Feeds:
Pos
Komentar

Etos Penggunaan Internet

Sekarang sedang ada iklan di TV tentang promosi Internet dari Telkom. Yang ditampilkan adalah anak-anak di pedesaan yang ikut lomba kliping. Gara-gara ada Internet, mereka jadi juara kliping, karena dalam waktu singkat sudah bisa membuat kliping yang tebal. Bukan iklan yang jelek menurut saya, tapi ada sesuatu yang berat sebelah pada konsepnya. Dan ini bukan hanya menyangkut iklan itu saja, tapi saya ingin menunjuk pada etos penggunaan Internet secara umum di Indonesia. Nampaknya terlalu dikedepankan bahwa Internet itu adalah sumber informasi, yang lalu ujungnya membuat kita hanya jadi sekedar konsumen informasi saja. Yang perlu dipertanyakan, kalau memang Internet itu sumber informasi, siapa yang membuat informasi itu ?
Bukankah aneh kalau diasumsikan bahwa Internet itu dengan serta merta di dalamnya sudah ada informasi yang siap digunakan ? Siapa yang menyediakan semua itu ? Siapa yang menulis ? Siapa yang membuatnya ? Saya berpikir akan ada saatnya paradigma yang konsumeristik seperti itu harus diubah. Mengkonsumsi itu gampang. Yang tidak terlalu gampang adalah memproduksinya.
Mungkin lalu akan dibayangkan bahwa kalau kita harus juga memproduksi informasi, maka urusannya jadi serius dan sulit. Saya pikir tidak. Lanskap user interface Internet sekarang ini makin friendly, murah, dan gratis. Dulu bikin tampilan di Internet / homepage harus mensyaratkan kita tahu HTML, membeli domain, dan hosting segala macam. Hari ini kita bisa blogging dengan gratis dan cepat. Dan kalau di mana-mana dikatakan bahwa Content is King, maka menurut saya itu bukan berarti kita harus selalu memproduksi sesuatu yang setara dengan, misalnya, tulisan kolomnya Goenawan Mohamad di Tempo. Menurut saya, Internet yang demokratis ini harus kita rayakan sebagai tempat yang bisa menampung curahan apapun juga, dan tinggal menunggu waktu hingga akhirnya search engine mengindeks tulisan kita dan entah kapan akan ditemukan orang lain.
Nampaknya suatu saat perlu ada kampanye tentang itu. Etos produksi informasi harus  mengimbangi etos konsumsi. Dari pengguna Internet yang pasif, menjadi pengguna yang aktif.

Produk keluaran baru ternyata belum tentu lebih bagus. Dalam kaitannya dengan printer, saya menemukan bahwa ternyata printer keluaran lama lebih bagus dan terandalkan untuk mencetak pekerjaan hitam-putih sehari-hari. Aneh betul. Semakin baru printer, malah semakin demanding, dan cenderung bermasalah.
Yang saya maksud demanding adalah, printer sekarang ini bisa dipastikan meminta cartridge warna dan hitam sekaligus. Dulu, banyak printer inkjet yang cukup dengan tinta hitam saja sudah bisa jalan. Saya masih memfavoritkan printer lama saya di rumah Canon BJC-210SP, lalu di kantor Canon BJC-255. Sekarang keluaran Canon muncul seri Pixma, yang bukan saja selalu mensyaratkan adanya cartridge warna, tapi juga bunyinya brisik dan guncangannya ketika awal mencetak keras sekali. Ironis. Kita dulu mencetak dengan printer dot-matrix dan dikatakan sebagai printer yang paling berisik se dunia, lalu masuk teknologi inkjet yang kalem, eh, lalu kok keluar yang berisik seperti ini lagi ? Barusan saya mencoba memperbaiki printer HP D-2466 yang ternyata juga sama berguncang dan brisiknya, dan responnya pada perintah CPU lama sekali. Kemarin, Epson R-350, yang lagi-lagi kertasnya tidak mau masuk, lalu kemarinnya lagi HP D-4160 yang kalau ada perangkat USB lain di CPU tidak mau nge-print.
Semalam ada yang kirim SMS meminta saran printer apa yang sebaiknya dibeli untuk kantung mahasiswa. Bingung juga jawabnya. Apakah sebaiknya saya menyarankan beli printer bekas saja ? Yang cukup dengan satu cartridge hitam itu ? Masalahnya adalah, kalau ada printer bagus di pasaran pasti masa edarnya terbatas. Keburu ada printer baru, yang ternyata belum tentu lebih bagus.
Jadi, kalau anda punya printer lama, dan puas dengan itu. Pertahankanlah! Apalagi kalau hanya untuk mencetak pekerjaan sehari-hari yang hitam putih itu.

