi yang saya lihat hari ini, pada kenyataannya ada beberapa Instansi Pemerintah yang pelayanan publiknya down.
Saya mau tanya berapa bayaran listrik bulan ini ke nomer telpon yang biasa, telponnya tidak ada yang ngangkat. Lalu, saya datangi Dinas Kependudukan karena ada urusan mau bikin akte kelahiran, kantornya tutup. Saya konfirmasi silang dengan nelpon ke teman di Diparda, telponnya gak diangkat juga. Jadi, nampaknya karena orang sudah antisipasi akan ada libur jauh-jauh hari, maka pengumuman tidak jadi libur itu malah jadi tidak efektif. Akhirnya ya sama saja dengan libur.
Tapi ini adalah hari terakhir dari HKN. Alias, tidak akan ada lagi istilah hari kejepit atau cuti bersama. Kalau ada libur Kamis, maka Jum’at yang tetap harus masuk kantor, meski Sabtu besoknya sudah libur lagi. Saya pribadi malah senang dengan begini. Sebenarnya apa enaknya terlalu banyak libur ?
Bukan sok mau produktif. Tapi kalau libur itu dengan banyak pekerjaan yang menggantung, atau libur tapi sehari-harinya juga tidak begitu sibuk, buat apa ? Apakah tudingan bahwa kita ini bangsa yang malas itu benar ? Dan sanggahan terhadapnya hanya nasionalisme yang membabi buta ? Masalahnya, bagaimana respon orang-orang pada tidak jadinya libur ini membuat saya berpikir begitu.

Iklan

Pengalaman Instal Vista (II)

Hari ini seharian kerja menggunakan komputer yang sudah diinstal Vista. Untuk ngetik dokumen, bales email, update website, chatting, dan juga membuat blog ini. Semua tidak ada masalah. Dan yang penting, apakah ketika Saya melakukan semua itu ada bedanya dengan ketika saya melakukannya di komputer yang OS-nya XP ? Sama sekali tidak ! Memang dari dulu saya mempertanyakan, apakah ada hal baru yang bisa kita lakukan / kita dapat, kalau kita gunakan sistem operasi baru ini ? Apakah efisiensi dan efektifitas kerja reguler kita meningkat ? Sebenarnya (untuk sebagian besar) tidak.
Saya bilang untuk sebagian besar. Soalnya dulu ketika migrasi dari Windows 98 SE ke XP saya merasakan adanya kelebihan dalam hal konektifitas. Pertama, nyambung ke network jauh lebih gampang dan tidak bermasalah. Kedua, bisa mengenali flash disk / external storage tanpa driver. Ketiga, PnP lebih bener dan bukan plug and pray. Nah, apa kelebihan Vista dibanding XP selain tampilannya yang digembar-gemborkan itu (Aero), saya belum tahu persis. Nampaknya harus dialami dari hari ke hari saja untuk bisa menemukannya.
Apakah saya akan menyarankan orang lain untuk menginstal Vista ? Saya kira tidak, kalau hardware-nya tidak memadai. Hal yang membuat gusar seputar ini adalah apa yang dinamakan Windows Experience Index. WEI yang saya dapat di komputer saya adalah 2,7 – angka yang nampaknya cukup rendah, meski sejauh ini yang saya rasakan untuk kerja sehari-hari sudah sangat mencukupi untuk melakukan semuanya secara multitasking. Saya tahu, di antara para geek komputer pasti ada semacam unjuk WEI untuk memamerkan kebolehan hardware-nya. Inilah yang membuat saya gusar, tapi nampaknya ya harus damai saja dengan apa yang ada :))
Sempat kepikiran untuk tweaking ini itu seperti yang ditutorialkan beberapa majalan dan website, tapi menurut keterangan Microsoft, tweaking ini itu tidak akan menaikkan WEI, kecuali kalau kita upgrade hardware dengan yang lebih besar dan lebih cepat.
Spesifikasi Komputer Saya begini :
Prosesor : Intel Celeron 2600 Ghz
Motherboard : Keluaran Intel
Memory : 2 keping Kingston @ 1 Gbytes
Harddisk : tandem 60 + 80 Gbytes
VGA Card : NVIDIA GeForce 7100 GS
Monitor : Samsung SyncMaster 765MB (17′)
Installed OS : Windows Vista Ultimate
Sejauh ini saya tidak tertarik dengan kelebihan visual OS baru ini. Saya set semuanya ke tampilan yang minimal demi performance yang optimal. Malah sebenarnya saya berpikir, biarlah tampilan nggak terlalu flashy, tapi yang penting kernel / core-nya adalah yang paling up to date. Karena ini pula saya jadi tergoda, kalau instal yang ultimate saja saya tidak butuh tampilannya, bukankah lebih baik saya instal versi yang lebih sederhana ? Jangan-jangan kalau saya pake versi Home Basic saya akan dapat WEI yang lebih tinggi ?
Saya memang berencana akan instal versi itu, tapi di komputer asisten saya. Pengalaman tentang itu nanti akan saya tulis di sini lagi.

