Feeds:
Pos
Komentar

Sudah beberapa waktu ini Saya dan Istri Saya berusaha untuk menjual sebidang tanah dan mengontrakkan sebuah rumah melalui iklan di surat kabar Pikiran Rakyat atau PR. Ya, memang seperti sudah selayaknya, banyak orang yang menelpon menanyakan ini itu. Beberapa di antaranya ada yang ingin melihat lokasi dan rumahnya langsung, menawar, menelpon lagi, lalu menghilang. Ternyata memang menjual tanah dan mengontrakkan rumah itu tidak mudah. Tapi yang bikin kesal adalah selalu saja ada orang yang berpikir Saya dan Istri Saya itu orang bodoh dan mudah diperdayai. Soalnya, ada beberapa upaya yang memperdayai kami, baik lewat telpon maupun lewat sms.
Selidik punya selidik, melalui tanya-tanya ke beberapa orang teman, ternyata memang hampir selalu orang yang mengiklankan barang lewat koran PR, ada saja orang yang iseng, menjahili, bahkan berbuat jahat. Untung sampai hari ini Saya dan Istri Saya belum mengalami itu. Semoga tidak akan pernah. Saya kira mungkin memang agak masuk akal sampai itu terjadi. Ya bayangkan saja, nomor telpon kita dipampangkan di koran yang entah dibaca berapa ribu orang.
Kemarin Saya memasang iklan lagi di PR untuk hari ini tentang tanah dan rumah itu. Dan inilah yang menginspirasi saya menuliskan blog ini: ada SMS yang jelas-jelas merupakan usaha tipu daya. Isinya begini :
“Ma’af, Kami dari Media Cetak Pikiran Rakyat, sehubungan tanah yang diiklankan ada peminatnya, slhkan hubungi peminatnya a/n: Bpk:H.ZAINUDDIN 085221831818.TKS.”
Jauh sebelum ini Saya sudah pernah menerima SMS ini. Isinya persis sama. Saya pikir, orang jahat ini tidak punya semacam database korban-korbannya, sehingga ia mengirimkan SMS yang persis sama ke nomor HP saya yang dulu juga menerima SMS yang sama.
Saya pede mengatakan bahwa ia adalah orang jahat karena bukan saja SMS yang redaksinya seperti itu sudah dimuat di koran PR dan dikatakan agar kita jadi waspada, tapi karena saya sendiri sudah pernah menelpon nomor itu. Orang yang menerimanya adalah laki-laki. Kedengarannya dia bukan orang Jawa. Sekilas aksennya adalah Sumatra, mungkin Padang. Dari caranya bicara, dia seperti yakin betul bahwa tanah yang saya iklankan itu adalah tanah yang cocok untuk kepentingannya, dan dia mengesankan pasti akan membelinya. Bukankah ini bodoh sekali ? Masa ada orang belum lihat barangnya sudah yakin akan membeli ? Apalagi tanah yang akan saya jual itu tidak mungkin dilihat langsung karena lokasinya ditutupi dengan seng. Lalu dia menyebutkan harga, saya pura-pura tidak sepakat, lalu dia menaikkan harganya, dan seterusnya. Saya tidak melanjutkan obrolan itu. Bahkan ketika dia bicara saya putus hubungan telponnya. Dia tidak nelpon balik atau apa.
Selain itu, dari sejak awal juga sudah tidak logis. Masa koran PR mau berrepot-repot memberitahu pemasang iklannya bahwa ada orang yang tertarik dengan barang yang diiklankan di korannya ? Lagian kalau ada orang tertarik, mestinya orang itu sudah menghubungi saya langsung, bukan menghubungi korannya.
Hati-hati bila pasang iklan di koran. Kalau barang yang diiklankan adalah barang berharga, akan mungkin ada saja orang yang mau iseng. Salah seorang karyawan di kantor saya membenarkan ini sembari menceritakan pengalamannya ketika ia mengiklankan motornya di PR. Bukan PR-nya yang salah, tapi kitanya yang mesti hati-hati.