T.SONIC 630 : Bukan Cung Koan

Umumnya orang membeli mp3 player ya untuk mendengarkan musik. Beda halnya dengan saya, saya beli mp3 player lebih untuk kepentingan merekam. Soalnya dengan kecilnya barang itu dan kapasitasnya yang kini rata-rata sudah 1 gigaan ke atas, bikin gadget ini cukup stealthy. Maksudnya, kita bisa merekam pembicaraan tanpa orang tahu kita melakukan itu dan kita melakukannya dengan santai saja, soalnya dengan kapasitas yang 1 gigaan saja, kita sudah bisa merekam lebih dari 6 jam. Playback-nya nanti juga nggak ribet. Upload saja ke komputer, lalu kita buka dengan wave editor, kita lihat amplitudo spektrumnya. Kalau ada yang tinggi, berarti ada pembicaraan di situ. Kita periksa / dengarkan saja yang itu, sementara yang lainnya bisa kita lewatkan.
Sebelum saya beli T.Sonic 630, saya sudah beli tiga mp3 player secara berturut-turut. Satu mati total, satu mati dan rusak fisik (jalan lagi, saya betulkan sendiri), satu masih jalan (tapi bikin saya was-was gimana kalo rusak lagi), dan akhirnya setelah search di Internet dan saya banding-bandingkan, saya beli T.630 yang kapasitasnya 2 giga.
Sense 178Yang pertama mereknya Sense tipe, SENSE178. Barangnya sampai sekarang masih sangat mulus. Selama masih jalan, bisa melakukan perekaman cukup memuaskan. Performance-nya dalam hal mp3 playback juga lumayan. Tapi yang bikin kesal adalah, si Sense ini suatu ketika mati total tanpa sebab yang jelas. Pertama kali saya tahu adalah ketika saya dapati ia tidak bisa dideteksi di komputer. Lalu saya coba nyalakan, ia diam saja. Lalu saya pasangkan ke kabel charger battery-nya, ia juga tidak menunjukkan tanda charging seperti biasanya. Nampaknya saya bener-bener sial. Barang itu sekarang sudah tidak bisa diapa-apakan lagi. Wujud fisiknya menarik, tidak kekanak-kanakan atau ABG-look. Interface-nya juga straightforward meski responnya agak lambat. Saya ingat, ketika beli, si penjualnya bilang garansi barang itu hanya sebulan. Berarti memang itu barang sudah tidak bisa diapa-apakan lagi. Umur pakainya sudah lebih dari satu bulan.
lexus-lx-02.jpgLalu saya putuskan untuk beli Lexus, tipe LX-02. Kapasitasnya 1 Giga juga. Beda dengan Sense, yang kalau merekam displaynya bisa mati, pada Lexus ini kalau dalam posisi merekam maka ada dua lampu di dekat colokan USB-nya yang kedap-kedip. Ini jelas mengurangi nilai stealth dari barang ini. Tapi berhubung saya keburu butuh perekam, maka saya beli saja barang ini karena kebetulan waktu itu harganya lebih murah dari yang lain. Semua berjalan normal sampai suatu ketika tombol-tombol yang di sebelah kanan display pada ambles. Bersamaan dengan itu pula, kalau mp3 player ini saya on-kan, maka display-nya menyala, tapi sama sekali tidak ada tulisannya. Saya tidak pernah menjatuhkan benda ini. Mungkin ambles-nya tombol-tombol itu karena ada sesuatu di dalamnya yang kurang kuat. Saya berkesimpulan begini karena kalau casing-nya saya buka dan saya on-kan dalam keadaan terbuka, tulisan pada display-nya bisa keluar semua, dan semua fungsi alat ini bisa berjalan dengan normal. Saya sudah mencoba memperbaiki sendiri benda ini, tapi tetap saja kembali ke keadaan seperti itu. Jelas, saya tidak bisa mengandalkan alat ini untuk keperluan merekam.
Berikutnya, karena benar-benar butuh merekam, saya beli lagi yang lain. Mereknya Lexus juga, tipenya LX-01. lexus-lx-01.jpgBegitulah, karena waktu itu saya ingin ngirit, maka saya beli saja yang murah. Kali ini saya mencoba untuk menggunakannya secara hat-hati dan apik. Sampai sekarang player ini masih berjalan dengan normal, dan tidak ada sesuatu pun yang rusak. Tapi karena pengalaman dengan dua player sebelumnya seperti itu, maka saya berpikir untuk punya backup, selagi yang saya punya sekarang belum rusak.
Saya search di Internet dan kali ini saya mencoba mencari mp3-player yang mungkin punya fitur yang agak plus dari sisi merekam. Dalam masa-masa ini saya juga menabung karena saya niatkan untuk membeli barang yang lebih bagus atau kalau perlu membeli beberapa mp3 player sekaligus! Dari beberapa merek saya sudah punya kandidat, tapi banyak di antaranya yang hanya punya informasi terbatas di Internet. Dari semua itu, saya menjagokan dari merek Transcend tipe T.Sonic T-630, T.Sonic T-630yang kebetulan di website resminya dikatakan sebagai mp3-player yang punya kemampuan terbaik dalam hal merekam: “Most advanced recording functions you would ever get from an mp3 player.” Saya cek harga barang ini di fastncheap. Ya ampun, harganya dua-tiga kali harga mp3-player yang pernah saya punya !