Pengalaman Instal Vista (I)

Sudah cukup lama saya menimbang-nimbang untuk menginstal sistem operasi (Operating System/OS) baru ini. Alasannya bukan karena mau ikut-ikutan trend, tapi sejak rilis OS itu dan sejak dipasangnya hotspot di kampus, banyak mahasiswa mondar-mandir keluar masuk ruangan saya atau sekedar tanya sana-sini tentang cara konek ke Internet dengan Wifi. Yang saya temukan adalah, banyak di antara mereka sudah menggunakan Vista karena mereka membeli laptop dengan OS yang built-in Vista. Untung saja hingga saat ini common sense dan muscle memory masih bisa diandalkan untuk menangani mereka, tapi pas giliran saya ditanya soal ini itu yang lain, saya rada bingung. Cara mengakses drive di Vista dengan Explorer saja saya nggak tahu !
Setelah menginstal program untuk menilai kelayakan komputer untuk dipasangi Vista dan membaca beberapa literatur, saya putuskan untuk memindahkan semua file penting dari C dan membuat spasi drive itu sebesar mungkin (saya set 40 Gigaan). Lalu berikutnya saya beli memory 1 Giga, untuk menambah 1 Giga yang sudah terinstal. Merek yang saya beli adalah Kingston. Sebelumnya saya beli 195 ribu, kemarin saya beli lagi 205 ribu. Saya instal Vista dengan cara memformat C. Saya masukkan DVDnya, lalu saya set bios supaya boot dari DVD.
Ternyata betul seperti kata sebuah review, instalasi Vista lebih cepat dari XP. Begitu selesai instal, jam kantor berakhir sudah tiba, tapi saya sudah sempat merasakan lingkungan kerja baru itu. Di jalan, di rumah, …. saya memikirkan soal ini, sempat kepikiran untuk balik lagi ke XP. Saya pikir, buat susah-susah begini kalau sampai mengorbankan pekerjaan-pekerjaan yang lain. Ada lebih dari dua komputer di ruangan saya, tapi semua pekerjaan ada di komputer yang saya pasangi Vista itu.
Akan tetapi hari ini saya berubah pikiran. Saya mantapkan untuk tetap memasang Vista. Yang penting Office 2003 masih tetap bisa jalan, browsing masih seperti biasa (dengan IE7), pekerjaan rutin harian sudah bisa jalan. Yang memantapkan saya untuk tetap di Vista adalah karena ia bisa di set untuk jadi sederhana. Saya tidak pake Aero, saya optimalkan desktop dengan “adjust for best performance”, sidebar saya matikan, lalu dengan MSCONFIG saya disable beberapa items. Dengan Windows Experience Index yang hanya 2,7, Vista saya sekarang berjalan cukup enak. Alasan lain lagi, ternyata kombinasi antara Sound Card Creative – Audigy, Media Player 11, dan Altec Lansing ATP-3, menghasilkan suara yang benar-benar menggetarkan. Benar-benar menggetarkan !!
Saya akan lanjutkan lagi catatan ini besok.