Etos Penggunaan Internet

Sekarang sedang ada iklan di TV tentang promosi Internet dari Telkom. Yang ditampilkan adalah anak-anak di pedesaan yang ikut lomba kliping. Gara-gara ada Internet, mereka jadi juara kliping, karena dalam waktu singkat sudah bisa membuat kliping yang tebal. Bukan iklan yang jelek menurut saya, tapi ada sesuatu yang berat sebelah pada konsepnya. Dan ini bukan hanya menyangkut iklan itu saja, tapi saya ingin menunjuk pada etos penggunaan Internet secara umum di Indonesia. Nampaknya terlalu dikedepankan bahwa Internet itu adalah sumber informasi, yang lalu ujungnya membuat kita hanya jadi sekedar konsumen informasi saja. Yang perlu dipertanyakan, kalau memang Internet itu sumber informasi, siapa yang membuat informasi itu ?
Bukankah aneh kalau diasumsikan bahwa Internet itu dengan serta merta di dalamnya sudah ada informasi yang siap digunakan ? Siapa yang menyediakan semua itu ? Siapa yang menulis ? Siapa yang membuatnya ? Saya berpikir akan ada saatnya paradigma yang konsumeristik seperti itu harus diubah. Mengkonsumsi itu gampang. Yang tidak terlalu gampang adalah memproduksinya.
Mungkin lalu akan dibayangkan bahwa kalau kita harus juga memproduksi informasi, maka urusannya jadi serius dan sulit. Saya pikir tidak. Lanskap user interface Internet sekarang ini makin friendly, murah, dan gratis. Dulu bikin tampilan di Internet / homepage harus mensyaratkan kita tahu HTML, membeli domain, dan hosting segala macam. Hari ini kita bisa blogging dengan gratis dan cepat. Dan kalau di mana-mana dikatakan bahwa Content is King, maka menurut saya itu bukan berarti kita harus selalu memproduksi sesuatu yang setara dengan, misalnya, tulisan kolomnya Goenawan Mohamad di Tempo. Menurut saya, Internet yang demokratis ini harus kita rayakan sebagai tempat yang bisa menampung curahan apapun juga, dan tinggal menunggu waktu hingga akhirnya search engine mengindeks tulisan kita dan entah kapan akan ditemukan orang lain.
Nampaknya suatu saat perlu ada kampanye tentang itu. Etos produksi informasi harus  mengimbangi etos konsumsi. Dari pengguna Internet yang pasif, menjadi pengguna yang aktif.

Produk keluaran baru ternyata belum tentu lebih bagus. Dalam kaitannya dengan printer, saya menemukan bahwa ternyata printer keluaran lama lebih bagus dan terandalkan untuk mencetak pekerjaan hitam-putih sehari-hari. Aneh betul. Semakin baru printer, malah semakin demanding, dan cenderung bermasalah.
Yang saya maksud demanding adalah, printer sekarang ini bisa dipastikan meminta cartridge warna dan hitam sekaligus. Dulu, banyak printer inkjet yang cukup dengan tinta hitam saja sudah bisa jalan. Saya masih memfavoritkan printer lama saya di rumah Canon BJC-210SP, lalu di kantor Canon BJC-255. Sekarang keluaran Canon muncul seri Pixma, yang bukan saja selalu mensyaratkan adanya cartridge warna, tapi juga bunyinya brisik dan guncangannya ketika awal mencetak keras sekali. Ironis. Kita dulu mencetak dengan printer dot-matrix dan dikatakan sebagai printer yang paling berisik se dunia, lalu masuk teknologi inkjet yang kalem, eh, lalu kok keluar yang berisik seperti ini lagi ? Barusan saya mencoba memperbaiki printer HP D-2466 yang ternyata juga sama berguncang dan brisiknya, dan responnya pada perintah CPU lama sekali. Kemarin, Epson R-350, yang lagi-lagi kertasnya tidak mau masuk, lalu kemarinnya lagi HP D-4160 yang kalau ada perangkat USB lain di CPU tidak mau nge-print.
Semalam ada yang kirim SMS meminta saran printer apa yang sebaiknya dibeli untuk kantung mahasiswa. Bingung juga jawabnya. Apakah sebaiknya saya menyarankan beli printer bekas saja ? Yang cukup dengan satu cartridge hitam itu ? Masalahnya adalah, kalau ada printer bagus di pasaran pasti masa edarnya terbatas. Keburu ada printer baru, yang ternyata belum tentu lebih bagus.
Jadi, kalau anda punya printer lama, dan puas dengan itu. Pertahankanlah! Apalagi kalau hanya untuk mencetak pekerjaan sehari-hari yang hitam putih itu.