Kebetulan sekali, saya mendapat cerita dari seorang teman yang kebetulan adalah pemilik salah satu toko di BEC. Pak Hendrawan, nama teman saya ini, mengeluhkan bahwa ia sudah tidak mau lagi menjual barang-barang yang ia sebut sebagai barang “Cung Koan”. Saya sebenarnya sama sekali nggak tahu apa arti kata itu, tapi saya mengangguk-ngangguk saja. Dia bilang terlalu banyak konsumen yang datang lagi ke tokonya untuk menukarkan mp3 player yang sudah dibeli, padahal garansi barang itu hanya satu bulanan saja. Ia terpaksa melayani mereka meskipun barangnya sudah dibeli lebih dari satu bulan. Dia bilang, kalau mau beli barang, lihat garansinya, dan pilih merek yang bagus. Jangan yang Cung Koan.
Belakangan, saya tahu arti Cung Koan, yaitu buatan RRC, alias Cina. Saya nggak jelas benar, yang dimaksud itu Cina daratan (RRC) atau Taiwan? Tapi mungkin maksudnya menunjuk ke merek-merek yang dari bunyi-nya saja konotasinya sudah ke sana, dan yang penting, yang hanya memberikan garansi tiga minggu sampai satu bulan saja! Sedangkan merek Transcend yang sudah saya keceng itu, ternyata memberikan garansi dua tahun, meski harganya tujuh ratus ribuan! (saya lupa persisnya, tapi sekitar itu).
Setelah menimbang-nimbang, saya bulatkan hati untuk membeli dari merek Transcend itu. Ada tiga kapasitas; 1 Giga, 2 Giga, dan 4 Giga. Yang satu gigaan sudah pernah beli, tapi kalau empat giga terlalu besar. Ya sudah, akhirnya saya beli yang 2 Gigaan. Dan seperti yang dipromosikan di website resminya, memang barang ini punya kemampuan merekam yang di atas rata-rata mp3-player :
– Akses cepat untuk merekam – one-touch recording – adanya tombol yang kalau dipencet akan langsung merekam dengan preset yang sudah ditentukan, walaupun dipencetnya dalam keadaan mati.
– Punya colokan line-in, yang berarti bisa merekam via kabel.
– Punya kemampuan kualitas rekam yang tinggi – mp3 player yang biasa hanya bisa merekam dengan kualitas maksimal 32Khz / mono – yang ini bisa sampai 44Khz Stereo (lewat line-in)
– Scheduled recording
– Voice Activation Detection
Yang paling penting adalah, barang ini memberikan garansi selama dua tahun; menjadi bukti yang cukup meyakinkan bahwa produsennya tidak membuat barang yang cepat rusak. Si penjualnya bilang, kalau ada kerusakan tinggal bawa ke sini saja. Nanti ditukar dengan yang baru. Dan saya hampir saja membuktikan hal itu.
T-630 saya tidak diganti, tapi diperbaiki. Suatu ketika, dia nggak mau dideteksi oleh komputer, di-charge juga tidak menunjukkan ada tanda charging, dan di-on-kan sama sekali tidak mau menyala. Saya mulai berpikir, jangan-jangan ini just another Cung Koan stuffs. Saya bawa saja ke tokonya, tapi saya tidak mau ditukar dengan yang baru. Soalnya di dalamnya ada rekaman-rekaman dan beberapa dokumen yang penting. Saya diminta menunggu seminggu, tapi kurang dari seminggu saya sudah ditelpon balik. T-630 saya bisa berjalan normal kembali dan file-file yang ada di dalamnya tetap selamat.
Agak lama berselang setelah itu, saya mengalami lagi hal serupa. Saya agak kesal karena terjadinya adalah persis ketika saya sedang membutuhkan alat perekam. Untung saja masih ada si Lexus LX-01. Saya malas untuk membawa lagi si T-630 ini ke tokonya. Akhirnya saya coba pencet tombol reset yang agak tersembunyi itu. Aha, ternyata jadi jalan lagi!
Karena saya membutuhkan alat ini terutama untuk merekam, saya jadi tidak begitu memperhatikan performa dari fitur yang lain. Tapi saya kira standard-lah, atau barangkali lebih dari rata-rata ? Bisa memainkan mp3 yang sampling rate-nya sampai 320Kbps, ada 20 memory untuk mempreset channel radio, ada preset / user customization equaliser, … Barangkali kalau peruntukan utama barang ini adalah sebagai music playback device, maka kalau fasilitas rekamnya saja sudah bagus banget, bukankah fasilitas playback-nya sudah tentu bagus pula ?
Sampai sekarang saya masih menggunakannya dan tidak menyesal membelinya meski lebih mahal dari rata-rata mp3 player Cung Koan. Berita terakhir, saya sudah meng-update firmware-nya ke versi 1,2, yang meski hanya memperbaiki hal-hal sepele, tapi menjadi bukti bahwa pabriknya masih memberikan support. Semoga ada update firmware lagi.