Spoofing di Friendster

Belum satu jam yang lalu datang seorang mahasiswi ke ruangan saya. Dia minta tolong tentang FS-nya. “Apa itu FS?”, kata saya. Soalnya, saya sedang beberes ruangan sambil menginstal Vista. Ternyata yang dia maksud adalah Friendster. Singkatnya ada yang melakukan spoofing terhadapnya. Alias, ada orang yang bikin entri baru di Friendster, lalu ngaku-ngaku yang punya adalah dia. Sialnya, orang yang melakukan itu sampai tahu nomer HPnya. Akibatnya dia kena teror SMS.
Yang membuatnya gelisah adalah karena tayangan di Friendster yang palsu itu isinya adalah sebuah diskredit. Saya belum lihat langsung (I am searching the site now!), tapi katanya isinya sebangsa: “Saya bisa di-booking“, dsb, dsb. Dia minta bantuan saya. What could I do ? Defacing / hacking entri-nya: repot amat. Kirim email lapor ke admin Friendster: lama dan mungkin saja dicuekin. Lalu apa ?
Yang pertama saya bilang ke dia: ganti nomer HP. Itu akan membuat dia tidak lagi menerima pesan-pesan yang membuat dia gelisah. Kedua, hapus saja account di Friendster, lalu buat lagi yang lain, tapi jangan di Friendster. Kalau masih mau model social networking kayak gitu, saya sarankan Multiply. Tapi kalau dia kapok dengan yang seperti itu, ya buatlah sebuah blog.
Cukup lama dia berdiri di depan meja saya, sementara saya sendiri tidak begitu yakin dengan apa yang saya sarankan. Dari dulu saya sudah berpikir bahwa Friendster itu rawan sekali dengan spoofing. Bisa saja saya temukan foto Tamara Blezynski, lalu saya buat entri di sana dan mengaku-ngaku saya adalah seorang artis pemain sinetron. Multiply juga bisa jadi di-spoof, tapi orang yang melakukannya harus rajin sekali ! Dia tidak saja meniru profile orang yang di-spoof, tapi juga menampilkan tulisan-tulisan yang seolah-olah yang empunya asli yang nulis. Well, itu kalo emang mau dilengkapi dengan tulisan. Tapi yang jelas, tulisan / karangan / essay adalah bukti diri yang sulit untuk dipalsukan.
Makanya lebih baik nge-blog saja. Kalau mau social networking, ya lewat milis, atau email, atau saling pasang link. Friendster sudah menyadari ini, hingga lalu ia menambah fasilitas blog. Tapi nampaknya ia harus melakukan lebih dari itu untuk menghindari para spoofer, yang mungkin saja di lain waktu ada yang menjadi korban yang lebih parah lagi dari mahasiswi saya itu.

Hari ini kepikiran lagi sesuatu yang sudah lama ingin saya tulis: nama-nama teman-teman anak-anak saya. Kedua anak saya sekolah di tempat yang barangkali 95 % dari teman-teman sebayanya adalah mereka yang keturunan Tionghoa. Saya nggak ada masalah sama sekali dengan keadaan ini. Soalnya yang saya pentingkan adalah mutu pendidikan lembaga itu dan yang penting lingkungannya baik. Sejauh ini tidak ada masalah berkenaan dengan mutu pendidikan dan pengaruh lingkungan, tapi yang bikin saya agak tertegun sejak pertama memasukkan anak-anak saya adalah, nama teman-teman mereka. Kenapa 95 % pula dari mereka dinamai oleh orang tuanya dengan nama-nama dari barat ?
Barangkali memang tanpa melokalisir tempatnya di sekolah anak-anak saya pun, memang sudah banyak nama-nama barat yang dipakai orang, TAPI, … pelafalan dan ejaannya sebagian besar sudah disesuaikan dengan kultur lokal dan bahasa Indonesia, bahkan bahasa daerah. Termasuk nama saya, yang memang nama depannya adalah dari barat. Jelas. Jadi, yang saya maksud adalah nama-nama yang baik pelafalan maupun ejaannya benar-benar 100 % barat. Emang haknya mereka, tapi jadi kepikiran, ini Indonesia atau di luar negeri sono ?
Ambil contoh, mereka punya nama-nama seperti Cathleen, Vincent Cutter, Stephanie, Phoebe, Jessica Arnett, William Anthony, Rainer Joseph …. itu baru sebagian yang saya tahu / kenal karena saya kenal atau dekat dengan orang tuanya. Saya bayangkan, apa sih yang dipikirkan orang tuanya ketika mereka memberi nama anaknya ? Ketika memberi nama anak, orang tua umumnya punya harapan pada anak-anak itu yang dikaitkan dengan namanya. Apakah mereka ingin agar anak mereka suatu ketika go internasional dan nyampur dengan bule-bule yang variasi namanya tidak terlalu jauh dengan mereka ? Iya, saya tahu ada nama baptis, yang hampir 100 % adalah nama-nama asing, tapi bukankah setelah nama baptis itu biasanya diikuti dengan nama-nama lokal ? Ini sih 100 % asli nama barat semua.
Atau apakah ini bagian dari krisis identitas dari orang-orang keturunan Tionghoa di Indonesia ? Jadi, intinya adalah mereka itu merasa bukan asli orang pribumi Indonesia, tapi mereka juga merasa bukan 100 % orang Tionghoa karena terutama kebanyakan mereka nggak fasih berbahasa Mandarin dan sudah tidak punya koneksi langsung ke negeri Tirai Bambu sana. Ke sini enggak, ke sana juga enggak. Ya akhirnya mereka membuat identitas baru aja.
Kenapa saya bilang begitu ? Lha, buktiya kok nggak ada satu pun (SATU PUN !) yang menamai anak mereka dengan nama Tionghoa ?