PLN Main Pukul Rata ?

Kebetulan rumah Istri saya sekarang dalam keadaan kosong, dan kami sekeluarga tinggal di rumah Saya. Rumah yang kosong itu hanya diterangi oleh sebuah lampu listrik yang dipasang di depan rumah dan hanya akan menyala secara otomatis bila sore atau malam hari. Secara akal sehat, penggunaan listrik seperti ini sangat minim dan tentu biayanya per bulan tidak akan terlalu besar. Akan tetapi, yang terjadi adalah sudah tiga bulan ini bayaran listrik untuk rumah itu di atas 100 ribu.
Karena sibuk, saya baru mengurus soal itu baru-baru ini saja. Ternyata, karena rumah itu kosong dan pagarnya dikunci, maka petugas yang biasanya datang untuk mencatat angka meteran tidak bisa masuk. Saya tidak tahu, kalau begini caranya bagaimana PLN menentukan tagihan per bulan untuk pelanggannya ? Saya menduga, PLN banyak menghadapi rumah yang terkunci seperti rumah saya itu. Sudah tiga bulan kemarin saya bayarnya di atas seratus ribu. Saya punya sekurangnya tiga dugaan :
1. Si petugas pencatat asal saja memasukkan angka,
2. Si petugas mencatat bahwa rumahnya terkunci, lalu bagian billing masukkan angka
rata-rata dari bayaran per bulan account saya,
3. (Bisa saja!) Si petugas pencatat kong kali kong dengan bagian billing lalu dengan satu
dan lain cara uang lebihnya masuk ke kantong mereka.
Well, apapun itu, yang jelas saya dirugikan, meskipun sebenarnya saya juga salah karena meteran listrik rumah itu saya buat tidak accessible buat si pencatat. Yang jadi pertanyaan adalah, dari mana PLN bisa mengeluarkan angka tagihan per bulan itu ?
Saya akhirnya telpon ke kantor PLN terdekat. Saya disarankan untuk melaporkan angka bacaan meteran listrik ke 022-6011255 (ke Ibu Euis) setiap tanggal 27 akhir bulan sampai tanggal 2 awal bulan). Saya sudah mencoba itu awal bulan lalu. Dan tagihan listrik untuk rumah itu kemarin hanya Rp 18.540 saja !

Saya putuskan hari ini untuk membaca laporan itu agak teliti. Terlalu banyak kasus orang sudah berkoar-koar, tapi ternyata gak tahu apa yang dikatakannya. Saya tidak mau itu terjadi pada saya.
Saya tidak paham betul dengan common sense yang ada di situ. Malah aneh. Kenapa di awal laporan dinyatakan :
“bahwa kecuali akibat atas hal-hal yang dimuat dalam paragraph sebelumnya, Laporan Keuangan Kota Bandung TA 2004, telah disajikan secara wajar untuk semua hal yang material sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang ditetapkan didalam berbagai peraturan perundangan yang berlaku.”
Apa artinya sesuai dengan Prinsip Akuntansi ? Kenapa dikatakan begitu sedangkan ada 20 butir Catatan Pemeriksaan yang kalau dilihat, sebenarnya melibatkan dana-dana yang tidak jelas ? Pengeluaran yang tidak / belum dipertanggungjawabkan ?
Nama saya ada pada catatan pemeriksaan nomor 15. Yang menyebalkan adalah, di bawahnya ada catatan permakluman tentang kenapa dana sebesar itu dikeluarkan tanpa bukti berupa proposal, yaitu :
“Menurut Sekretaris Daerah Kota Bandung hal tersebut terjadi karena pengarsipan dokumen yang kurang tertib dan terhadap kekurangan bukti akan dilengkapi dengan dokumen yang diperlukan. Pemerintah Kota Bandung akan meningkatkan ketertiban administrasi tersebut untuk masa yang akan datang. ”
Apakah itu bisa dijadikan excuse atau memberi “the benefit of the doubt” bahwa nama-nama yang tercantum di situ tidak terkena kesan / persepsi buruk sebagai penerima dana yang tidak didahului proposal ? Memang mungkin masih terlalu dini untuk menjadi militan soal ini soalnya kalau ada dana keluar yang dipermasalahkan, bukankah yang lebih diperkarakan adalah yang mengeluarkan, bukan yang menerima ? Tapi bukankah juga ada kemungkinan dugaan, bahwa antara yang mengeluarkan uang dan menerima uang terdapat kong kali kong untuk keuntungan masing-masing, sedangkan uang sisa kong kali kong itu baru kemudian diserahkan ke pihak / peruntukan yang semestinya ? Jadi, menurut saya, tetap saja nama-nama di situ bisa terkena kemungkinan kesan / persepsi buruk masyarakat.
Pada kenyataannya, saya dan teman-teman Orari waktu itu menyerahkan proposal, bahkan membuat laporan yang cukup tebal. Kalau sekarang dikatakan bahwa hasil audit itu demikian halnya karena ada masalah dalam hal ketertiban administrasi, dan ini melibatkan individu-individu yang merasa sudah melakukan hal yang benar, maka di sinilah awal di mana keadilan harus ditegakkan. Tapi apakah ini layak diperjuangkan ?
Apakah ini layak diperjuangkan ? Masalahnya ini sudah 3-4 tahun lalu, dan laporan itu sudah diterbitkan dan diterima oleh pihak-pihak lain.
Demikian catatan saya hari ini, … sambil menunggu balasan email dari webmaster BPK. Bye the way, supaya ada backup, laporan itu saya upload ke sini.