Komunitas Copet HP

Ini adalah buah dari obrolan dengan sodara-sodara istri saya ketika ada acara syukuran sehatnya mertua saya. Ada sebuah wilayah di Bandung, di sekitar Jalan Terusan Pasirkoja, yaitu Babakan Tarogong, persisnya adalah rumah-rumah yang ada di belakang bengkel motor Sumber Rejeki, yang para penghuninya ternyata adalah para spesialis copet HP. Saya malah disarankan, kalo mau beli HP murah, tapi tanpa charger, jalan-jalan saja ke gang-gang di wilayah ini. Gila.
Modus mereka biasanya gini. Mereka itu beraksi terutama kalau ada acara konser musik besar (terutama di Gasibu) atau kalau ada kumpul-kumpul massal. Biasanya ada orang yang akan memodali mereka untuk masuk ke konser itu. Minimal 50 orang sekaligus dimodalin. kalau tiketnya seorang 100 ribu, maka mesti keluar 5 juta. Dan itulah yang terjadi. Lima puluh orang itu beraksi di lapangan. Semuanya tidak nyopet sendiri-sendiri, tapi begitu satu orang dapet sebuah hp, misalnya, maka dia cepat mengoperkan ke teman yang lain, untuk menghilangkan jejak. Begitu seterusnya. Hasil HP copetan itu biasanya dijual lagi ke pasar loak Astanaanyar, yang tentu saja dalam keadaan tanpa charger.
Saya sendiri belum pernah jalan-jalan ke wilayah itu, meski cukup sering ke Terusan Pasirkoja. Kalau ada info lagi tentang ini, saya akan tuliskan di sini lagi.

Dilema Sekolah Lagi

Saya masih ingat ketika saya S2. Lembar ujian saya diambil oleh teman-teman dan ditiron rame-rame. Yang melakukan itu termasuk orang yang sekarang sedang menempuh S3. Saya bukan mau menunjukkan betapa saya mumpuni dalam mata kuliah itu (bahasa Inggris dan Teori Komunikasi). Entah kebetulan saja mungkin. Tapi point saya bukan itu. Di saat yang lain, saya ingat di mata kuliah Filsafat Komunikasi ada tugas menerjemahkan satu buku. Semua pada berpikir bahwa si Profesor tidak akan membaca detil hasil terjemahannya. Maka yang dilakukan adalah, satu dua halaman pertama diterjemahkan dengan baik, tapi halaman-halaman depannya dikerjakan pake Transtool, yang tentu saja hasilnya adalah 100% sampah! Beginilah sekilas memori saya ketika S2 dulu.
Lalu sekarang ada yang mendorong saya untuk S3 di tempat yang sama. Memang teman-temannya pasti beda, tapi dosennya relatif sama. Sementara itu sebagian dari teman-teman saya di S2 dulu ada yang menempuh S3 ini. Saya perhatikan mereka. Mereka termasuk orang-orang yang dulu melakukan ketidakjujuran intelektual itu. Mereka itu saya tahu banyak yang memperoleh beasiswa BPPS dan ditambah lagi dengan beasiswa dari pejabat di kota di mana mereka berasal. Yang mengagetkan saya adalah ada yang belum bekerja, ada pula yang bekerja tapi bukan pendidik. Memang semua orang bisa punya kemungkinan untuk menjadi apa saja dengan bekal pendidikan yang dimiliki, tapi apa point-nya untuk menempuh S3 kalau etosnya seperti itu … atau visinya tidak jelas. Apakah lulus menempuh S3 dan lulus S3 nanti akan dipandang sebagai bagian dari upaya social climbing ?
Yang terakhir itu adalah kecurigaan saya pada banyak orang. Seorang oportunis akan bilang, “Sah-sah aja dong”. Ya emang sah. Siapa yang akan mengklaim itu tidak sah ? Memang ada degradasi apresiasi pada nilai tingkat pendidikan. Dulu jadi S1 saja sudah mewah, sekarang jadi S1 adalah sangat biasa-biasa saja. Apakah akan ada saatnya nanti orang yang lulus S3 dinilai biasa-biasa saja ? Kalau itu terjadi maka yang ada adalah sebuah dekadensi. Tapi kalau quality control dari program pasca sarjana itu tidak ketat, maka itulah yang bisa akan terjadi. Melihat kecenderungan teman-teman saya yang seperti itu, juga sistem yang cenderung hanya sekedar memberikan “siksaan” membaca, mengerjakan tugas, membuat 5 makalah per minggu”, dan presentasi membuat saya rada ogah untuk ikut S3, ya maksudnya S3 di tempat yang sama (guess where !).
Istri saya bilang, “Ah, sudahlah ikut saja. Toh nanti penghargaan orang akan berbeda kalau sudah S3”. Mungkin dia benar. Tapi saya ingin sekolah lagi itu tidak sekedar bagian dari upaya social climbing. Toh, apakah ada jaminan kita akan lebih berada dan terpandang kalau kita banyak gelar ?