Nama Saya di Website BPK :(

Semalam, sambil menunggui istri saya fotokopi, saya iseng browsing pake Nokia 6225 saya; browsing pake Google dan memasukkan nama saya sendiri. Saya terkejut karena nama saya tercantum di sebuah dokumen PDF di website BPK. Saya tidak begitu menggubris itu. Tapi kemudian kepikiran, nama saya tidak terlalu banyak yang punya. Lalu siapa sebenarnya yang ditunjuk oleh nama itu ?
Pagi ini tadi adik saya kirim pesan melalui Yahoo Messenger, dan memberitahu bahwa ada nama saya di sebuah dokumen di website BPK. Saya bilang saya sudah tahu. Saya jadi seperti diingatkan. Lalu saya buka dokumen itu. Kaget juga. Di situ dikatakan bahwa saya adalah termasuk orang-orang yang sudah menerima uang tapi tanpa didukung oleh bukti yang sah berupa proposal. Gila. Kapan saya melakukan itu ?
Lagi-lagi adik saya yang mengingatkan, kalau saya dulu pernah menerima uang dari kantor Walikota Bandung untuk kepentingan Orari, tapi waktu itu saya diminta menandatangani kuitansi kosong. Setelah saya ingat-ingat dan telpon teman yang dulu mengantar saya ke kantor Walikota, ternyata benar. Tahun kejadian itu memang 2004, seperti yang disebutkan dokumen itu.
Saya lalu menulis pengaduan masyarakat yang ada di website BPK. Saya ingin konfirmasi apakah benar nama yang ada di dokumen itu adalah benar-benar saya. Kalau benar, kayaknya saya tidak akan tinggal diam. Soalnya ini menyangkut nama baik saya.
Yang langsung saya tuding-tuding dalam hati sekarang adalah oknum kantor Walikota Bandung. Kenapa waktu itu saya disodorkan cek kosong ? Saya waktu itu tidak tanya-tanya karena sudah dikasih dana saja sudah syukur. Masa saya sampai mempertanyakan kenapa pake cek kosong ? Saya curiga nampaknya bantuan Pak Dada Rosada (YC1ETC) lebih dari 1,5 juta, tapi lalu dipotong oleh bawahannya.
Mungkin ada baiknya saya kirim email ke milis Orari-News tentang ini.

Promosi Flexi: Bukan Jebakan ?

Di televisi sampai sekarang masih ditayangkan iklan promosi Flexi yang dibawakan oleh grup band The Changcuters. Ada beberapa detik muncul pada tayangan itu yang mengatakan bahwa promosi itu “Bukan Jebakan”. Kebetulan sekali saya membaca itu dan jadi teringat apa yang sudah saya batin selama ini. Saya jadi bertanya-tanya, apa betul promosi itu bukan jebakan ?
Persisnya promosi itu begini. Kalau kita mengisi pulsa 50 ribu, misalnya, maka selain kita akan mendapatkan pulsa sejumlah itu, kita juga akan mendapatkan pulsa khusus dan sms gratis sebesar nominal yang kita masukkan. Saya bilang pulsa khusus, karena hanya bisa digunakan untuk nelpon ke sesama flexi atau ke telpon rumah biasa (PSTN). Soal SMS, kalau kita memasukkan pulsa 50 ribu, maka kita diberi 50 SMS gratis ke sesama fleksi atau ke jaringan telpon lain. Ini memang kelihatan seperti murni bahwa Telkom Fleksi sedang berbaik hati. Tapi kalau dilihat lebih kritis, apa betul ini bukan jebakan ?
Saya malah mau bilang, ini adalah jebakan yang sempurna. Yang jadi masalah adalah, ternyata promosi ini hanya berlaku untuk waktu tertentu. Jadi, nanti pada saatnya kalau ketentuannya sudah berakhir, maka para pengguna Fleksi akan harus mendapatkan pulsanya secara biasa. Bayangkan, ketika para penggunanya sudah biasa berleha-leha menggunakan telponnya (karena pulsanya banyak), pada saat itu mereka harus menghadapi kenyataan bahwa pulsanya tidak seperti waktu masa promosi dulu. Pola penggunaan sudah dibiasakan pada situasi di mana pulsa banyak. Yang terjadi mungkin adalah orang terpaksa mengisi dan mengisi pulsa terus.
Cara promosi ini mungkin juga bisa dibayangkan pada layanan-layanan lain yang serba menggratiskan ini itu. Kalau sebelumnya ada istilah social engineering, maka mungkin ini bisa dinamakan individual engineering. Soalnya, yang direkayasa adalah pola pemakaian telpon para individu pengguna Telkom Fleksi. Saya bertanya-tanya apakah dalam teknik marketing modern cara seperti ini ada namanya khusus ?
Saya juga bilang ini adalah jebakan yang sempurna. Orang pasti tertarik pada yang gratis, tapi pada saatnya nanti, orang juga tidak bisa menyalahkan operator karena dia sudah terlanjur punya pola penggunaan yang tinggi.
Saya sendir pake Flexi, tapi berpikir, kalaupun dikasih gratis seperti itu, lalu saya mesti telpon ke mana lagi ? Memang di akhir bulan saya suka mikir, ini pulsa gratis mesti dihabiskan untuk nelpon siapa ?